manajemen terpadu bayi sakit

KONSEP DASAR MASING-MASING PENYAKIT BERDASARKAN MTDS PADA BAYI MUDA SAKIT
Bayi muda sakit adalah bayi yang nerumur 0 sampai 2 bulan
1. PENYAKIT INFEKSI
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang banyak ditemui pada masyarakat.Pembagian penyakit infeksi dasar utamanya adalah dsari penyebabnya .Adapun faktor penyebabnya adalah :
1. Bakteri misalnya pada penyakit difteri, tetanus, TBC, typhus.
2. Virus misalnya pada penyakit demam berdarah, influenza
3. Jamur misalnya pada anak-anak yang menderita gangguan Imunologis tanda-tandanya warna putih pada mulut anak ,bisa juga terjadi pada anak-anak yang menderita penyakit lama yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.
4. Parasit misalnya pada malaria dan cacingan.
2. DIARE

Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal oleh ibunya. Untuk keperluan diagnosis, secara epidemiologis dalam masyarakat, diare didefinisikan sebagai berak lembek cair sampai cair 3-5 kali perhari.
Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. Sekitar 80% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja.
Penyebab diare akut paling sering adalah faktor infeksi. Pada garis besarnya dibagi menjadi 2 golongan yaitu infeksi parenteral dan enteral. Infeksi enteral merupakan infeksi dalam usus dimana 50 % diare pada anak disebabkan karena virus.
Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari jumlah tinja dan penurunan konsistensi tinja dari lembek cair sampai cair, dengan atau tanpa darah dan atau tanpa lendir di dalam tinja, di mana manifestasi klinik yang utama adalah kehilangan air dan elektrolit melalui saluran cerna. Untuk keperluan diagnosis, secara epidemiologis dalam masyarakat, diare didefinisikan sebagai berak lembek cair sampai cair 3-5 kali perhari. Berdasarkan waktunya, diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronik. Diare kronik adalah diare yang melanjut hingga 2 minggu atau lebih.
Pembagian diare menurut Depkes meliputi diare tanpa tanda dehidrasi, dehidrasi ringan sedang, dan dehidrasi berat. Dehidrasi terjadi bila cairan yang keluar lebih banyak daripada cairan yang masuk. Diare tanpa tanda dehidrasi terjadi jika kehilangan cairan <5% BB, diare dehidrasi ringan sedang jika kehilangan cairan 5-10% BB, dan diare dehidrasi berat jika kehilangan cairan >10% BB.
3. IKTERUS
Pigmen bernama bilirubin adalah faktor penyebab dari bayi kuning (ikterus) yang harus di kenali dan waspadai. Sebetulnya, setiap orang memiliki bilirubin dalam sel darah merahnya. Setiap jangka waktu tertentu sel darah merah akan mati dan menguraikan sel-selnya diantaranya menjadi bilirubin. Normalnya yang bertugas menguraikan bilirubin tersebut adalah hati, untuk kemudian dibuang lewat BAB. Saat bayi masih dalam kandungan, hati sang ibulah yang mengambil tugas menguraikan bilirubin dalam sel darah merah bayi. Ketika bayi lahir, perkembangan hatinya belum sempurna sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Akibatnya terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian menyebabkan timbulnya warna kuning pada kulit bayi.

