PERAN BERMAIN DALAM PERKEMBANGAN

Bermain adalah pekerjaan anak. Dalam bermain anak mempraktekkan secara kontinu proses hidup yang rumit dan penuh stress,komunikasi, dan mencapai hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Di situlah mereka belajar tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka, misalnya bagaimana menghadapi lingkungan objek, waktu, ruang, struktur, dan dan orang di dalamnya.
Klasifikasi bermain
Dari sudut pandang perkembangan, pola permainan anak dapat dikategorikan menurut isi dan karakter social.
1. Menurut Isi Permainan
Isi permainan terutama meliputi aspek bermain fisik, meskipun hubungan social tidak dapat diabaikan, kecendrungannya dari sederha ke kompleks.
a. Permainan Sosial-Afektif
Permainan ini membuat bayi merasakan kesenanga dalam berhubungan dengan orang lain. Berbagai cara yang dilakukan orang dewasa yang bisa membuat bayi berespon (seperti bicara, menyentuh, mencium) membuat bayi segera belajar menstimulasi emosi dan merespon orang tua dengan cara tersenyum, mengeluarkan suara, memulai permainan, dan aktifitas.
b. Permainan Rasa-senang
Merupakan pengalaman stimulasi nonsosial yang muncul begitu saja. Objek dalam lingkungan seperti sinar, warna, rasa, bau, dan tekstur menarik perhatian anak, merangsang indra mereka dan memberikan kesenangan. Pengalaman rasa senang berasal ari memegang bahan mentah seperti air, gerakan tubuh seperti diayun, dan dari pengalaman lain yang menggunakan indra dan kemampuan tubuh.
c. Permainan keterampilan
Bayi yang telah mampu menggenggam dan memanipulasi, mereka akan menunjukkan dan melatih kemampuan yang baru mereka kuasai secara terus-menerus dan berulang-ulang. Kemuadian anak akan bertekad untuk berhasil menunjukkan keterampilan sulit yang menimbulkan nyeri dan frustasi, misalnya belajar naik sepeda.
d. Perilaku unoccupied
Anak tidak bermain, tetapi memfokuskan perhatian mereka pada hal yang menarik. Misalnya dengan melamun, memainkan pakian, atau berjalan tampa tujuan.
e. Permainan dramatic (simbolik) atau pura-pura
Permainan ini dimulai pada usia bayi akhir (11-13 bulan) dan merupakan permainan dominan pada anak usia prasekolah (3-6 tahun). Pada tahap ini anak mulai memaknai situasi, manusia, dan dunia. Mainan anak, dan replica benda-benda dapat dijadikan sebagai media untuk memerankan aktivitas orang dewasa misalnya memerankan perang oarng-orang di rumahnya, berperan memakai telepon, menaiki mobil-mobilan, bahkan bisa berkembang pada aspek diluar rumah seperti memerankan peran guru, dokter, perawat dan lain-lain. Aktitas orang dewasa yang mereka perankan terkadang membuat mereka bingung dan stress. Anak yang lebih besar menjalankan tema tertentu, memerankan sebuah cerita, dan menyusun drama itu sendiri.
f. Permainan Game
Permainan yang dlakuakn seorang anak bisa sendirian saja ataupun dengan orang lain. Aktifitas soliter mencangkup permainan yang dimulai ketika anak yang masih sangat kecilberpartisipasi dalam aktifitas repetitive dan berlanjut ke permainan yang lebih rumit yang menatang keterampilan mendiri mereka, seperti menata Puzzle dan bermain kartu. Anak yang sangat muda berpartisispasi dalam permainan imitative sederhana seperi “petak umpet”. Anak prasekolah belajarmenikmati permainan formal yang dimulai dengan permainan pertahanan diri yang ritual dimainkan seperti permainan ring-a-rosy and London Bridge. Anak prasekolah tidak terlibat dalam permainan kompetitif sebab mereka tidak suka dengan kekalahan, akan curang untuk mendat kemenangan, akan berusaha mengubah aturan main, membuat berbagi pengecualian dan kesempatan untuk dirinya. Anak usia sekolah menikmati permainan yang kompetitif seperti bermain catur, dan baseball.

2. Menurut Karakter Sosial Permainan
Interaksi permainan pada masa bayi adalah antara anak dan orang dewasa. Selanjutnya interaksi dengan teman sebaya menjadi hal yang penting dalam sosialisasi. Bayi yang egosentris dan toddler (usia 1-3 tahun) tidak menoleransi penolakan atau penundaan, serta campur tangan.anak usia 5-6 tahun, mampu kompromi dan panengah perselisihan. Tipe-tipe permainannya yaitu:
a. Permainan pengamat
Anak memperhatikan aktifitas dan interaksi anak lain dengan minat aktif tampa terlibat dan berpartisipasi.
b. Permainan tunggal
Anak bermain sendiri dengan mainan yang berbeda dengan anak yang lain ditempat yang sama. Mereka asik sendiri tampa berniat mendekati atau berbicara dengan anak yang lain.
c. Permainan parallel
Anak bermain secara mandiri diantara anak-anak lain dengan mainan yang sama. Mereka tampak kimpak, tetapi tidak saling mempengaruhi, t idak ada assosiasi kelompok, dan tidak bermain bersama
d. Permianan assosiatif
Anak bermain bersama, mengerjakan aktifitas serupa dan sama, tetapi tidak ada organisasi, pembagian kerja, penetapan pemimpin, atau tujuan bersama. Anak meminjam dan meminjami material permainan, saling mengikuti dengan mengendarai wangon, dan sepeda roda tiga. Kadang mengontrol siapa yang boleh bergabung dan siapa yang tidak boleh bergabung dalam kelompok itu.
e. Permainan cooperative
Anak bermain secara berkelompok, mendiskusikan dan merencanakan aktifitas untuk pencapaian akhir. Terdapat rasa saling memiliki dan tidak memiliki yang nyata. Tujuan dan pencapaiannya memerlukan pengorganisaian aktifitas, pembagian kerja dan peran bermian.

FUNGSI BERMAIN
1. Perkembangan Sensorimotor
Aktifitas sensori adalah komponen utama bermain pada semua usia dan merupakan bentuk dominan permainan pada masa bayi. Permainan aktif penting untuk perkembangan otot dan bermanfaat untuk melepas kelebihan energy. Bayi memperoleh kesan tentang diri dan dunia merek amelalui stimulasi taktil, auditorius, visual dan kinestetik. Toddler dan anak prasekolah menyukai gerakan tubuh dan mengesplorasi segala sesuatu di ruangan. Anak yang lebih muda suka berlari, anak yang lebih besar mulai mengembangkan aktifitas yang rumit seperti berlomba, dan naik sepeda.
2. Perkembangan Intelektual
Melalui eksplorasi dan manipulasi, anak-anak belajar mengenali warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan fungsi objek. Mereka belajar tentang angka-angka dan bagaimana cara menggunakannya, mereka bisa menghubungkan kata dengan benda, mengembangkan kemampuan berbahasa, memahami abstrak, hingga hubungan spasial seperti naik, turun, bawah atas.
Ketersediaan materi permainan dan kualitas keterlibatan orang tua adalah dua variable terpenting yang terkait dengan perkembangan koognitif selama mas abayi dan prasekolah (Chase,1994)
3. Sosialisasi
Hubungan social pertama bayi adalah dengan ibu. Dengan bermain dengan anak lain mereka belajar membentuk hubungan social dan menyelesaikan masalah terkait dengan hubungan ini. Mereka belajar member dan menerima, tetapi mereka lebih mendengar kritik dari teman sebaya ketimbang dari orang dewasa. Anak mempelajari yang benar dan yang salah, standar masyarakat dan bertanggungjawab atas tindakan mereka.
4. KreatifitasBermain memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi.mereka bereksperimen dan mencoba ide mereka pada setiap media yang mereka punya. Kreatif biasanya menuntut penyamaaan, sehingga usaha untuk diterima oleh teman sebaya merupakan suatu rintangan upaya kreatif anak sekolah dan remaja.. kreatifitas muncul dari aktifitas tunggal maupun dari pengembangan ide orang lain yang didengar.
5. Kesadaran Diri
Ekplorasi tubuh anak dan kesadarn terpisah dari ibunya , proses identifikasi diri difsilitasi melaluikegiatan bermain. Anak-anak mulai mengenali siapa diri mereka dan dimana posisi mereka. Mereka mulai mengatur tingkah laku sendiri, mempelajari kemampuan sendiri dan membendingkannya dengan kemampuan anak lain. Dalam permaian mereka menguji kemampuan mereka, melaksanakan dan mencoba berbagai peran, dan mempelajari dampak dari perilaku mereka kepada orang lain.
6. Manfaat terapeutik
bermain memberikan sarana untuk melepaskan diri dari ketegangan dan stress yang dihadapi di lingkungannya. Melalui bermain anak dapat mengkomunikasakan kebutuhan, rasa takut, dan keinginan mereka kepada pengamat yang tidak dapat ekspresikan karena keterbatasan keterampilan bahasa mereka.
7. Nilai Moral
Anak belajar tentang benar dan salah di rumah dan sekolah. Selain itu interaksi mereka dengan teman sebaya selama bermain memiliki peran yang penting dalam penbentukan moral mereka. Bila mereka ingin diterima sebagai anggota kelompok, anak harus menaati aturan perilaku yang diterima budaya (mis. Adil, jujur, control diri, dan mempertimbangkan orang lain). Anak segera memperlajari bahwa sebaya mereka kurang toleran terhadap kekerasan dibandingkan orang dewasa dan bahwa untuk mempertahankan tempat dalam kelompok bermain mereka harus menyesuaikan diri dengan standar kelompok tersebut.

MAINAN
Mainan yang sipilih dan diberikan untuk anak dapat memfasilitasi perkembangan mereka. Mainan merupakan replica kecil dari budaya dan alat-alatnya membantu mereka mengsimilasi budaya mereka. Mainan yang memerlukan aktifitas mendorong, menarik, menggulung dan memanipulasi mengajarkan mereka tentang sifat fisika dari benda dan membantu mengembangkan otot dan koordinasi. Aturan dan elemen dasar dari kerja sama dan organisasi dipelajari melalui permainan papan.
Kerena mainan dapat digunakan dalam berbagai cara, bahan mentah mainan yang dapat melatih kreatitas danimajinasi mereka terkadang merupakan bahan yang siap pakai. Misalnya kotak-kotak bangunan dapat digunakan untuk membangun berbagai bentuk, utnutk menghitung, dan mempelajariu bentuk dan ukuran.

Keamanan Mainan
Pemilihan mainan dan alat bermaian adalah upaya bersama antara orang tua dan anak, tetapi evaluasi terhadap keamanannya adalah tanggungjawab orangtua. Lembaga pemerintah tidak mengawasi dan membuat kebijakan tentang semua mainan di pasar. Karenanya orang dewasa yang membeli, mengawasi pembelian, atau mengizinkan anak untuk menggunakan alat bermaian perlu mengevaluasi keamanan alat-alat ini, termasuk mainan yang merupakan hadiah atau maianan yang dibelioleh anak itu sendiri. Mereka juga harus mewaspadai peringatan yang tercantum pada mainan yang tercantum pada mainan yang ditetapkan sebgaai detektif dan diperingatkan oleh pabriknya.

PENINGKATAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR DAN KELUARGA

Penyesuaian terhadap kehidupan ektrauterin
Perubahan fisiologis terberat yang terjadi pada neonates adalah transmisi dari sirkulasi janin atau plasenta ke respirasi independen. Factor-faktor yang mempengaruhi transmisi normal ini atau yang meningkatkan asfiksia (keadaan hipoksemia, hiperkapnia, dan asidosis) janin akan mempengaruhi penyesuaian janin terhadap kehidupan ekstrauterin.
Penyesuaian Segera
1. System respirasi
Perubahan fisiolis yang paling kritis dan segera adalah memulai bernafas yang rangsangannya dapat berasal dari kimia ( ogsigen rendah, karbondiokasida tinggi, dan pH rendah) dan Suhu.
2. System sirkulasi
Perubahan sirkulasi memungkinkan darah mengelir melalui paru. Perubahan ini terjadi akibat perubahan tekanan dalam paru, jantung, dan pembuluh besar transisi dari sirkulasi janin ke sirkulasi pasce kelahiran mencangkup penutupan fungsional pintas janin : foramen ovale, duktus arteriosus, dan duktus venosus.
Status Fisiologis system lain
1. Termoregulasi
Kapasitas produksi panas bayi kucup memadai, tetapi ada beberapa factor predisposisi terjadinya kehilangan panas yang berlebihan pada bayi yaitu area permukaan kulit bayi yang luas, tipisnya kulit bayi merupakan isolasi yangburuk untuk mempertahankan suhu tubuh, mekanisme peningkatan panas bayi melalui menggigil.
2. System hemopoetika
Volume darah bayi baru lahir bergantung pada jumlah darah yang ditrasfer dari plasenta. Volume darah bayi full term sekitar 80-85 ml/kg BB. Segera setelah lahir volume total sekitar 300ml, tetapi bergantung berapa lama bayi melekat pada plasenta dengan penambahan volume darah sebanyak 100 ml.
3. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Perubahan terjadi pada volume air tubuh total. Saat lahir 73%dari BB total bayi adalah cairan dibandingkan dengan orang dewasa sekitar 58%. Proporsional cairan ektraseluler bayi lebih tinggi disbanding orang dewasa yang mengkibatkan kadar natrium dan klorida tubuh lebih tinggi, dan kadar lkalium, magnesium, dan fosfat lebih rendah. Kecepatan perukaran cairan pada bayi 7x lebih cepat disbanding orang dewasa dan laju metabolism dua kali lebih cepat terkait BBnya sehingga asam terbentuk dengan cepat dan mempercepat terjadinya asidosis.
4. System gastrointestinal
Kemampuan bayi baru lahir dalam mencerna, mengabsorbsi dan memetabolisme bahan makanan sudah adekuat, tetapi terbatas hanya pada beberapa fungsi. Enzim sudah adekuat untuk menangani protein dan karbohidrat ssederhana (monosakarida dan disakarida), tetapi propduksi amylase pancreas yang kurang, dapat mengganggu pemakaian karbohidrat kompleks polisakarida).
5. Sistem ginjal
Volume total urin per 24 jam sekitar 200 ml-300 ml pada skhir minggu pertama, akan tetapi saat kandung kemih meragang, terjadi pengosongan kandung kemih secara volunteer sampai volumenya 15 ml, sehingga menyebabkan 20x kencing perhari.
6. System kulit
Pada saat lahir, semua struktur kulit sudah ada, tetapi banyak fungsi kulit masih imatur. Jarak epidermis dan dermis sangat regang dan tipis. Kelenjer sebesea sangat aktif. Kelenjer ini terpusat pada kepala. Wajah, dan genitalia.kelenjer ekrin (keringat) sudah berfungsi saat lahir. Kelenjer apokrin masih belum berfungsi sampai pubertas.
7. System muskulo skeletal
System skeletal mengandung lebih banyak kertilago dari tulang osifikasi. System muscular sudah hampir terbentuk sempurna dimana ukurannya lebih disebabkab oleh hipertropi dibandingkan hiperplasi sel.
8. Pertahanan terhadap infeksi
Pertahanan pertama adalah kulit dan memnbran mukosa. Pertahanan kedua adalah elemen seluler dari system imun sepertineutrofil, monosit, eosinofil, dan limfosit T limfosit B, tetapi respon peradangan jaringan untuk melokalisasi infeksi masih imatur.
9. System endokrin
System endokrin sudah berkembang, tapi fungsinya masih imatur.misalnya lobus posterior kelenjer hipofise menghasilkan hormone antidiuretik (ADH) masih dalam jumlah yang terbatas.
10. System neurologis
Kebanyakan fungsi neurologis berupa refleks primitive. System sarat otonom sangat penting karena saraf ini merangsang respirasi awal, membantu mempertahankan keseimbangan asam basa, dan mengatur sebagian control suhu.
11. Fungsi Sensoris
a) Penglihatan
Fovea sentralis belum berdiferensiasi sempurna, otot similari imatur, pupil bereaksi terhadap cahaya, kelenjer air mata berfungsi usia 2-4 minggu. Kemampuan berfokus bayi pada objek terang atau bergerak berjarak 20 cm. ketajaman penglihatan 20/100 dan 20/400
b) Pendengaran
Tajam pendengaran sama dengan orang dewasa. Neonatus dapat beraksi terhadap suara keras sekitar 90 dB dengan refleks terkejut. Suara frekuensi rendah yang didengar terlihat pada penurunan aktifitas motorik dan menangis. Suara frekuensi tinggi yang didengar diekspresikan dengan sikap waspada.
c) Penghidu
Bereaksi terhadap bau yang keras dengan menoleh. Bayi dapat mengenali bau ASI dari ibunya.
d) Pengecap
Mampu membedakan berbagai rasa. Misalnya jika merasa asam, bibirnya akan mengerut, jika merasa pahit, akn muncul ekspresi kecewa.kuncup pengecap terdistribusi terutama pada ujung lidah.
e) Perabaan
Bayi mampu mengindra sensasi taktil pada seluruh tubuhnya, meskipun tangan dan kaki adalah bagian yang paling sensitive.
PENGKAJIAN KLINIS USIA GESTASIONAL
Pengkajian usia gestasional merupakan criteria penting karena morbiditas dan mortalitas perinatal sangat berhubungan dengan usia gestasional dan berat badan lahir.
Berat badan berhubungan dengan usia gestasional. Usia gestasional lebih berhubungan erat dengan maturitas janin dibandingkan berat badan lahir. Karena herediter mempengaruhi ukuran bayi baru lahir, maka pencatatatan ukuran anggota keluarga lainnya merupakan bagian proses pengkajian.
Bayi yang beratnya cukup untuk u8sia gestasional (antara persentil 10sampai 90) dapat dianggap mengalami pertuymbuhan dengan kecepatan normal tanpa memerhatikan saat kelahiran preterm, term, post term. Bayi yang besar untuk usia gestasional (di atas persentil 90)dapat diaggap mengalami laju pertumbuhan dengan kecepatan tinggi selama kehidupan janin, bayi kecil untuk usia gestasional, (di bawah persentil 90 )dapat dianggap mengalami retardasi atau keterlambatan pertumbuhan intrauterine. Sesudah menentukan usia gestasional sesuai skala Ballard, maka bayi baru lahir akan dikelompokkan menjadi satu dari sembilan kemungkinan kategori berat badan lahir dan usia gestasional.: AGA-term, prterm, postterm(Dodd, 1996). Bayi dengan berat badan lahir 600 g memiliki mortalitas lebih dari 50%, bayi dengan berat badan 1400 g memiliki mortalitas 25-50 % dan bayi dengan barat badan 2750 g memiliki mortalitas kurang dari 4% .
Pengukuran umum. Bayi full term memiliki lingkar kepala rata-rata 33 dan 35,5 cm. Lingkar dada adalah 30,5 sampai 33cm. Lingkar kepala juga dapat dibandingkan dengan panjang mahkota dudukan, atau tinggi duduk. Panjang mahkota dudukan biasanya 31-35cm. severn (1994)menemukan bahwa lingkar kepala neonatus dan panjang mahkota dudukan merupakan alat yang lebih akurat untuk mengidentifikasi bayi beresiko; lingkar kepala nampaknya sama atau lebih besar samai 1cm dari panjang mahkota dudukan pada 62%bayi yang diperiksa dan ditentukan sebagai normosefalik.
Lingkar perut pada bayi baru lahir diukur tepat di atas umbilicus, pada sat tali pusat masih ada. Mengukur lingkar perut di bawah umbilicus tidaklah tepat karena status kandung kemih dapat mempengaruhi pembacaan.
Panjang kepala-tumit juga diukur karena bayi biasanya dalam keadaan fleksi maka harus dilakukanekstensi penuh sebelumnya saat kita akan mengukur panjang badan total. Panjang rata-reata bayi baru lahir adalah 48-53cm.
Timbanglah barat badan segera setelah lahir karena normalnya, neonatus kehilangan berat badan sekitar 10% berat badan lahir pada hari ke 3 sampai 4 karena hilangnya cairan ekstrasel dan mekoneum ayng banyak serta terbatasnya asupan cairan.
Kategori pengukuran lainnya adalah suhu aksilar. Suhu tubuh inti bervariasi sesuai periode reaktifitas namun biasanya sekitar 36,5 sampai 37,6’C. Pengukuran suhu aksila dilakukan 5 menit, sedangkan pengukuran suhu rectal 3 menit.
Denyut nadi dan respirasi bervariasi sesuai periode reaktifitas dan tingkh laku bayi namun biasanya berkisar 120-140 denyut/menit dan 30-60 napas/menit. Keduanya diukur selama 1menit. Denyut jantung diukur secara apical dengan stetoskop, dan arteri femoralis dipalpasi untuk menentukan kekuatan dan isinya.
Pengukuran tekanan darah dianjurkan. Tekanan darah paling mudah dan akurat diukur dengan osilometri (dinamap), meskipun alat ini kurang dapat dipercayai jika tekanahn arteri rerata di bawah 40mmHg. Tekanan osilometrik reratab systole /diastole adalah 65/41 pada usia 1-3 hari. Bandingkan tekanan darah di ekstremitas atas dan bawah yang seharusnya sama.
Keadaan umum. Postur neonatus fullterm selalu fleksi penuh karena posisi inutero. Kebanyakan bayi dilahirkan dengan presentasi puncak kepala disertai fleksi kepala dan daguberada pada dada atas , lengan fleksi dengan tangan menggemgam , tungkai fleksi pada lutut dan ;panggul, dan kaki dorsofleksi. Kolumna vertebralis juga fleksi.
Tingkah laku bayi terutama yang diperhatikan adalah derajat kesiagaan, mengantuk dan iritabilitas, yang merupakan rtanda umum pada masalah neurologis. Hal perlu saat pengkajian adalah:
• Apakah bayi mudah terjaga dengan suara keras?
• Apakah bayi merasa nyaman sat diayun-ayun, disusui, atau dibelai-belai?
• Apakah terlihat adanya periode tidur dalam dan dangkal?
• Ketika terjaga, apkah bayi merasa puas setelah disusui?
• Rangsangn apa yang dapat menimbulkan respon bayi?
• Ketika terganggu bagaimana reaksi bayi?
Kulit. Tekstur kulit bayi baru lahir adalah lembut dan halus, terutama di sekitar mata, tungkai, danaspek dorsal tangan dan kaki dan skotum atau labia. Warnanya berfvariasi bergantung rasdan latar belakang keluarga.
Kepala. Observasi umum mengenaimkontur kepala. Pada kelahiran dengan presentasi puncak kepala, kepala biasanya mendatar pada dahi, dengan puncak meninggi membentuk titik pada ujung tulang parietal, dan oksipital. Kontur kepala yang lebih oval biasanya jelas terlihat pada hari 1 sampai 2 setelah lahir.
Enam tulang: frontalis, oksipitalis, dua parietalis, dan dua temporalis membentuk kranium. Di antara sambungan antara tulang-tulang tersebut melekat pita jaringan ikat yaitu sutura. Di antara sambungan sutura terdapat fontanela.Dua fontanela yang paling tampak pada bayi adalah fontanela anterior dan posterior.
Mata. Sebaiknya kita memeriksa kelopak duluuntuk mengetahui ada tidaknya edema, yang normalnya muncul selama 2 hari pertamasetela persalinan. Perhatikan kesimetrisan mata. Air mata mungkin keluar saat lahir, namun cairan yang keluar dari mata segera setelah lahir adalah abnormal.Untuk melihat struktur perrmukaan mata, bayi dipegang telentang dan kepala sedikit diturunkan. Mata biasanya akan terbuka. Sklera harus terlihat putih dan jernih.
Kornea diperiksa untuk mengetahui adanya kekeruhan atau pengabutan. Refleks kornea normalnya sudah ada saat lahir namun biasanya tidak terlihat kecuali dicurigai adanya kerusakan otak atau mata. Pupil biasanya akan berespons tehadap cahaya dengan berkonstriksi. Pupil normalnya tak segaris. Refleks merah harus diperiksa.
Telinga. Pemeriksaan telinga mencakup posisi, struktur, fungsi pendengarannya. Punck pina biasanya terletak pada bidang horizontal segaris dengan kantus mata. Pemeriksaan otoskop tidak diperlukan karena kanalis terisi verniks kaseosa dan cairan amnion sehingga menyulitkan visualisasi membrane timfani.
Kemampuan pendengaran. Refleks terkejut dpat dilihat saat suara keras mendadak dibunyikan dekat bayi.
Hidung biasanya datar setekah lahir dan memar seringterjadi. Patensi kanalis nasalis dapat dikaji denga menutup mulut dan salah satu lubang hidung dengan tangan dan perhatikan aliran udara melalui lubang yang tidak tertutup Bersin dan mucus encer putih adalah biasa, tetapi jika cairannya kental, berdarah tanpa bersin mungkin menunjukkan adanya hidung buntu karena sifilis bawaan.
Mulut dan tenggorokan. Langit-langit normalnya melengkung tinggi dan agak sempit. Temuan yang sering adalah mutiara Epstein, suatu kista epitel kecil, putih sepanjang kedua sisi garis tengah platum durum.
• Frenulum bibir atas merupakan pita jaringan tebal, merah jambuyang terletak di bawah permukaan dalam bibir atas dan memanjang ke rigi alveooral maksila.
• Frenulum lidah melekatkan sisi bawah lidah di garis tengah antara permukaan ventral liah dan ujung dasar mulut.
Uvula dapat diinspeksi ketika bayi menangis dan dagu ditekan. Jaringan tonsil biasanya tidak terlihat. Gigi natal, gigi yang ada sehjak lahir, sebaliknuya gigineonatal, gigi yang terlepas selama bulan pertama kehidupan.Laporan tentang ada/tidaknya gigi sering dikaitkan dengan abnormalitas perkembangan atau sindrom tertentu, termasuk sumbing celah bibir dan langit-langit.
Leher. Saat mel;akukan pengkajian leher, kepala sebaiknya pada posisi hiperekstensi, sedangkan punggung ditahan dengan posisi agak tegak. Perhatikan kisaran geraknya, bentuk, dan adanya masa tidak norma, dan lakukan palpasi dan bandingkan masing masing klafikula jika ada fraktur.
Dada. Bentuk dada bayi baru lahir hamper selalu bulat. Tulang rusuk sangat lentur. Prosesus Xipoideus biasanya terlihat sebagai tonjolan kecil pada ujung sternum. Sternum biasanya meninggi dan sedikit melengkung. Lakukan insoeksi dada berkenaan dengan ukuran, benuk, dan bentukan, lokasi, dan jumlah puting. Pembesaran payudara sering terlihat pada bayi baru lahir pada hari ke 2 atau ke3 dan disebabkan oleh hormone maternal. Terkadang cairan semacam susu disekresi dari payudara bayi pada akhir minggu pertama. Puting berlebih dapat ditemukan di dada bahkan aksila.
Paru. Pernafasan bayi baru lahir tidak teratur dan abdominal, serta frekuensinya berkisar antara 30 dan 60x/menit. Henti nafas yang kurang dari 20 detik masih dianggap normal. Awalnya nafas bayi kuat, selanjutnya bayi bernapas tenang, dan iramanya teratur. Lakukan auskultasi saat bayi sedang tenang. Bunyi auskultasi harus sama pada kedua sisi yang simetris. Krepitasi segera setelah lahir menunjukkan adanya daerah apru yang mengalami atelektasis.
Jantung. Denyut jantung diauskultasi dengan frekuensi denyutan 100-180x/menit segera setelah lahir dan ketika kondisi bayi stabil, 120-140x/menit. Titik intensitas maksimal (PMI) dapat dipalpasi dan biasanya berada pada rongga interkostal 4-5, sebelah meial dari gais midklavikuler kiri. PMI menunjukkan lokasi jantung, yang dapat bergeser pada keadaan tertentu. Dekstrokardia, suatu anomaly posisi jantung yang terletak di sisi kanan tubuh, organ perut bisa juga terbalik disertai abnormalitas sirkulasi yang mungkin menyertai. Auskultasi komponen spesifik bunyi jantung sangat sulit karena cepatnya denyutan dan efektifnya transmisi suara napas. Akan tatapi, S1 dan S2 harus jelas dan tegas. Bunyi kedua sedikit lebih tinggi dan tajam dibandingyang pertama. Bising sangat sering terdengar pada bayi baru lahir, terutama pada sekitar dasar janung atau di sebelah kiri batas sternumrongga interkostal 3 dan 4.
Abdomen. Kontur normal abdomen adalah silindris dan biasanya menonjol dngan beberapa venayang tampak. Bising usus terdengar dalam 15-20 menit setelah kelahiran. Gelombang gerakan peristaltic dapat terlihat pada bayi kurus.
Lakukan palpasi setelah menginspeksi perut. Hati normalnya teraba 1-3cm di bawah batas kosta kanan.Ujung limpa kadang –kadang dapat diraba, tetapi jika teraba lebih dari 1cm di bawah batas kosta kiri, menunjukkan adanya pembesaran . Palpasi ginjal apabila teraba, setengah bawah ginjal kanan dan ujung ginjal kiri terletak 1-2cm di atas umbillikus. Palpasi denyut femoral normalnya kuat dan sama kanan kiri.
Genitalia femina. Normalnya, labia minora, labia mayora, dan klitoris tampak edema, terutama setelah persalinan presentasi bokong. Normalnya, lubang uretra terletak di belakang klitoris. Himenal tag kadang-kadang terlihat dari muara posterior vagina. Cairan vagina mungklin ditemukan pada minggu pertama kehidupan. Pseudomenstruasi ini merupakan manifestasi penurunan mendadak hormone maternal. Cairan tinja dari muara vagina menunjukkan adanya fistula rektovagina. Verniks kaseosa mungkin terdapat dalam jumlah banyak di antara labia.
Genitalia maskulina. Penis diinspeksi pada lokasi muara uretranya, yang biasanya terletak pada ujung. Akan tetapi , muara bias tertutup oleh prepusium, atau kulup , yang menutupi glans penis. Prepusium ketat jangan diretraksi paksa ; untuk mencari meatus urinarius biasanya bias dilkukantanpa retraksi kulup. Smegma, suatu zat seperti keju,sering ditemukan di sekitar glans penis, di bawah kulup. Lesimkecil, putih, keras (mutiara epitel)ditemukan di ujung prepusium. Ereksi sering terjadi pada bayi baru lahir. Skrotum besar, bengkak, dan menggantung, akan ditemukan pada bayi fullterm, terutama bayi presentasi bokong. Palpasi skrotum harus dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya testis.
Punggung dan anus. Lakukan inspeksi tulang belakang dengan posisi bayi berbaring tengkurap. Bentuk tulang belakang biasanya membulat lembut tanpa tanda khas lengkung –S yang terlihat di kemudian hari. Kantong yang menonjol sepanjang tulang belakang, tersering di daerah sacral menunjukkan beberapa bentuk spina bifida. Sinus kecil, berhubungan dengan tulang belakang adalah sinus pilonidal. Sinus ini biasanya ditutup oleh sejumput rambut. Perhatikan lipatan gluteal pada bayi yang masih telungkup.Adanya muara anus dan keluarnya mekoneum selama 24-48 ajm pertama kehidupanmenunjukkan patensi anal.
Ekstremitas. Periksa kesimetrisan, kisaran gerak, refleks. Hitung jari tangan dan kaki. Kelebihan jari (polidaktili) atau menyatunya jari (sindaktili). Sindaktili parsial pada antara jari kaki dua dan tiga merupakan variasi yang sering terjadi pada bayi normal. Dasar kuku harus berwarna merah jambu, meskipun sedikit kebiruan terlihat pada akrosianosis. Telapak tangan harus memiliki garis-garis. Telapak kaki datar dengan bantalan kaki yang menonjol. Bayi baru lahir akan memperlihatkan kisaran gerak penuh pada sendi siku, panggul, bahu, dan lutut. Gerakan harus simetris, lembut, dan tanpa tahanan.Ketiadaan gerakan lengan menunjukkan potensial paralis cedera kelahiran. Periksa ekstremitas bawah mengenai panjang tungkai, kesimetrisan, dan abduksi serta fleksi panggul.
Dua refleks harus dibangkitkan, yaitu refleks menggenggam, dan refleks babinski.
Sistem neurologist. Pengkajian status neurologist merupakan bagian kritis pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir. Kebanyakan uji neurologist dilakukan selama evaluasi sistem tubuh, seperti membangkitkan refleks local dan mengobservasi postur, tonus otot, dan control kepala serta gerakan.
ASUHAN KEPERAWATAN BAYI BARU LAHIR DAN KELUARGANYA
A. PENGKAJIAN
Bayii baru lahir memerlukan observasi cermat dan terampil untuk memastikan apakah telah tercapai penyesuaian yang memuaskan terhadap kehidupan ekstrauterin. Pengkajian fisik setelah kelahiran dapat dibagi 4 fase :
1. Pengkajian awal menggunakan system scoring APGAR
a. Penilaian awal
Nilai kondisi bayi :
• APAKAH BAYI MENANGIS KUAT/BERNAFAS TANPA KESULITAN ?
• APAKAH BAYI BERGERAK DG AKTIF/LEMAS?
• APAKAH WARNA KULIT BAYI MERAH MUDA, PUCAT/BIRU?
APGAR SCORE
• Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi 5 variabel (pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot & iritabilitas reflek)
• Ditemukan oleh Dr. Virginia Apgar (1950)

Dilakukan pada :
• 1 menit kelahiran
yaitu untuk memberi kesempatan pd bayi untuk memulai perubahan
• Menit ke-5
• Menit ke-10
penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yg rendah & perlu tindakan resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yg rendah berhubungan dg kondisi neurologis
SKOR APGAR
TANDA 0 1 2
Appearance Biru,pucat Badan pucat,tungkai biru Semuanya merah muda
Pulse Tidak teraba < 100 > 100
Grimace Tidak ada Lambat Menangis kuat
Activity Lemas/lumpuh Gerakan sedikit/fleksi tungkai Aktif/fleksi tungkai baik/reaksi melawan
Respiratory Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat


Preosedur penilaian APGAR
• Pastikan pencahayaan baik
• Catat waktu kelahiran, nilai APGAR pada 1 menit pertama dg cepat & simultan. Jumlahkan hasilnya
• Lakukan tindakan dg cepat & tepat sesuai dg hasilnya
• Ulangi pada menit kelima
• Ulangi pada menit kesepuluh
• Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yg sesuai
Penilaian
Setiap variabel dinilai : 0, 1 dan 2
Nilai tertinggi adalah 10
• Nilai 7-10 menunjukkan bahwa by dlm keadaan baik
• Nilai 4 - 6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang & membutuhkan tindakan resusitasi
• Nilai 0 – 3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius & membutuhkan resusitasi segera sampai ventilasi
2. Pengkajian Klinis Usia Gestasional
3. Pengkajian Transisi selama periode reaktivitas
4. Pengkajian fisik sistematis
B. PERENCANAAN
Tujuan bagi bayi dan keluarga adalah sebagai berikut :
1. Bayi akan mempertahankan patensi jalan napas
2. Bayi akan mempertahankan suhu tubuh yang stabil
3. Bayi tidak akan mengalami infeksi atau cedera
4. Bayi akan mendapatkan nutrisi optimal
5. Keluarga akan memperlihatkan tingkah laku keterikatan
6. Keluarga akan menyiapkan diri pemulangan dan asuhan di rumah

C. INTERVENSI
D. IMPLEMENTASI
• Mempertahankan Patensi Jalan Napas
o Sambil menilai pernafasan secara cepat, letakkan bayi dg handuk di atas perut ibu
o Bersihkan darah/lendir dr wajah bayi dg kain bersih & kering/ kassa
o Periksa ulang pernafasan
o Bayi akan segera menagis dlm waktu 30 detik pertama setelah lahir
jika tdk dpt menangis spontan dallakukan :
o letakkkan by pd posisi terlentang di t4 yg keras & hangat
o gulung sepotong kain & letakkan di bwh bahu shg leher bayi ekstensi
o bersihkan hidung, rongga mulut, & tenggorokan by dg jari tangan yg dibungkus kassa steril
o tepuk telapak kaki by sebanyak 2-3x/ gosok kulit by dg kain kering & kasar
Kebiasaan yang harus dihindari
LANGKAH-LANGKAH ALASAN TIDAK DIANJURKAN
Menepuk pantat bayi Trauma/cedera
Menekan dada Patah, pneumothorax, gawat nafas, kematian
Menekan kaki bayi ke bagian perutnya Merusak pembuluh darah dan kelenjar pada hati/limpa, perdarahan
Membuka sphincter anusnya Merusak /melukai sphincter ani
Menggunakan bungkusan panas/dingin Membakar/hipotermi
Meniupkan oksigen/udara dingin pada tubuh/wajah bayi hipotermi
Memberi minuman air bawang Membuang waktu, karena tindakan resusitasi yang tidak efektif pada saat kritis
Penghisapan lendir
• Gunakan alat penghisap lendir mulut (De Lee)/ alat lain yg steril, sediakan juga tabung oksigen & selangnya
• Segera lakukan usaha menghisap mulut & hidung
• Memantau mencatat usaha nafas yg pertama
• Warna kulit, adanya cairan / mekonium dlm hidung / mulut hrs diperhatikan
Mempertahankan Kestabilan Suhu Tubuh
Dengan cara :
• Keringkan bayi secara seksama
• Selimuti bayi dg selimut/kain bersih, kering & hangat
• Tutup bagian kepala bayi
• Anjurkan ibu untuk memeluk & menyusukan bayinya
• Lakukan penimbangan stl bayi mengenakan pakaian
• Tempatkan bayi di lingk yg hangat
Perlindungan dari infeksi dan cedera
• Memberikan obat tetes mata/salep
• diberikan 1 jam pertama by lahir yaitu ; eritromysin 0,5%/tetrasiklin 1%.
• Yang biasa dipakai adalah larutan perak nitrat/ neosporin & langsung diteteskan pd mata bayi segera stl bayi lahir
BBL sangat rentan terjadi infeksi, sehingga perlu diperhatikan hal-hal dalam perawatannya.
• Cuci tangan sebelum & setelah kontak dg bayi
• Pakai sarung tangan bersih pd saat menangani bayi yg blm dimandikan
• Pastikan semua peralatan (gunting, benang tali pusat) telah di DTT, jika menggunakan bola karet penghisap, pastukan dlm keadaan bersih
• Pastikan semua pakaian, handuk, selimut serta kain yg digunakan untuk bayi dlm keadaan bersih
• Pastikan timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop & benda2 lainnya akan bersentuhan dg bayi dlm keadaan bersih (dekontaminasi setelah digunakan)
o Identifikasi
• Peralatan identifikasi BBL harus selalu tersedia
• Alat yg digunakan; kebal air, tepi halus dan tidak melukai, tdk mudah sobek dan tdk mudah lepas
• Harus tercantum ; nama bayi (Ny) tgl lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu
• Di tiap tempat tidur harus diberi tanda dg mencantumkan nama, Tgl lahir, nomor identifikasi
Perawatan mata
o Pemberian Vitamin K
• untuk mencegah terjadinya perdarahan krn defisiensi vit. K
• Bayi cukup bulan/normal 1 mg/hari peroral selama 3 hari
• Bayi berisiko 0,5mg – 1mg perperenteral/ IM
o Pemberian vaksin Hepatitis B (HBV)
o Penapisan/Skrining penyakit pada bayi baru lahir
o Penapisan Pendengaran bayi baru lahir universal
o Mandi
o Asuhan Umbilikus, setelah plasenta lahir & kondisi ibu stabil, ikat atau jepit tali pusat
Cara :
• celupkan tangan yg masih mggnakan sarung tangan ke dlm klorin 0,5% untuk membersihkan darah & sekresi tubuh lainnya
• bilas tangan dengan air matang /DTT
• keringkan tangan (bersarung tangan)
• letakkan bayi yang terbungkus diatas permukaan yang bersih dan hangat
• ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dr pusat dengan menggunakan benang DTT. Lakukan simpul kunci/ jepitkan
• Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat & lakukan pengikatan kedua dg simpul kunci dibagian TP pd sisi yg berlawanan
• Lepaskan klem penjepit & letakkan di dlm larutan klorin 0,5%
• Selimuti bayi dg kain bersih & kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup
Sirkumsisi
Berikan Nutrsi Optimal
o Perbandingan ASI dan Sapi
o Susu evaporasi dan susu formula komersial
o Susu Botol
o Persiapan susu formula
o Jadwal pemberian susu
o Tingkah laku menyusu
Pemberian nutrisi
• Berikan asi seserig keinginan bayi atau kebutuhan ibu (jika payudara ibu penuh)
• Frekuensi menyusui setiap 2-3 jam
• Pastikan bayi mendapat cukup colostrum selama 24 jam. Colostrum memberikan zat perlindungan terhadap infeksi dan membantu pengeluaran mekonium.
• Berikan ASI saja sampai umur 6 bulan
• Peningkatan Hubungan Kelekatan Orang tua – Bayi
o Tingkah laku bayi
o Kelekatan Ibu
o Keterlibatan ayah
o Kelahiran ganda dan anak berikutnya
o Saudara kandung (Sibling)