Sebagian lainnya karena ketidak-cocokan golongan darah ibu dan bayi. Peningkatan kadar bilirubin dapat diakibatkan oleh pembentukan yang berlebih atau adanya gangguan pengeluarannya.
Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan bentuk fisiologik dan patologik. Yang bersifat patologik dikenal sebagai hiperbilirubinemia yang dapat mengakibatkan gangguan saraf pusat atau kematian.
Sampai saat ini ikterus masih merupakan masalah pada bayi baru lahir, terjadi sekitara 25% - 50% pada bayi lahir cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada bayi lahir kurang bulan. Pemeriksaan adanya ikterus pada bayi muda dapat dilakukan di rumah dan pada waktu kunjungan neonatal. Untuk pemeriksaan gejala kuning di rumah adalah dengan membawa bayi ke dalam ruangan yang memiliki penerangan yang jelas atau dengan lampu fluorescent. Bila kulit bayi tergolong putih, tekanlah jari anda secara perlahan-perlahan ke bagian dahi, dada, telapak tangan dan telapak kaki. Kemudian angkat tangan anda dan perhatikan adakah semburat warna kuning pada bagian tubuh bayi yang ditekan tadi. Bila kulit bayi tergolong hitam, paling jelas bisa diteliti pada gusi atau bagian putih di area mata. Sedangkan pemeriksaan di klinik, dokter anak akan memeriksa kesehatannya. Kadar bilirubin sendiri baru bergerak pada hari ke 3 atau ke 5 setelah kelahiran. Jadi apakah tingkat bilirubin bayi anda normal atau tidak, baru diketahui 3 atau 5 hari. Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan pemeriksaan dalam. Bayi akan diambil darahnya sedikit, biasanya di ujung jari kaki, kemudian diteliti dan diperiksa di laboratorium.
Sangat penting untuk mengetahui kapan ikterus timbul, kapan menghilang dan sampai bagian tubuh mana kuning terlihat. Ketiga hal tersebut harus diketahui dengan pasti untuk mengklasifikasikan ikterus secara benar. Pada kasus ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi, ikterus timbul sebelum umur 3 hari.
Klasifikasi ikterus
Untuk mengklasifikasikannya dilihat dari gejala-gejalanya yaitu:
Ikterus Fisiologis (ringan)
• Timbul kuning pada umur >24 jam sampai <14 hari
• Kuning tidak sampai telapak tangan / telapak kaki
Ikterus fisiologis tidak berbahaya, penanganannya bayi dijemur setiap pagi antara jam 7 - 9 pagi selama 30 - satu jam. Tingkatkan frekuensi pemberian ASI, minimal 8 - 12 kali sehari. Jika dirasakan sudah cukup menyusuinya, sebaiknya perhatikan apakah bayi benar-benar menghisap atau hanya mengempeng saja. Bila dirasakan ada masalah dalam menyusui segera lakukan konsultasi di klinik laktasi terdekat. Bila gejala masih tampak hingga >14 hari segera periksakan ke dokter.
Ikterus Patologis (berat)
• Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir, atau
• Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari, atau
• Kuning sampai telapak tangan / telapak kaki, atau
• Tinja berwarna pucat
Jika tidak segera ditangani, kadar bilirubin terus meningkat sehingga dapat meracuni otak, terjadinya kerusakan saraf yang dapat menyebabkan cacat seperti tuli, pertumbuhan terhambat atau kelumpuhan otak besar atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Jika mengalami salah satu gejala tersebut di atas segera periksakan bayi ke dokter
BERAT BAYI RENDAH
Berat bayi lahir rendah (BBLR) adalah berat bayi baru lahir dengan berat kurang dari 2500 gram.
Kejadian BBLR dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat pada ibu hamil sendiri,
diantaranya hipertensi, pendarahan antepartum, anemia, infeksi, usia, pendidikan, paritas dan
frekuensi anc.
Berat bayi saat lahir :
1. indikator kesehatan maternal
2. prediktor pertumbuhan bayi
3. daya tahan hidup bayi
BBLR : semua bayi dengan BBL < 2500 gr
Resiko kesakitan, resiko kematian → cukup tinggi oleh karena :
1. gangguan pertumbuhan
2. imaturitas organ
Insiden BBLR : 15,5 – 17 % dari kelahiran hidup 95 % di negara sedang berkembang 30 – 40 % disebabkan KMK
Penyebab utama kematian
1. afiksia
2. sindroma gangguan pernapasan
3. infeksi
4. komplikasi hipotermia
BBLR terdiri dari 2 kategori
1. BKB → UK < 37 minggu : makin kecil umur kehamilan → makin kurang perkembangan organ2
2. KMK → BB lahir < BB lahir umur kehamilan tetentu : < persentil 10 dari berat spesifik berdasarkan umur kehamilan
BBLR dapat di klasifikasikan sbb berdasarkan BB lahir :
1. BBLR : BBL < 2500 gr
2. BBLSR : BB 1000 – 1500 gr
3. BBLASR : BB < 1000 gr
Berdasarkan umur kehamilan :
1. kurang bulan / pretem / prematur UK < 37 mgg
2. cukup bulan / full term / Aterm UK 37 – 42 mgg
3. lebih bulasn atau post term / serotinus UK > 42 mgg.
Penyebab
• faktor janin
• gawat janin
• kehamilan multiple
• kelainan kromosom
• infeksi
• faktor plasenta previa
• plasenta previa
• abrupsio plasenta
• difungsi plasenta
• faktor lahir
• inkompetensi serviks
• faktor ibu
• polihidramnion
• Infeksi
• Hipertensi
• Penyakit kronis ( jantung, ginjal dsb)
• Malnutrisi, anemia
• Perokok, alkohol, norkotika
• Dan banyak faktor lain
Berbagai masalah pemberian ASI pada bayi Ibu
Walau bayi sudah memiliki refleks menghisap puting ASI ibu sejak lahir, namun pada awalnya mungkin sulit ia lakukan. Bayi Ibu memang belum terbiasa. Kadang-kadang, kesulitan pemberian ASI disebabkan oleh faktor medis yang dapat mempengaruhi selera makan bayi atau proses penyerapan makanan dan nutrisi.
Berikut ini beberapa penyebab kesulitan pemberian ASI dan gejala yang dapat membantu Ibu mengenalinya.

Kolik
Gejala kolik dapat dilihat dari wajah yang memerah, tangan yang mengepal, dan kaki yang diangkat-angkat ke arah dada disertai tangisan bayi selama 2-3 jam. Kolik sering muncul 15 menit setelah minum susu. Tapi bisa juga muncul kapan saja dalam minggu-minggu pertama. Kolik itu normal dialami oleh satu di antara empat bayi. Ketahui lebih lanjut tentang kolik dan bagaimana cara meringankannya disini
Menangis sebelum minum ASI
Kebanyakan bayi menangis saat ia lapar. Seiring waktu, Ibu akan belajar untuk membedakan arti tangisan bayi Segera berikan ASI bila tiba saatnya bagi bayi mendapatkan ASI. Karena perut kecilnya butuh diisi ASI lebih sering walau dalam porsi sedikit.
Menangis setelah minum ASI
Merawat bayi memang perlu kesabaran. Kalau lapar ia menangis, setelah disusui pun bisa saja ia menangis juga. Biasanya hal ini terjadi karena ia kolik. Karena itu , bantu ia bersendawa setelah menyusu. Kami dapat memperagakan caranya disini.
Kurang pertambahan berat badan
Penurunan berat badan setelah lahirwajar bagi bayi. tapi sebaiknya upayakan agar berat badannya berangsur-angsur naik lagi. Pertambahan berat badan tiap bayi berbeda dan akan naik sesuai perkembangan masing-masing. Bersama dokter, Ibu bisa memantau pertambahan berat badan bayi Ibu.
Muntah
Cukup normal bila bayi memuntahkan kembali sedikit ASI setelah meminumnya. Ini disebut gumoh. Tapi jika bayi terus-menerus muntah apalagi dalam jumlah yang banyak, mungkin bayi Ibu terkena refluks, Dan dalam kasus ini Ibu harus berkonsultasi dengan dokter anak. Ibu.
Diare
Diare bisa disebabkan oleh virus atau ada masalah dalam pemberian ASI. Jadi lebih baik berkonsultasi dengan dokter anak Ibu. Jika Ibu khawatir tentang frekwensi buang air besar bayi , baca artikel kami tentang kotoran bayi.
Masalah kesehatan
Sama seperti kita, tidak enak badan bisa menyebabkan bayi kehilangan selera menyusu. Misalnya bila flu berat disertai hidung tersumbat, bisa menyebabkan bayi sulit bernafas. Ia jadi enggan mengatupkan mulutnya untuk menyusu.
Penyebab lain adalah alergi makanan Ini bisa menyebabkan turunnya berat badan karena ia sulit makan.
Konsultasikan pada dokter bila Ibu merasa ada masalah dengan kesehatan si kecil.