• Persiapan Pemulangan dan Asuhan dirumah
 Popok basah 6-10 perhari
 Meyusu ASI-bayi puas dan menyusu setiap 1 ½ sampai 3 jam per hari
 Susu formula berhasil,
 Sirkumsisi-cuci hanya dengan air hangat , terbentuk eksudat kuning, tak berdarah, plastibelll utuh dalam 48 jam
 Tinja- paling tidak setiap 48 – 72 jam (susu boto) atau dua sampai tiga perhari ASI
 Warna- Merah jambu samoai kemerahan ketika menangis ; merah jambu sentral ketika istirahat atau tidur
 Aktivitas- empat sampai lima kali periode bangun per hari dan siaga terhadap suara- suara ligkungan
 Tali pusat terletak diatas garis popok , tak berbau, kering,
 Tanda vital : Detak Jantung 120 sampai 140 denyut/ detik pada saat istitrahat, frekunsi respirasi 30 – 55 saat istirahat tanpa bukti retraksi sterna, mengorok atau lubang hidung megar suhu 36,3samapi 37 celcius,
 Posisi tidur- Terlentang
E. EVALUASI
Efektifitas intervensi keperawatan ditentukan oleh pengkajian ulang dan evaluasi asuhan
keperawatan berkelanjutan pada panduan observasi berikut :
1. Observasi warna dan pola pernapasan bayi
2. Pantau suhu aksilar secara teratur, observasi adanya tanda-tanda kedinginan seperrti disters pernapasan
3. Observasi adanya infeksi terutama pada umbilicus atau tempat sirkumsisi periksa pita identetifikasi
4. Pantau berat badan setiap hari
5. Observasi interaksi antara bayi dan anggota keluarga, wawancarai keluarga tentang perasaan mereka terhadap bayi baru lahir
6. Observasi kemampuan orang tua untuk member asuhan kepada bayi , wawancarai orang tua mengenai setiap keprihatinan terhadap asuhan bayi dirumah
7. Observasi cara orang tua menggunakan tempat duduk restrein pengaman di mobil saat dipulangkan

PENGKAJIAN FISIK DAN PERKEMBANGAN ANAK

PENDEKATAN UMUM DALAM MEMERIKSA ANAK
Urutan pemeriksaan
Biasanya mengikuti arah dari kepala sampai kaki (sistematik). Ini berfungsi untuk memberiakn pedoman umum dalam mengkaji setiap daerah tubuh untuk meminimalakn adanya bagian yang terewatkan dalam pemeriksaan.
Persiapan anak
Berikut pedoman umum melakukan pemeriksaan fisik pediatrik:
• Lakukan pemeriksaan di tempat yang tepat dan aman
• Siapkan pencahayaan dan dekorasi yang baik, suhu ruangan yang hangat dan nyaman
• Sediakan permainan anak, jauhkan benda-benda yang ditakuti anak
• Beri privasi, berikan kesempatan pada anak untuk mengenal lingkunganya
• Observasi prilaku anak (bicara dengan perawat, kontak mata, menerima peralatan, sentuhan fisik, kesediaan dipariksa)
• Gunakan teknik tertentu jika ada tanda ketidaksiapan pada anak atau menolak bekerjasama
• Kaji alasan prilaku penolakan tersebut
• Libatkan anak dan orangtua
• Gunakan pendekatan yang tepat, nyaman, efektif, lembut dan menenangkan bagi anak, mulai dengan cara yang nyaman
• Lakukan aktivitas yang dapat ditampilkan sperti permainan pada pemeriksaan ( teknik boneka kertas, simon says, gambaran tubuh)
• Jika ada beberapa anak, mulailah pemeriksan dari anak yang paling kooperatif
• Libatkan anak ( beri pilihan, izinkan mencoba peralatan, dukungan, dan jelaskan prosedur)
• Periksa anak dalam posisi yang nyaman, lakuakn dengan sistematis dan meyakinkan
• Diskusikan hasilnya dengan keluarga
• Puji anak atas kerjasamanya selama pemeriksaan
Namun, pendekatan yang digunakan bervariasi terhadap anak, sesuai kategori usiaagar didapatkan hasil pengkajian yang tepat sesuai umur anak.

PEMERIKSAAN FISIK
Pengukuran pertumbuhan(panjang,tinggi,berat badan,ketebalan lipatan kulit,lingkar lengan lingkar kepala)
Pegukuran pertumbuhan fisik pada anak elemen kunci dalam evaluasi status kesehatan anak.parameter pertumbuhan fisik meliputi: berat badan ,tinggi badan,ketebalan lipatan kulit,lingkar lengan dan lingkar kepala.nilai untuk perameter pertumbuhan ini telah digambarkan dalm grafik persentil,dan pegukuran anak dlam persentil dibandingkan dengan populasi secara umum.Evaluasi pertumbuhan secara keseluruhan memerl;ukan penilaian dalam interpretasi persentil pertumbuhan.secara umum anak yang tinggi dan berat badannya dibawah 3 atau diatas persentil 95 harus dipantau denagn tepat.
Anak yang mungkin mengalami masalh dalm pertumbuhan mencangkup:
1. Anak yang persentil berat badan dan tyinggi badan dangant berbeda(mis anak yang persentil 10 dan berat badan diatas 90,khususnya dengan ketebalan lipatan kulit yang berada di atas rata -rata)
2. Anak yang gagal menunjunkakan laju pertumbuhan,khususnya selama periode pertumbuhan cepat pada masa bayi dan pada masa remaja.
3. Anak yang menunjukkan peningkatan,kecuali selama pubertas atau penurunan tiba-tiba pada pola pertumbuhan yang stabil sebelumnya.
Panjang
Istilah panjang dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan ketika anak telentang ()juga dinyatakan sabagai panjang pada saat berbaring ).sampai anak berusia 24 bulan).dilakukan pengukuran panjang pada saat berbaring.ekstensikan tubuh bayi secara penuh dengan cara:
1. Pegang kepala bayi pada garis tengahnya
2. Pegang kedua lutut sengan lembut
3. Tekan lutut kebawah sampai kaki betul-betul ekstensi dan rata denagn meja
Agar pengukuran benar-benar akurat pegang alat tulis dengan sudut tegak lurus terhadap meja ketika menan dai titik safalik:posisikan kaki dengan jari-jari kaki mengarah kelangit-langit ketika menendai titik tumit.
Tinggi
Istilah tinggi dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan ketika anak berdiri tegak.tiggi diukur dengan cara meminta anak,melepas sepatu,berdiri setegak dan detinggi mungkin,dengan kepala pada garis tengah dan garis pandang sejajar dengan langit-langit atau lantai.pastikan pubggung nanak menempel pada dinding atau permukaan datar lain,deanan tumit,pantat dan bagian belakang bahu menyentuh dinding.agarmendapatkan pengukuran yang paling akurat gunakan stadiometer.
Berat Badan
Berat badan diukur dengan timbangn yang sesuai,yang mengukur barat badan yang sesuai,yang mengukur berat badan sampai nilai yang mendekat dengan 10 gr atau 15 gr atau bayi 100 gr atau
125 gr untuk anak –anak.timbangn berfariasi dalam hal keakuratannya:timbang bati cenderung lebih akurat dari timbangn orang dewasa dan timbangan baru cenderung lebih akurat dari pada timbangan lama,khususnya pada timbangn yang lebih berat.ketika diperlukan penimbangna yang benar-benar tepat,dua perawat harus melakukan penimbangan secara terpisah dan jika terdapat perbedaan,penimbangn ketiga harus dilakukan.lakukan penimbangn pada ruangan tang hangat dan sejuk.
Ketebalan Lipatan Kulit Dan Lingkar Lengan
Lingkar lengan adalah pegukuran tidak langsung terhadap masa otot.peangukuran berat badan dan tinggi badan cenderung tidak dapat membedakan antara jaringan adiposa atau otot.suatu pengukuran lemak maka pegukuran yang tepat dapat dilakukan dengan pegukuran etebalan lipatan kulit yang sudah semakin diharapkan sebagi pemeriksaan rutin.pegukuran lingkar lengan mengikuti proseder yang sama denga pengukuran ketebalan lipatan kulit kecuali pengukuran titik tengah sengan menggunakan sehelai kertas atau meteran logam.letakkan meteran secara vertikal,sepanjang bagian posterior lengan atas ke proseseus okromial dan ke prosesus olekranon:setengah dari panjang hasil pengukuran adalah titik tenghnya.
Lingkar Kepala
Ukur linkar kepala pada anak sampai berusia 36 bulan dan pada anak –anak yang mengalamai masalah pada ukuran kepalanya.karena bentuk kepala dapat mempengaruhi lokasi lingkaran yang maksimum,maka perlu melakukan pengukuran lebih dari satu kali pad titik di atas alis mata untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih akurat.gunakan selembar kertas untuk meteran logam karena meteran yang terbuat dari kain dapat meregang dan memberikan pengukuran yang salah.supaya hasil pengukuran benar-benar kaurat gunakan alat pengukur dengan skala yang lebih kecil 0,1 cm kerena grafik persentil hanya berskala 0,5 cm.
Pengukuran Fisiologis
Pegukuran fisiologis,elemen kunci dalam mengevaluasi status fisik fungsi vital,mencangkup suhu,nadi,pernafasan dan tekana darah.seperti sebagian besar prosedur yang digunakan pada anak,anak yang lebih besar dan remaja diperlukan hampir sama denan orang dewasa.untuk mendapatkan hasil terbaik dalam megukur tanda fital pada bayi,pertama hitung dulu pernafasanya,selanjutnya hitung denyut nadi dan terakhir ukur suhu.
Suhu
Suhu dapat di ukur pada beberapa tempat di tubuh melalui rute oral,rektal,aksila,kulit atau membran timpani.suhu normal tubuh adalah 37 C(96 F)melalui rute oral.secara tradisional telah diasumsikan bahwa suhu rektal lebih tinggi 1 F dan suhu aksila lebih rendah 1 F dibandingkan suhu oral.
Nadi
Nadi yang teraba lebih kuat dapat diukur secara radial pada bayi dan anak yang lebih kecil denyut apikal.agar keakuratan lebih tinggi ukur frekuensi denyut apikal ketika anak sedang tidur catat perilaku anak bersamaan dengan frekuensi jantung.
Pernafasan
Hitung frekuensi pernafasan dengan cara seperti pada pasien dewasa.walaupun demikian pada bayi obserfasi pergerakan abdomen karena pernafasan bayi terutama adalah pernafasan diagfragma.
Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah dengan metode yang nonivasif adalah bagian dari penentuan tanda vital.rutin alat ukur metode pengukuran TD yang paling umum menggunakan auskultasi dan sfingmomanometer air raksa atau aneroid.

PENGKAJIAN PENAMPILAN UMUM
Merupakan kesan subjektif dan kumulatif penampilan fisik anak, status nutrisi, prilaku, kepribadian, interaksi dengan orangtua dan perawat, postur tubuh dan perkembangan, serta kemampuan bicara.
• Perhatikan mimic tau ekspresi wajah dan penampilan
• Observasi postur, posisi, dan tipe pergerakan tubuh menandkan adanya kelainan fungsi mtubuh dan keadaan mental
• Perhatikan hygiene anak ( bau tubuh, rambut, leher, kuku, gigi, kaki dan pakaian)
• Perhatikan gambaran tubuh untuk menandakan nutrisi
• Amati prilaku anak ( aktivitas, stress, sikap, permintaan, interaksi dengan orang lain, respon terhadap stimulus dan tingkat kesadaran :
1. compos mentis : kesadaran penuh dengan memberikan respon cukup terhadap stimulus yang diberikan
2. apatis : acuh tak acuh terhadap keadaan skitar
3. somnolen : kesadaran yang lebih rendah, tidak responsive terhadap rangsangan ringan
4. sopor : anak tidak memberikan respon ringan maupun sedang
• perkembangan dikaji dengan observasi dan verifikasi kesan dengan tes skrining
• catat perkiraan kemampuan bicara anak, motorik, derajat koordinasidan area pencapaian terbaru dalam penampilan umum.

KULIT
• Warna normal pada anak berkulit putih bervariasi dari putih susu dan kemerahan sampai warna merah. Anak berkulit gelap, atau kulit hitam mewarisi berbagai warna cokelat, merah, kuning, hijau muda, dan kebiru-biruan.
• Tekstur kulit anak yang masih kecil sangat halus, agak halus, dan tidak berminyak atau lembap.
• Suhu, rasakan setiap bagian tubuh secara simetris dan bandingkan bagian tubuh atas dengan bawah. Catat adanya perbedaan suhu.
• Turgor jaringan/tingkat elastisitas kulit dengan cara menarik kulit abdomen antara telunjuk dan ibu jari, menariknya menjadi satu dan lepaskan dengan cepat. Jaringan yang elastic akan kembali normal dengan cepat. Pada anak dengan turgor kulit yang buruk, kulit akan tetap bertahan ketika ditarik selama beberapa detik sebelum kembali ke abdomen. Turgor kulit salah satu cara untuk memperkirakan hidrasi dan nutrisi yang adekuat.
Struktur Asesorius
Inspeksi dapat dilakukan ketika kulit sedang diperiksa atau ketika mengkaji kulit kepala dan ekstremitas.
• Inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, dan elastisitas rambut. rambut pada anak biasanya berkilau, halus, kuat, dan elastis. Faktor genetik mempengaruhi penampilan rambut, rambut kulit hitam lebih kasar dan keriting dari rambut kulit putih. Catat adanya titik-titik kebotakan atau penipisan rambut. hilangnya rambut pada bayi dapat mengindikasikan bahwa bayi tersebut selalu berbaring pada posisi yang sama.
Inspeksi rambut dan kulit kepala untuk mengetahui kebersihan secara umum. Periksa apakah ada lesi, kulit bersisik, adanya kutu atau tungau, tanda-tanda trauma seperti ekimosis, massa, atau jaringan parut.
Pada anak yang mendekati masa puneritas,perhatikan pertumbuhan rambut sekunder. Munculnya rambut yang terlalu cepat atau lambat menunjukkan adanya disfungsi hormonal ataupun masalah besar bagi remaja yang matang terlalu dini atau terlambat.
• Inspeksi warna, bentuk, tekstur, dan kualitas kuku. Normalnya kuku berwarna merah muda, konveks, halu, dan keras tetapi fleksibel (tidak mudah patah), ujungnya biasanya berwarna putih, harus meluas di atas jari.
• Setipa orang memiliki garis tangan dan kaki yang berbeda polanya atau dermatoglipik. Telapak tangan normalnya menunjukkan tiga buah lengkungan garis tangan. Pada sindrom Down, dua garis horizontal distal membentuk satu garis horizontal (garis telapak tangan tunggal /garis transpalmar).

KELENJAR LIMFE
Palpasi kelenjar dengan menggunakan bagian distal jari dan secara lembut namun tegas, tekan dengan gerakan melingkar sepanjang letak normal kelenjar tersebut. Selama pengkajian kepala dan leher, angkat kepala anak sediikit ke atas tetapi tanpa meregangkann otot sternokleidomastoideus atau trapezius. Posisi ini memfasilitasi palpasi nodi submental, submaksila, tonsil, dan servikal.
Palpasi nodi aksila dengan cara lengan relaks pada sisi tubuh tetapi agak abduksi . Kaji nodi inguinal pada anak dengan posisi telentang. Catat ukuran, mobilitas, suhu, dan nyeri tekan, juga laporan orang tua tentang adanya perubahan pembesaran kelenjar. Kelenjar yang normal kecil, tidak nyeri, dan hangat. Kelenjar yang terasa nyeri, membesar, dan dapat digerakkan menandakan adanya infeksi atau inflamasi ynag dekat dengan lokasi kelenjar.
KEPALA DAN LEHER
• Observasi bentuk dan simetris kepala secara umum. Tanda asimetris biasanya abnormal dan dapat mengindikasikan penutupan prematur sutura (kraniosinostosis).
• Catat kontrol kepala pada bayi dan postur kepala pada anak yang lebih besar.
• Evaluasi rentang gerak dengan meminta anak yang lebih besar untuk melihat ke setiap arah atau secara manual lakukan pada anak yang lebih kecil. Keterbatasan rentang gerak mengindikasikan adanya wryneck atau tortikolis akibat cedera otot sternokleidomastoideus.
• Palpasi tulang tengkorak untuk mengetahui kepatenan tulang sutura, ubun-ubun, fraktur, dan pembengkakan. Normalnya ubun-ubun belakang menutup pada bulan kedua dan ubun-ubun kecil menyatu antara usia 12-18 bulan. Catat jika penutupan terlalu cepat atau terlalu lambat.
• Observasi kesimetrisan, pergerakan dan penampilan umum wajah. Minta anak untuk mengeksresikan wajahnya untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan atau mengetahui derajat paralisis.
• Inspeksi ukuran leher dan palpasi leher untuk mengetahui struktur yang berhubungan. Normalnya, leher pendek de3ngan lipatan kulit antara kepala dan bahu selam masa bayi.

MATA
Inspeksi struktur ekterna
• Inspeksi penempatan kelopak yang tepat pada mata. Ketika mata terbuka, kelopak mata harus ada dekat iris. Ketika mata tertutup, kelopak mata harus menutupi kornea dan sklera. Tentukan lengkungan secara umum dari kelopak mata dengan cara menggambar garis imajiner melalui titik di kantus medial dan orbit luar mata dan segariskan setiap mata pada garis ini.
• Inspeksi konjungtiva, normalnya konjungtiva terlihat merah muda dan mengkilap. Striasi vertikal yang berwarna kuning di sepanjang tepinya disebut meibomian/kelenjar sebasea, dekat dengan folikel rambut.
• Catat adanya air mata yang berlebihan, keluaran, inflamasi pada organ lakrimal.
• konjungtiva bulbar, yang menutupi mata sampai bagian limbus atau taut kornea dan sklera harus transparan. Sklera harus jernih. Kornea harus jernih dan transparan. Catat kekeruhan karena dapat menjadi tanda perlukaan atau ulserasi yang dapat mengganggu penglihatan. Periksa kekeruhan dengan cara mengarahkan sinar dari sudut.
• Bandingkan ukuran, bentuk, dan pergerakan pupil. Kedua pupil harus berbentuk bundar, jernih, dazn sama. Uji reaksi pupil terhadap cahaya dengan menyinari mata secara cepat dan segera memindahkancahaya tersebut. Periksa resapon akomodasi dengan meminta anak melihat pada objek yang terang dan bersinar pada jarak tertentu dan dengan cepat gerakkan objek ke arah wajah. Normal pemeriksaan pupil, PERRLA, Pupil, Equal (sama), Round (bundar), React to light (reaksi terhadap cahaya), Accomadation (akomodasi).
• Inspeksi warna, ukuran, bentuk, dan kejernihan iris dan pupil. Amati lensa mata, normalnya lensa mata tidak dapat terlihat melalui pupil.
Inspeksi strutur interna
• Mempersiapkan anak. Tunjukkan instrumen pada anak, mendemonstrasikan sumber cahaya, dan bagaimana benda tersebut menyinari mata, dan jelaskan alasan ruangan harus gelap. Untuk bayi dan anak-anak yang masih kecil yang tidak berespons terhadap penjelasan tersebut, cara terbaik melakukan distrakksi untuk mendorong anak agar tetap membuka matanya. Inspeksi pembuluh darah, makula, atau diskus optik.
• Pemeriksaan funduskopi. Fundus segera tampak sebagai refleks merah. Intensitas warna meningkat pada individu yang memiliki pigmen kulit gelap.
- diskus optikus, normalnya, merah muda kekunig-kuningan, bundar, dan oval vertikal.
- Pembuluh darah, vena berwarna lebih gelap dan empat kali lebih besar dari arteri. Cabang arteri dan vena saling menyilang satu sama lain.
- Makula, memiliki reseptor penglihatan dengan konsentrasi paling besar, di pusat makula ada fovea sentralis, suatu titik yang memantulkan cahaya, merupakan area penglihatan yang paling sempurna.
Uji penglihatan
• Kesegarisan okular.
- Uji refleks cahaya, sorotkan cahaya dari oftalmoskop langsung ke arah mata pasien dai jarak sekitar 40,5 cm(16 inci). jika mata oftorik.normal, cahaya akan jatuh secara simetris pada setiap pupil. Jika cahaya tidak jatuh di pusat salah satu mata, berarti mata tidak segaris.
Lipatan epikantius, lipatan kulit berlebihan yang meluas dari bagian atas hidung ke ujung bagian dalam alis dan sebagian atau seluruhnya tumpang tindih dengan kantus mata bagian dalam, dapat menimbulkan kesan ketidaksegarisan palsu (pesudostrabismus).
- Uji tutup mata, salah satu mata ditutup, dan pergerakan mata yyang terbuka diobservasi ketika anak melihat suatu benda pada jarak dekat (33 cm/13 inci) atau jauh (6 m/20 kaki). Jika mata yang terbuka tidak bergerak, berarti mata segaris. Jika mata yang terbuka bergerak, terdapat ketidaksegarisan karena ketika mata yang lebih kuat ditutup sementara, mata yang tidak segaris akan memfokuskan objek tersebut.
- Uji buka tutup, penutup digerakkan ke depan dan ke belakang dari satu mata ke mata yang lain, dan pergerakan mata yang tertututp diobservasi segera setelah penututp dipindahkan ketika anak memfokuskan pada satu titik di depannya. Jika kesegarisan normal, perpindahan penutup dari satu mata ke mata lain tidak menyebabkan mata bergerak.
- Pada anak yang lebih tua, uji stereoskopi acak titik-E dapat digunakan untuk menguji stereoakuitas (persepsi kedalaman).
• Uji ketajaman penglihatan pada anak setelah masa bayi
- Snellen Chart, terdiri atas deretan huruf dengan ukuran yang semakin mengecil, anak berdiri 3 meter dari Snellen Chart dengan tumit pada garis 3 m. Mata kanan diperiksa terlebih dahulu.
- Uji E terbalik/HOTV, untuk anak yang tidak mampu membaca huruf atau angka
- Sistem skrining penglihatan untuk anak prasekolah, menggunakan E yang sudah dimodifikasi menyerupai burung dan cerita tentang Blackbird.
• Uji ketajaman penglihatan pada bayi dan anak yang sulit untuk diuji
Pada bayi barru lahir, penglihatan diuji terutama pada pemeriksaan persepsi cahaya dengan menyorotkan sinar ke arah mata dan mencatat respons seperti kontraksi pupil, berkedip, atau penolakan.
• Penglihatan perifer
Perkirakan pandangan perifer atau lappang pandang setiap mata dengan meminta anak untuk memusatkan pandangan pada satu titik tertentu secara langsung di depan mereka sebagai suatu objek, seperti tangan atau pensil, digerakkan dari luar lapang pandang ke dalalm rentang penglihatan perifer
• Penglihatan warna
Uji Ishihara dan uji Hardy-Rand-Rittler. Setiap uji terdiri dari seri kartu
(pseudoisokromatik) tempat terdapat lapang warna yang berisi titik-titik waerna tertentu yang membingungkan.
TELINGA
INSPEKSI STRUKTUR EKSTERNA
Keseluruhan daun telinga eksterna disebut pina atau aurikula dan terletak pada kedua kepala. Ukur kesegarisan tinggi pina dengan cara menggambar garis imajiner dari orbital luar mata ke oksiput, atau bagian yang paling menonjoil dari tulang tengkorak. Inspeksi permukaan kulit di sekitar telinga untuk mengetahui adanya lubang kecil, tonjolan tambahan kulit, atau sinus. Kaji juga hygiene telinga. Otoskop tidak diperlukan untuk melihat saluran telinga eksterna untuk mengetahui adanya serumen. Cegah perpindahan material yang potensial dapat menginfeksi telinga lain atau anak lain dengan cara mencuci tangan dan menggunakan speculum sekali pakai.
INSPEKSI STRUKTUR INTERNA
Posisi anak : sebelum memulai pemeriksaan otoskop, posisikan anak dengan tepat dan lakukan restrein jika diperlukan. Ketika anda memasukkan speculum ke dalam meatus, gerakan speculum di sekitar telinga bagian luar untuk membiasakan anak merasakan sesuatu yang memasuki telinganya. Untuk perlindungan dan keamanan, bayi dan toodler harus direstrein untuk pemerikssaan otoskop. Jika anak kooperatif, periksa telinga dengan anak dalam posisi tidur miring, duduk atau berdiri
Pemerisaan otoskop : ketika anak memasuki speculum ke dalam saluran eksterna, inspeksi didinding saluran, warna membrane timpani, reflek cahaya dan bentuk tonjolan tulang yang biasa pada telinga tengah.
UJI PENDENGARAN
Beberapa jenis uji pendengaran telah tersedia. Beberapa uji tersebut, seperti pemeriksaan audiometric, melibatkan alat khusus yang mengukur derajat hilangnhya pendengaran. Uji lainnya seperti reflek kejut pada neonates adalah estimasi kasar dari persepsi suara. Perawat harus melakukan pemeriksaan berdasarkan tingkat kecurigaan yang tinggi untuk anak yang dapat mengalami kehilangan pendengaran.

HIDUNG
INSPEKSI STRUKTUR EKSTERNA
Bandingkan penempatan dan kesegarisannya dengan cara menggambarkan garis vertical imajiner dari titik pusat di antara mata kebawah samapai pada bagian lengkung di bibir atas. Hidung harus terletak tepat secara vertika pada garis ini, dengan setiap sisi sama simetris. Catat lokasi hidung , adanya deviasi pada salh satu sisi dan asimetris pada ukurannya secara keseluruhan dan diameter dari nares. Observasi alae nasi apakah ada tanda-tanda pernafasan cuping hidung, yang menandakan kesulitan dalam bernafas.

MULUT DAN TENGGOROKAN
Pada anak yang kooperatif, hamper semua pemeriksaan mulut dan tenggorokan dapat dilakukan tanpa menggunakan spatel lidah. Minta anak membuka mulutnya lebar-lebar, menggerakan lidah kea rah yang berbeda untuk visualisasi penuh, dan mengatakan ahh yang dapat menekan lidah untuk melihat secara penuh bagian belakang mulut. Untuk melihat mukosa mulut minta anak menggunakan jarinya untuk menggerakan bibir dan pipi bagian luar ke salah satu sisi.
Lakukan pemeriksaan ini pada bagian akhir pemeriksaan fisik atau lakukan pemeriksaan ini selama anak menangis. Tempatkan spatel lidah disepanjang sisi lidah, bukan pada daerah tengah belakang yang dapat merangasang reflek muntah. Bibir harus simetris ketika relaks atau tegang. Kaji kesemetrisan pada saat anak bicara atau menangis.

DADA
Inspeks dada untuk mengetahui ukuran, bentuk, kesismetrisan, pergerakan, perkembangan payudara, dan adanya gamabaran tulang pada dada yang dibentuk oleh sternum dan tulang iga.
Rangka iga terdiri dari atas 12 tulang iga dan sternum, atau tulang payudara, yang terletak dibagian tengah dada. Sternum terdiri atas 3 bagian utama. Manubrium bagian teratas dari sternum dapat dirasakan pada bagian dasar leher pada takik suprasternal. Segmen yang paling besar pada sternum adalah korpusternum, yang membentuk sudut sterna (sudut Louis) ketika korpus sternum berartikulasi dengan manubrium. Pada bagian ujung korpus sternum, terdapat prosesus yang kecil dan dapat digerakan yang disebut xifoid. Sudut tepi kostae yang menempel pada sternum disebut sudut kostae dan normalnya sekitar 45 sampai 50 derajat. Struktur tulang ini merupakan kontur penting dalam lokasi kosta dan ruang interkostal.
Ruang interkostal adalah ruang diantara tulang iga. Ruang-ruang tersebut diberi nomor bedasarkan tulang iga yang tepat berada diatasnya. Sebagai contoh, ruang yang berada dibawah iga ke dua adalah ruang interkostal kedua.
Rongga toraks juga diberi kedalam beberapa segmen dengan cara menggambar garis imajiner pada dada dan punggung.
Ukur ukuran dada dengan cara menempatkan pita pengukur disekeliling rangka dada pada garis putting. Agar keakuratnya tinggi, lakukan dengan dua pengukuran, yang pertama selama inspirasi dan kedua selama ekspirasi, dan catat rentang kedua pengukuran tersebut. Ukuran dada sangat penting, terutama dalam membandingkanya denga lingkar kepala. Selalu laporkan disproporsi nyata karena hal ini sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan kepala yang abnormal, walaupun bias saja akibat dari perubahan bentuk dada, seprti barrel chest (bentuk dada bundar) atau pigeon chest ( sternum menonjol keluar).
Selama masa bayi, bentuk dada hamper sirkuler , dengan diameter anteroposterior (depan kebelakang) sama dengan diameter transversal, atau lateral (dari sisi ke sisi). Ketika anak tumbuh, dada secara normal meluas kea rah transversal, yang menyebabkan diameter anteroposterior lebih kecil daripada diameter lateral.. catat sudut yang dibuat oleh batas iga bagian bawah dan sternum, dan palpasi taut antara tulang iga dan kartilago kostae (costochondral junction) dan sternum, yang harus benar-benar terasa halus. Pergerakan dinding dada harus simetris bilateral dan terkoordinasi dengan pernafasan. Selama inspirasi dada terangkat dan mengembang, diafragma menurun, dan sudut kostae meningkat. Selam ekspirasi dada turun ukuranya mengecil, disfragma naik dan sudut kostae menyempit.
Ketika menginspeksi permukaan kulit dada, obsevasi posisi putting serta tanda-tand perkembangan payudara. Secara normal, putting susu terletak sedikit lateral dari garis midclavikula antara kosta keempat dan kelima. Perhatikan kesismetrisan posisi putting dan bentuk aerola yang berpigmentasi lebih gelap disekeliling putting yang datar pada anak prapubertas.
Perkembangan payudara pada prapubertas biasanyya dimulai antar usia 10 dan 14 tahun pada anak perempuan. Catat perkembangan payudara yang terlalu cepat(prekoks) atau terlalu lambat , juga tanda-tanda perkembangan karakeristik sekual sekunder yang lainya. Pada laki-laki, pembesaran payudara (ginekomastia) dapat disebabkan oleh jaringan adipose akibat obesitas atau perubahan tubuh sementara selama masa pubertas awal. Dalam kedua situasi ini, selidiki perasaan anak tentang pembesaran payudaranya.
Pada remaja perempuan yang telah mencapai kematangan seksual, palpasi payudara apakah ada masa atau nodula yang keras. Gunakan kesempatan ini untuk mendiskusikan pentingnya pemerikasaan payudara sendiri secara rutin. Tekankan bahwa sebagiaan besar massa yang dapat dipalpasi adalah jinak untuk menurunkan ras ketakutan atau kekhawatiran yang terjadi saat teraba massa.

PARU
Paru terletak dalam rongga toraks dengan satu paru pada setiap sisi sternum. Setiap paru terbagi menjadi satu apeks, yang agak meruncing dan agak tinggi dari iga pertama, basal paru, yang lebar dan cembung serta menempel pada diafragma yang berbentuk lengkungan setengah lingkaran, dan lobus paru yang dibagi kedalam lobus-lobus. Paru kanan terdiri atas tiga lobus atas, tengah, bawah. Paru kiri hanya memiliki dua lobus atas dan bawah, karena ruangnya disii oleh jantung.
Inspeksi paru terutama meliputi observasi pergerakan pernafasan, seperti yang dibahas sebelumnya. Evaluasi kecepatan (jumlah permenit), irama (teratur, tidak teratur atau periodic), kedalaman (dalam atau dangkal), dan kualitas pernapasan (tanpa usaha, otomatis, sulit atau dengan usaha). Perhatikan karakter bunyi nafas, seperti suara berisik, suara yang rendah dan kasar, mendengkur atau berat.
Evaluasi pergerakan pernapasan dengan meletakan kedua telapak tangan mendatar pada bagian punggung atau dada ke dua ibu jari berada pada garis tengah sepanjang pinggir iga bagian bawah paru. Anak harus duduk selama prosedur ini dan jika kooperatif, anak harus menarik nafas dalam beberapa kali. Selama pernapasan, tangan anda akan bergerak seiring dinding dada. Kaji jumlah dan kecepatan selama pernapasan dan perhatikan apakah ada ketidak simetrisan pergerakan.
Pemeriksa yang berpengalaman dapat melakukan perkusi pada paru. Paru anterior diperkusi dari bagian apeks ke basal paru, biasanya dengan anak pada posisi telentang atau posisi duduk. Setiap sisi dada diperkusi dengan urutan yang sesuai untuk membandingkan bunyinya. Ketika paru posterior diperkusi, prosedur dan urutanya sama, walaupun anak harus duduk. Resonansi terdengar pada semua lobus paru yang tidak berada dekat organ lain. Adanya deviasi suara dicatat dan dilaporkan.
Auskultasi
Auskultasi melibatkan penggunaan stetoskop untuk mengevaluasi suara nafas. Suara napas paling baik di dengar jika anak menarik napasa dalam. Pada paru, suara napas diklasifikasikan sebagai vesikuler, bronkovesikuler, atau bronchial.
Tidak ada atau menghilangnya suara napas selalu merupakan temuan abnormal yang memerlukan penyelidikan. Cairan, udara, atau massa padat pada rongga pleural dapat mengganggu konduksi suara napas. Hilangnya suara napas pada beberapa segmen paru dapat mewaspadakan perawat tentang area-area paru yang dapat dilakukan fisioterapi dada. Penigkatan suara napas setelah terapi pulmonal menandakan peningkatan aliran udara melalui traktus respiratorius.
Berbagai abnormalitas pulmonal menghasilkan suara napas tambahan yang normalnya terdengar pada dada. Suara ini dapat terjadi selain suara napas normal atau abnormal. Suara napas tambahan diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar yaitu : ronki basah, yang diakibatkan oleh aliran udara melalui cairan atau bagian yang lembab, dan mengi, yang dihasilkan dari aliran udara melalui jalan napas yang menyempit, tanpa memerhatikan penyebabnya, seperti eksudat, inflamasi, spasme, atau tumor. Praktik yang banyak yang didampingi oleh tutor yang berpengalaman diperlukan untuk membedakan berbagai tipe suara napas. Selalu laporkan jika ada suara abnormal untuk evaluasi medis lebih lanjut.

JANTUNG
Jantung terletak dalam rongga toraks diantara paru dada mediastinum dan diatas diafragma. Sekitar dua pertiga bagian jantung terletak di dalam sisi kiri rongga dada, dengan satu pertiga bagian pada bagian kanan melewati sternum. Jantung diposisikan dalam toraks seperti trapezium.
a. Secara vertical sepanjang batas sternum kanan dari iga kedua sampai kelima
b. Secara horizontal (sisi panjang) dari sternum kanan bagian bawah dari iga ke lima pada garis midklavikula kiri
c. Secara diagonal dari batas sterna kiri pada iga kedua sampai LMCL pada iga kelima
d. Secara horizontal (sisi pendek) dari RSB dan LSB pada ruang intercostals ke dua bagian basal jantung

Inspeksi paling baik dilakukan pada anak yang duduk dalam posisi semi fowler. Perhatikan dinding dada anterior dari suatu sudut, bandingkan kedua sisi rangka dada satu sama lain.. secara normal, keduanya harus tampak simetris. Lakukan palpasi untuk menetukan lokasi impuls apical, impuls jantung paling lateral yang dapat berhubungan dengan apeks. Al ditemukan :
a. Tepat pada bagian lateral pada MCL kiri dan ICS ke empat pada anak berusia ,<7tahun
b. Pada MCL kiri dan ICS ke lima pada anak >7 tahun
Auskultasi
Asal bunyi jantung dihasilkan dari pembukaan dan penutupan katup dan vibrasi darah pada dinding jantung dan pembuluh darah. Normalnya, dua bunyi S1 dan S2 dapat terdengar, yang secara berurutan berhubungan denga suara “lub dub” yang sering digunakan untuk menggambarkan bunyi tersebut. S1 disebabkan penutupan katub trikuspidalis dan katup mitral (kadang-kadang disebut katub antrioventikuler). S2 adalah hasil pentupan katup pulmonal dan katup aorta (kadang-kadang disebut katup semilunaris). Normalnya pembagian dua suara dalam s2 dapat dibedakan dan diperlebar selam inspirasi.
Pembagian fisiologis adalah hasil temuan normal yang signifikan.
Membedakan bunyi jantung normal
Secar normal s1 lebih kuat terdengar dibagian apeks jantung pada area mitral dan trikuspidalis, dan s2 lebih kuat terdengar dekat dengan bagian basis jantung pada area pulmonal dan aorta. Dengarkan setiap bunyi pada setiao inci kea rah bawah pada dada. Area-area berikut ini juga harus diauskultasi apakah ada bunyi seperti murmur, yang dapat menyebar pada daerah ini : area sternoklavikula di atas klavikula dan manubrium, area sepanjang batas sternum, area sepanjang garis midaksilaris dan area dibawah scapula.
Auskultasi jantung anak minimal pada dua posisi, duduk dan setengah duduk. Evaluasi bunyi jantung terkait dengan kualitas, intensitas, frekuensi dan irama.

PENGKAJIAN PADA ABDOMEN
Pemeriksaan abdomen meliputi inpspeksi, diikuti dengan auskultasi, kemudian palpasi. Lakukan palpasi terakhir, karena hal tersebut dapt mengganggu bunyi normal abdomen.
Rongga abdomen terbagi atas 4 kuadran dengan cara menggambar garis vertical pada bagian tengah dari sternum sampai simfisis pubis dan garis horinzotal melalui abdomen ke umbilicus. Setiap daerah dinamai sebagai berikut:
• Kuadran kiri atas ( Left upper quadrant/LUP)
• Kuadran kiri bawah (Left lower quadran /LLQ)
• Kuadran kanan atas (Right upper quadran (RUP)
• Kuadran kiri bawah ( Right Lower quadran /RLQ)
1. Inpeksi
Inspeksi konter abdomen dengan anak pada posisi tegak dengan telentang. Normalnya, abdomen bayi dan anak yang masih kecil cukup silindris dan dalam posisi tegak, agak menonjol karena lordosis fisiologis spinal. Tonjolan pada garis tengah dari xifoid ke umbilicus atau simfisimpubis biasanya adalahDiastasis Rekti, atau kegagalan muskulus rektus obdominalis untuk bersatu dalam uterus.
2. Auskultasi
Temuan yang paling penting untuk didengarkan adalah peristaltis atau bising usus yang bunyinya seperti logam pendek beradu dan seperti orang berkumur. Frekuensi bising usus 5 kali/menit. Bising usung dapat distimulasi dengan cara menggetarkan permukaan abdomen dengan kuku jari tangan.
3. Palpasi
Dua tipe palpasi dilakukan: Supersisial dan dalam. Pada palpasi superficial , dengan lembut tempatkan tangan pada kulit dan rasakan setiap kuadran, perhatikan adanya area yang terasa nyeri, tonus otot, dan lesi superficial, seperti kista.
Palpasi dalam digunakan untuk melakukan palpasi organ dan pembeluh darah besar dan mendeteksi massa serta nyeri tekan yang tidak dapat ditemukan selama palpasi superficial.Palpasi biasanya dimulai pada kuadran bawah dan terus keatas untuk menghindari tidak terpalpasinya bagian tepi hati, atau lipa yang membesar.

GENITALIA
1. Genitalia Pria
Catat penampilan eksterna glans dan dan bagian penis, perpisium, meatus uretra, dan skrotum. Penis umumnya kecil pada bayi dan anak laki-laki sampai masa puberitas, .
Periksa glans penis dan batang penis ( Bagian antara perineum dan prepusium) apakah ada tanda-tanda pembengkakan, lesi kulit, inflamasi, atau ketidakteraturan lainnya.
Lokasi Meatus uretra diinpeksi secara hati-hati dan apakah ada tanda-tanda keluaran. Normalnya meatus uretra terletak pada bagian tengah glans penis.
Distribusi rambut juga harus diperhatikan. Normalnya, sebelum puberitas tidak ada rambutr pubis yang tumbuh.
Lokasi dan ukuran skrotum juga diperhatikan. Skrota menggantung secara bebas dari perineum dibelakang penis, dan skrotum kiri normalnya tergantung lebih rendah daripada yang kanan.
2. Genitalia Perempuan
Pemeriksaan genitalia perempuan terbatas pada inspeksi dan palpasi struktur eksterna. Jika pemeriksaan vagina diperlukan, rujukan yan tepat harus dibuat kecuali jika perawat memiliki kualitas untuk melakukan prosedur tersebut.
• Genitalia eksterna: inspeksi struktur, tempatkan anak pada posisi setengah bersandar pada orang tua dengan lutut fleksi dan telapak kaki saling bersebelahan
 Mons pubis: bantalan lemak diatas simpisis pubis, pada remaja tertutup rambut, distribusi rambut biasanya adalah triangular
 Klitoris: terletak pada ujung anterior labia minora tertutup oleh lipatan kecil kulit (prepusium).
• Labia: palpasi adanya massa
 Labia mayora: dua lipatan tebal kulit membentuk mons pada komisura posterior, permukaan dalam merah muda dan lembab
 Labia minora: dua lipatan kulit interior pada labia mayora, biasanya dapat dilihat sampai pubertas, menonjol apda bayi baru lahir.S
• Metus uretra: inspeksi terhadap lokasi, seperti bentuk V dengan meregangkan kearah bawah dari litoris ke perineum
• Orifisium vaginalis: pemeriksaan interna biasanya tidak dilakukan, inspeksi terhadap lubang sebelumnya. Terletak apada posterior meatus uretra, dapat tertutup oleh memran berbentuk sabit atau sirkuler (himen), rabas biasanya jernih atau sirkuler.
ANUS
• Inspeksi penampilan umum, kondisi kulit
• Bokong: lipatan padat, lipatan gluteal simetris
• Reflek anal: munculkan dengan mengerutkan atau meregangkan area perianal dengan perlahan. Kontraksi cepat sfingter anal eksterna, tidak ada protusi rekstum.
Pengkajian Punggung dan Ekstremitas
Spina
Kelengkungan umum spina diperhatikan. Normalnya bagian punggung bayi baru lahir adalah bulat atau berbentuk huruf C dari lengkung toraks dan pelvik. Perkembangan kurvatura servikal dan lumbal memperkirakan perkembangan dari motorik, seperti kurvatura servikal dengan kontrol kepala, dan menciptakan bentuk lengkungan S ganda yang khas pada anak yang lebih tua. Skoliosis, kurvatura lateral spinal, merupakan masalah penting pada masa kanak-kanak, terutama pada anak perempuan. Walaupun skoliosis dapat diidentifikasi dengan mengobeservasi dan mempalpasi spinal serta memperhatikan pergeseran kearah samping, uji yang lebih objektif meliputi :
1. dengan anak pada posisi berdiri tegak dan hanya mengenakan pakaian dalam. Observasi dari belakang, perhatikan ketidaksimtrisan bahu dna pinggul.
2. dengan anak membungkuk kedepan sehingga punggung paralel dengan lantai, observasi dari samping, perhatikan adanya ketidaksimetrisan atau tonjolan rangka iga.
Berjalan sedikit pincang, bagian bawah lipatan rok/celana panjang miring, atau keluhan sakit punggung merupakan tanda dan gejala lain dari skoliosis.
Inspeksi bagian punggung, terutama sepanjang spina apakah ada kumpulan rambut, tahi lalat, atau pemucatan. Mobilitas kolumna vertebralis dapat dengan mudah dikaji pada sebagian besar anak karena mereka cenderung melakukan gerakan yang konstan selama pemriksaan.
Ekstremitas
Inspeksi kesimetrisan panjang dan ukuran masing-masing ekstremitas; rujuk setiap deviasi untuk evaluasi ortopedik. Hitung jumlah jari tangan dan kaki untuk memastikan jumlahnya normal. Adanya jari tambahan (polidaktili) atau fusi jari (sindaktili).
Inspeksi suhu dan warna lengan dan kaki, yang harus sama pada setiap ekstremitas, walaupun kaki normalnya lebih dingin dari pada tangan. Kaji bentuk tulang. Beberapa variasi bentuk tulang dapat diobservasi pada anak.
Bowleg/Genu Varum, adalah melengkungnya tibia kearah lateral. Hal ini dapat dilihat ketika anak berdiri dengan posisi maleoli medial (tonjolan bundar pada kedua sisi pergelangan kaki) berlawanan satu sama lain dan jarak diantara lutut lebih besar kira-kira 5cm.
Knock–knee atau Genu Valgum, tampak berlawanan dengan bowleg. Pada genu valgum lutut saling mendekat satu sama lain tapi tidak terpisah jauh. Hal ini ditentukan secara klinis dengan menggunakan metode yang sama dengan genu varum tetapi dengan mengukur jarak diantara maleolus, yang normalnya kurang dari 7,5cm. Knock-knee normalnya terjadi pada anak sekitar usia 2 sampai 7 tahun.
Selanjutnya inspeksi kaki. Kaki bayi dan toodler tampak datar karena kaki normalnya lebar dan lengkungannya ditutupi oleh lapisan lemak.
Observasi refleks plantar atau menggenggam dengan memberikan tekanan kuat tapi perlahan-lahan dengan ujung ibu ibu jari pada bagian lateral telapak kaki bayi dari tumit sampai kelingking kemudian ke ibu jari kaki. Respon normal pada anak yang berjalan adalah fleksi jari-jari kaki. Tanda Babinski, dorsofleksi ibu jari dan pengembangan jari-jari yang lain seperti kipas, merupakan hal yang normal terjadi selam masa bayi tetapi abnormal setelah usia 1 tahun atau ketika lokomotorik dimulai.
Sendi
Evaluasi sendi untuk mengetahui rentang geraknya. Normalnya hal ini tidak menuntut pemerikasaan fisik jika perawat telah mengobservasi pergerakan anak selama pemeriksaan. Palpasi sendi apah ada rasa panas, nyeri tekan, dan pembengkakan. Tanda-tandanya selalu kemerahan.
Otot
Perhatikan kesimetrisan dan kualitas perkembangan otot, tonus, dan kekuatan otot. Observasi perkembangan dengan cara melihat bentuk dan kontur tubuh baik dalam kondisi relaksasi maupun kondisi tegang. Perkirakan tonus dengan menggenggam otot dan merasakan kekuatanya ketika otot relaksasi dan konstraksi. Lokasi yang umum untuk memeriksa tonus otot adalah otot bisep lengan. Anak biasanya bersedia untuk menunjukan ototnya dengan cara mengepalkan tangannya.
Perkirakan kekuatan dengan cara meminta anak menggunakan ekstremitas untuk mendorong atau menarik suatu tahanan.
Pengkajian Neurologis
Fungsi Serebral
Sereblum mengontrol keseimbangan dan koordinasi. Banyak pengkajian fungsi serebral digunakan dalam mengobservasi postur anak, pergerakan tubuh, gaya berjalan dan perkembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
Uji fungsi serebral :
1. uji jari kehidung
Dengan lengan anak terbuka lebar, minta anak untuk menyentuh hidungnya dengan menggunakan jari telunjuk dengan mata terbuka kemudian tertutup.
2. uji tumit ke tulang kering
sambil berdiri minta anak untuk menggerakkan tumit salah satu kaki kearah bawah tulang kering atau bagian anterior tibia tungkai lainnya baik dengan mata terbuka kemudian tertutup, minta anak berdiri.
3. uji romberg
dengan mata tertutup minta anak berdiri dengan tumit menempel satu sama lain, jatuh atau miring ke salah satu sisi adalh abnormal dan disebut tanda romberg.
Uji koordinasi dengan meminta anak untuk meraih suatu mainan, kencing baju, tali sepatu atau menggambar garis lurus pada selembar kertas.
Refleks
Pengujian refleks adalah bagian penting dari pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan refleks dilakukan dengan menggunakan palu refleks berkepala karet, bagian datar jari, atau samping tangan. Jika anak mudah takut dengan peralatan, gunakan tangan atau jari anda.
Refleks tendon dalam merupakan refleks peregangan dari suatu otot. Refleks tendon yang paling umum adalah hentakan lutut atau refleks patela (refleks quadrisep).
Saraf kranial
Pengkajian saraf kranial merupakan area pengkajian neurologis penting.


Pengkajian Perkembangan Denver II
Kuesioner Perkembangan Praskrining Denver II (Denver II Prescreening Developmental Questionare {PDQ-II})
PDQ-II adalah revisi lebih lanjut dari PDQ dan R-PDQ. Versi ini menggunakan standar-standar (persentil ke-90 dan ke-75) dari DENVER II. PDQ-II adalah jawaban praskrining orang tua yang terdiri atas 91 pertanyaan dari DENVER-II, walaupun hanya satu bagian pertanyaan yang ditanyakan untuk setiap kelompok usia. Formulir tersebut mungkin perlu dibaca orang tua atau pemberi perawatan yang kurang berpendidikan.
Empat usia berbeda tersedia dan diseleksi berdasarkan usia : jingga (0 sampai 9 bulan), ungu (9 sampai 24 bulan), krem(2 sampai 4 tahun), putih (4 sampai 6 tahun). Jawaban pertanyaan pemberi perawatan sampai (1) tiga kali ‘tidak’ dilingkari (tidak perlu berurutan) atau (2) semua pertanyaan pada semua sisi formulir telah di jawab. Pemberian skor berdasarkan jumlah keterlambatan atau peringatan.
Skoring DDST II
Interpretasi skor DDST II
Lanjut—Butir secara keseluruhan dilewati pada sebelah kanan dari garis usia ( dilewati oleh kurang dari 25% anak pada usia yang lebih tua daripada usia anak ).
OK—Butir yang dilewati, gagal, atau menolak bersilangan dengan garis usia pada atau diantara persentil ke-75
Peringatan—Butir yang gagal atau ditolak bersilangan dengan garis usia pada atau diantara persentil ke-75 dan ke 90.
Terlambat—Butir secara keseluruhan gagal, dilewati pada sebelah kiri garis usia juga dapat dianggap, terlambat, karena alasan menolak mungkin akibat ketidakmampuan melakukan tugas.
Interpretasi Uji
Normal—tidak ada keterlambatan dan maksimal hanya ada satu peringatan
Dicurigai—Satu atau lebih keterlambatan dan/atau dua atau lebih peringatan
Tidak dapat diuji—Menolak satu atau lebih butir seluruhnya pada sebelah kiri garis usia atau lebih dari satu butir yang bersilangan dengan garis usia pada area 75% sampai 90%.
Rekomendasi Perujukan pada Uji yang Mencurigakan atau yang Tidak Dapat Diuji
Lakukan uji ulang 1 sampai 2 minggu untuk menyingkirkan factor-faktor sementara.
Jika hasil skrining ulang tetap mencurigakan atau tidak dapat diuji, gunakan penilaian klinis berdasarkan hal-hal berikut ini jumlah peringatan dan keterlambatan; butir mana yang menjadi peringatan dan keterlambatan; tingkat perkembangan masa lalu, pemerikasaan klinis dan riwayat, ketersedian sumber-sumber rujukan.
Skrining Perkembangan dan Interpretasi
Walaupun uji skrining merupakan metode yang efektif dalam menerapkan pengetahuan tentang laju perkembangan yang diharapkan dari anak untuk segmen populasi yang luas, uji tersebut hanya akan berhasil jika diberikan oleh individu yang berpengalaman dalam memberikannya. Karena banyak uji skrining merupakan alat yang dibuat untuk digunakan oleh tenaga terlatih bantuan, terdapat resiko yang terkadang dalam skrining jika individu-individu tersebut tidak terlatih atau tidak diawasi secara tepat.
Perawat yang memberikan skrining perkembangan atau mengawasi pemeriksaan oleh tenaga terlatih bantuan, perlu mengkaji gambaran keseluruhan anak dan tidak hanya mengandalkan prosedur skrining. Perkembangan seperti halnya pertumbuhan dan kesehatan, adalah suatu proses dinamis. Tes Denver II sebaiknya digunakan sebagai bagian dari Surveilans Perkembangan, suatu pendekatan perawatan kesehatan primer yang komperhensif dan terus menerus yang melibatkan orang tua sebagai mitra para profesional (Frankenburg, 1994b). Evaluasi kesejahteraan total anak adalah hasil evaluasi data riwayat kesehatan dan keluarga yang komperhensif, pemeriksaan fisik, dan skrining perkembangan.

KOMUNIKASI DAN PENGKAJIAN KESEHATAN ANAK DAN KELUARGA

KOMUNIKASI
Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media. Komunikasi dapat berbentuk verbal, nonverbal, atau abstrak.
KOMUNIKASI VERBAL
KEKUATAN KATA : Dengan belajar mengenali bagaimana pasien dan professional kesehatan menggunakan bahasa untuk memanipulasi kenyataan, seseorang juga dapat belajar tentang bagaimana mengubah persepsi dan berkomunikasi secara lebih efektif.
BAHASA PENGINDRAAN: Bahasa penghindraan mengindikasikan bahwa seseorang ingin menyembunyikan sesuatu, terutama pertasaannya. Akibatnya, sikap menerima seseorang menggunakan kalimat eufenisme hanaya akan membiarkan rasa takut tetap berlanjut dan tidak pernah membantu orang tersebut menghadapinya.
BAHASA PENGALIHAN :Bahasa pengalihan digunakan untuk melindungi individu dari kenyataan atau situasi menyakitkan ketika suatu topic terlalu menyakitkan untuk dibicarakan.
KOMUNIKASI NONVERBAL
PARALANGUAGE
Pesan juga dapat disampaikan secara nonverbal, atau paralanguage melalui nada suara, jeda, intonasi, kecepatan, volume, dan penekanan dalam berbicara. Paralanguage merupakan petunjuk yang sangat berharga terhadap perasaan dan perhatian seseorang. Bahkan anak-anak tertentu, berespons dengan penuh perhatian pada suara yang lambat, sama, dan teratur.
Perilaku Responsif dan tidak responsive
Individu berespons satu sama lain melalui perilaku responsive, seperti menganggukkan kepala, menggunakan kontak mata langsung, mengulangi atau meminta klarifikasi, dan mengeluarkan komentar yang sesuai, atau perilaku tidak responsive, seperti mengetuk-ngetukkan jari, berbalik dari pembicara, menghindari kontak mata, dan menginterupsi (Seidel dkk, 1999).

PEDOMAN UNTUK KOMUNIKASI DAN WAWANCARA
Metode komunikasi dengan orang tua berdasarkan profesionalisme yang paling banyak digunakan adalah proses wawancara. wawancara merupakan suatu bentuk spesifik komunikasi yang mengarah pada tujuan. Ketika perawat berbicara dengan anak-anak dan orang dewasa, mereka berfokus pada individu untuk menentukan orang seperti apa mereka, model penyelesaian masalah yang biasa mereka gunakan, bantuan diperlukan dan cara mereka bereaksi terhadap konseling.
MENETAPKAN SUATU RUANG LINGKUP UNTUK KOMUNIKASI
1. Perkenalan yang tepat
Perkenalakan diri kepada anggota keluarga yang hadir. Sebutkan orang tua atua orang dewasa lain dengan sebutan yang sesuai, seperti “bapak atau Ibuk” kecuali mereka menyukai dengan sebutan lain. Catat nama yang disenangi dalam rekan medic.
2. Peran klarifikasi dan penjelasan pada wawancara
Selama perkenalan, penting untuk mengklarifikasi peran khusus perawat dalam ruang lingkup perawat misalanya, perawat yang melakukan wawancara dapat merupaka praktisi perawa pediatric, staf perawat diruang rawat inap, perawat klinik an perawat kantor, perawat kunjungan atau perawat sekolah.
3. Pendekatan awal
Untuk membuat keluarga merasa nyaman dan mengembangkan hubungan saling percaya, awalai wawancara dengan beberapa percakapan umum.
4. Menjamin privasi dan kerahasiaan
Lingkungan fisik harus semaksimal mungkin untuk menunjang privasi, dengan tetap meminimalkan distraksi seperti interupsi, kebisingan atau aktifitas lain yang terlihat.
PRIVASI KOMPUTER DAN APLIKASI DALAM KEPERAWATAN
Privasi dan keamanan informasi kesehatan ini telah menjadi perhatian besar sepanjang asuhan kesehatan komunitas. Setiap orang yang mengakses informasi kesehatan yang bersifat rahasia dituntut untuk melakukan pengelolaan keamanan untuk menjaga kerahasiaanya. Dua aplikasi kesehaan yang penting adalah :
a. pengiriman catatan, termasuk faks dan email
b. tele medicine ( pengobatan jarak jauh), merupakan kemampuan konferensi video dua arah, transmisi hasil radiografi, dan konsultasi klinis antara lokasi setempat dengan sumber-sumber sentralnya.
TRIASE TELEPON DAN KONSELING
Tanggung jawab perawat semakin meningkat untuk mengkaji gejala-gejala dan penilaian klinis anak guna asuhan medis lebih lanjut (triase) via laporan telepon. Paling sering masalah kesehatan dikaji dan di prioritaskan berdasarkan urgensi, dan penanganan diberikan melalui pelayanan telepon.
KOMUNIKASI DENGAN KELUARGA
Komunikasi dengan Orang Tua (Mendorong Orang Tua untuk Berbicara)
Menawarkan kesempatan untuk menentukan status kesehatan dan perkembangan anak, dan informasi tentang factor yang mempengaruhi kehidupan anak.
Mengarahkan Fokus
Menggunakan pertanyaan terbuka atau luas, diikuti dengan pertanyaan yang mengarah pada focus pertanyaan.
Mendengarkan dan Kesadaran Budaya
persepsi perawat terhadap prilaku orang tua dipengaruhi oleh persepsi, prasangka, dan asumsi mereka sendiri, yang dapat melibatkan stereotip, ras, agama dan budaya.
Menggunakan Teknik Diam
Diam memungkinkan orang yang diwawancarai menyeleksi pikiran dan perasaan dan mencari respon-respon terhadap pertanyaan.
Bersikap Empati
Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dialami oleh orang lain dalam kerangka acuan orang tersebut.
Mendefenisikan Masalah
Untuk sampai pada penyelesaian masalah, perawat dan orang tua harus sepakat bahwa memang ada suatu masalah.
Menyelesaikan Masalah
Orang tua yang dilibatkan dalam proses penyelesaian masalah cenderung untuk terus mengikuti berbagai tindakan yang dilakukan.
Memberikan Pedoman Antisipasi
Secara tradisional, pedoman antisipasi telah difokuskan pada penyediaan informasi untuk keluarga tentang pertumbuhan dan perkembangan normal, juga praktik pemeliharaan anak.
Menghindari Hambatan Komunikasi
Banyak hambatan berasal dari pewawancara, seperti membicarakan nasihat yang tidak terbatas atau membentuk kesimpulan sebelum jelas bukti-buktinya.
Berkomunikasi dengan Keluarga melalui Penerjemah
Dalam kasus ini penting untuk mendapatkan informasi melalui pihak ketiga, seorang penerjemah. Pedoman khusus untuk menggunakan seseorang penerjemah dewasa terdapat dalam kotak pedoman.

BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK
Hal yang sangat membantu dalam upata aktif berteman dengan anak adalah berbicara dengan anak dan orang tua tetapi berbicara tentang aktifitas yang tidak melibatkan anak secara langsung sehingga memberi kesempatan pada anak untuk mengobservasi dari posisi yang nyaman.hindari posisi maju yang tiba-tiba cepat,tersenyum lebat,kontak mata yang lama,atau gerakan tubuh yang dapat dilihat sebagai tindakan mengancam.
KOMUNIKASI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERKEMBANGAN PROSES BERFIKIR
1. Tahap periocutionary :perilaku komunikasi yang tidak terarah
2. Tahap illotionary :tujuan yang benar dalam upaya komunikasi yang terarah
3. Locutionary:perilaku komunikasi yang terarah dan menggunakan simbol-simbol (Hoge dan parette,1995)
• Masa Bayi
Bayi menagis dan berguman ketika merasa kenyang dan menagis ketika mengalami tekanan.tangisan dicetuskan oleh stimulus yang tidak menyenangkan dari dalam atau dari luar,deperti lapar,nyeri, pengekanagn tubuh atau kesepian
• Masa Kanak –Kanak Awal
Anak-anak berusia kurang dari 5 tahun bersifat egeosentris.oleh kerena itufokuskan komunikasi pada mereka . pengalaman orang lain tidak menarik bagi mereka menggunakan penganlaman anak lain sebagai upaya untuk menperoleh kerja sama anak yang sangat kecil akan sia-sia.
• Masa Sekolah
Anak usia sekolah memiliki tingkat kekhawatiran terhadap integritas tubuhnya.anak terlihat sangat sensitif terhadap segala sesuatu yang sianggap mengancam atau yang menjadi indikasi yang akan mengancam tubuhnya.
• Masa Remaja
Ketika anak memasuki usia remaja,pemikiran dan operilaku mereka berflutasi pada masa anak dan masa orang dewasa.mereka tumbuh dewasa dengan cepat menuju kearah kematangan yang mungkin melampaui kemampuan koping mereka.
TEHNIK KOMUNIKASI
Berbagai tehnikverbal dapat digunakan untuk mendukung komunikasi.tehnik lain dapat disajikan melelui “permainan kata-kata”,yang sering di terima dengan baik oleh anak-anak dan orang dewasa,membicarakan perasaan mereka adalahhal yang sulit dan komunikasai verbal juhstru dapat lebih menegangkan darim pada mendukung.
TEHNIK KOMUNIKASI YANG KREATIF DENGAN ANAK
• Tehnik Verbal
Pesan “saya”
Hubungkan perasaan tentang sesuatu perilaku dengan kata “saya” uraikan efek perilaku pada seseorang.hindari penggunaan kata “kamu”karena terkesan menghakimmi dan menimbulkan sikap defensif.contoh
Tehnnik Orang Ketiga
Melibatkan pwengekspresian suatu perasan dengan mengunakan kata ganti lorang ketiga (“ia””mereka’). kurang mengancam dibandingkan menanyakan secara langsung bagaimana perasan mereka kerena tehnik inin memberi kesempatan bagi mereka untuk setuju atau tidak setuju tanpa menjadi defensif.
Memfalitasi Respons
Formula untuk memfasilitasi respon :”kamu merasa karena-----“contoh jika anak menyatakan,”saya benci datang kerumah sakit dan mendapat suntikan,”respon fasilitatifnya adalah,”egkau merasa tidak bahagia karena semua hal yang dihadapkan pada mu”
Tehnik Bercerita
Gunakan bahasa anak untuk masuk ke dalam area pemikiran mereka sambil melewati hambatan-hambatan atau rasa takut yang disadari.
Saling Bercerita
Mengungkapkan pemikiran anak dan berupaya untuk mengubah persepsi atau rasa takut anak dengan menceritakan kembali cerita yang berbeda.
Biblioterapi
Menggunakan buku dalam proses terapeutik dan suportif memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi suatu kejadian yang mereka alami dengan versi berbeda agar anak tidak terlalu terfokus terhadap kejadian tersebut dan agar tetap terjaga dalam kontrol.
Mimpi
Sering kali mengungngkapkan pikiran dan perasaan yang tidak disadari dan yang ditekan.mminta anak untuk bercerita tentang sebuah mimpi atau mimpi buruk ,eksplorasi dengan anak apa makna yang terkandung dalam mimpi tersebut.
Pertanyaan “Bagaimana Jika”
Contoh”bagaimana jika kamu sakit dan harus dirawat dirumah sakit?”. respon anak menggungkapkan tentang apa yang telah ,mereka ketahui,berikan kesempatan untuk membantu anak mempelajari keterampilan koping terutama dalam situasi yang potensial berbahaya.
Tiga permintaan
Libatkan pertannyaan “seandainya kamu dapat memilii tiga permintaan apapun yang dapat dikabulkan didunia ini apakah perminitaan itu?.contoh:dari pada menanyakan perasaan anak yang masih kecil tanyakan bagaimana pearasaan mereka.
Permainan asosiasi kata
Meliputi pertayaan dengan menggunakan kata-katakunci yang disebutkan.mulai dengan kata-kata netral dan kemudian kenalkan kata –kata yang dapat menimbulkan kecemasan seperti “penyakit.jarum suntik ,rumah sakit,dan operasi”pilih kata yang berhubungan dengan beberapa kejadian dalam kehidupan aanak yang relevan.
Penyelesaian kalimat
Meliputi penyajian separuh kalimat dan minta anak untuk menyelesaikan beberapa contoh pernyataan adalah hal yang paling dia sukai.
Pro dan kontra
Meliputi pilihan sebuah topik “berada di rumah sakit”dan minta anak unuk membuat daftar “lima halyang baik dan lima hal yang buruk”tentang hal tersebut tehnik ini merupakan tehnik tehnik yang sangat baikketika diaplikasikan,seperti hal-hal yang sidukai dan tidak disukai oleh anggota keluarga satu sama lain.
• Tehnik Nonverbal
Menulis
Saran yang spesifik termasuk: menulis suatu jurnal atau buku harian menulis perasaan atau pikiran yang sulit di siespresikan ,menulis “surat”yang tidak pernah dikirimkan,perhitungkan kemajuan anak lebihdari sudut pandang fisik maupun emosional.
Menggambar
merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling berharga baik nonverbal dan verbal gambar dari anak menceritakan banyak hal tentang mereka karena gambar tersebut adalah proyeksi dari dalam diri mereka sendiri.
Sulap
gunakan tehnik sulap untuk membantu membina hubungan saling pearcaya dengan anak mendorong kepatuhan terhadap intervensi kesehatan,dan memberikan distraksi yang evektif selama prosedur yang menyakaitkan walaupun “tukang sulap”berbicara tidak ada respon verbal yang diperlukan dari anak
Permaianan
Adalah bahasa yang universal dan “pekerjaan”anak menceritakan banyak hal tentang anak-anak karena mereka memproyeksikan diri mereka sendiri melalui aktifitas .

PENGKAJIAN RIWAYAT
MELAKUKAN PENGKAJIAN RIWAYAT KESEHATAN
Format yang digunakan untuk pengkajian riwayat kesehatan dapat (1) langsung – perawat menayakakan inforasi melalui wawancara langsung dengan informan- atau (2) tidak langsung – inforan member informasi dengan mengisi beberaa jenis kuesioner.Metode langsung lebih baik dibandingkan pendekatan tidak langsung atau kombinasi keduanya.
MENGIDENTiFIKASI INFORMASI

1. Nama
2. Alamat
3. Telepon
4. Tempat dan tanggal lahir
5. Ras/Kelompok
6. Jenis kelamin
7. Agama
8. Tanggal wawancara
9. Informat

KELUHAN UTAMA(KU)
Untuk menentukan alasan spesifik yang utama bagi anak dan orang tua mencari bantuan profesional kesehatan
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG (RPS)
Untuk mendapatkan semua rincian yang berhubungan dengan keluhan utama
RIWAYAT kESEHATAN DAHULU
Untuk memperoleh profil penyakit anak , cedera-cedera atau pembedahan sebelumnya
Riwayat Kelahiran (Riwayat Kehamilan, Persalinan, Perinatal)
• Penyakit, cedera atau operasi sebelumnya
• Alergi
• Pengobatan Terbaru
• Imunisasi
• Pertumbuhan dan Perkembangan
• Kebiasan
TINJAUAN SISTEM
Untuk meperoleh informasi yang menyangkut adanya kemungkinan masalah kesehatan Umum

• Integumen
• Kepala
• Mata
• Telinga
• Hidung
• Mulut
• Tenggorokan
• Leher
• Dada
• Respirasi
• Kardiovaskuler
• Genitourinaria
• Ginekologik
• Muskuloskeletal
• Neurologik
• Endokrin
• Gastrointetestinal

RIWAYAT PENGOBATAN KELUARGA
Untuk mengidentifikasi adanya factor genetika atau penyakit yang memilkii kecenderungan terjadi dalam keluarga dan untuk mengkaji pajanan terhdap penyakit menular pada anggota keluarga dan kebiasaan keluarga yang dapat mempengaruhi kesehatan anak, seperti merokok dan penggunanaan bahan kimia lain
RIWAYAT PSIKOSOSIAL :Untuk memperoleh informasi yang menyangkut konsep diri anak
RIWAYAT SEKSUAL :Untuk memperoleh informasi yang menyangkut masalah seksual anak dan/atau akivitas seksual dan adanya data-data yang relevan tentang aktivitas seksual orang dewasa yang dapat mempengaruhi anak terseut
RIWAYAT KELUARGA
Untuk mengembangkan pemahaman tentang anak sebagai individu dan sebagai anggota keluarga dan komunitas
1. Komposisi Keluarga
2. Lingkungan rumah dan Komunitas
3. Pekerjaan dan pendidikan anggota keluarga
4. Tradisi budaya dan agama
5. Fungsi dan hubungan keluarga
Hal-hal yang perlu dikaji dalam keluarga adalah :
1. Data umum :
Nama kepala keluarga (KK), alamat dan telpon, pekerjaan kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga dan komposisi keluarga. Selain itu, perlu dikaji pula tentang :
• Tipe keluarga : menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut
• Suku bangsa : mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut, serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.
• Agama :mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
• Status sosial ekonomi keluarga : status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu, status sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
• Aktivitas rekreasi keluarga : Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.
2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
• Tahap perkembangan keluarga saat ini :Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti. Misalnya : keluarga Bpk. A mempunyai 2 orang anak, anak pertama berusia 8 tahun dan anak kedua berusia 5 tahun, maka keluarga Bpk. A berada pada tahapan perkembangan keluarga dengan usia anak sekolah.
• Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga, serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi. Misalnya : keluarga tengah baya, yang seharusnya sudah mampu mendirikan keluarga sendiri, tetapi belum mempunyai rumah sendiri sehingga beberapa tugas tidak terpenuhi.
• Riwayat keluarga inti : Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit (status imuniasi), sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga, serta pengalaman-pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.
• Riwayat keluarga sebelumnya
3. Pengkajian Lingkungan
• Karakteristik rumah
• Karakteristik tetangga dan komunitas setempat
• Mobilitas geografis keluarga
• Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
• Sistem pendukung keluarga
4. Struktur keluarga
• Pola komunikasi keluarga
• Struktur kekuatan keluarga
• Struktur peran
• Nilai atau norma keluarga
• Fungsi keluarga, meliputi:
 Fungsi afektif : yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
 Fungsi sosialisasi :bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.
 Fungsi perawatan kesehatan :kemampuan keluarga melaksanakan 5 tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan, melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat.
 Fungsi reproduksi :adalah berapa jumlah anak, bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga dan metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga.
 Fungsi ekonomi : adalah sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, serta sejauhmana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
5. Stress dan koping keluarga
 Stressor jangka pendek :yang memerlukan penyelesaian dalam waktu + 6 bulan, Stressor jangka panjang yaitu memerlukan penyelesaian dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan
 Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor : adalah sejauhmana keluarga berespon terhadap situasi/stressor (Strategi koping yang digunakan, Strategi adaptasi disfungsional)
6. Pemeriksaan fisik :Dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan fisik di klinik.
7. Harapan keluarga : Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.