KLASIFIKASI MTBS BAYI MUDA
• INFEKSI BAKTERI
- Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri bera
- Infeksi bakteri local
- Mungkin bukan infeksi
• DIARE
- Diarre dehidarsi berat
- Diare dehidrasi ringan/ sedang
- Diare tanpa dehidrasi
• IKTERUS
- Ikterus berat
- Ikterus
- Tidak ada ikterus

• BBR / MASALAH PEMBERIAN ASI
- Berat badan rendah menurut umur dan/ atau masalah pemberian asi
- Berat badan tidak rendah dan tidak ada masalah pemberian asi

2.2 PENGKAJIAN DATA ( TANDA/GEJALA ) YANG SERING TERDAPAT PADA FORM MTBS

Tanyakan Pada Ibu Mengenai Masalah Anaknya
Tanyakan apakah ini kunjungan pertama atau kunjungan ulang untuk masalah tersebut.
- Pada setiap kunjungan pertama lakukan penilaian sesuai dengan bagan.
- Pada kunjungan ulang lakukan penilaian secara lengkap, untuk klasifikasi
Kunjungan pertama gunakan pedoman pelayanan tindak lanjut.

Jika bayi muda ditemukan dalam keadaan kejang atau henti napas. segera lakukan tindakan /pengobatan sebelum melakukan penilaian yang lain dan RUJUK SEGERA

1. Memeriksa Kemungkinan Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri
Tanyakan :
• Apakah bayi tidak mau minum atau memuntahkan semuanya ?
• Apakah bayi kejang ?
Lihat Dan Raba :
• Apakah bayi bergerak hanya jika dirangsang?
• Hitung napas dalam 1 menit
Jika ≥ 60 kali/ menit, ulangi menghitung.
Apakah bayi bernapas cepat( ≥ 60 kali/menit) atau bayi bernapas lambat (< 30 kali/menit).
• Lihat apakah ada tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat.
• Dengarkan apakah bayi merintih ?
• Ukur suhu aksiler.
• Lihat, adakah pustul di kulit ?
• Lihat, apakah mata bernanah ?
• Apakah pusar kemerahan atau bernanah ?
Apakah kemerahan meluas sampai ke dinding perut ?

A. Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri Berat
Tanda / Gejala
• Tidak mau minum atau memuntahkan semua
• Riwayat Kejang
• Bergerak hanya jika dirangsang
• Napas cepat ( ≥ 60 kali /menit )
• Napas lambat ( < 30 kali / menit )
• Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat
• Merintih
• Demam ≥ 37.5 °C
• Hipotermia berat < 35.5 °C
• Nanah yang banyak di mata
• Pusar kemerahan meluas ke dinding perut.

B. Infeksi Bakteri Lokal
Tanda Dan Gejala
• Pustul kulit
• Mata bernanah
• Pusar kemerahan atau bernanah

C. Mungkin Bukan Infeksi
• Tidak terdapat salah satu tanda di atas.

2. Apakah Bayi Diare ?
Jika YA,
Tanyakan :
• Sudah berapa lama ?
Lihat Dan Raba
• Lihat keadaan umum bayi, Apakah :
- Letargis atau tidak sadar ?
- Gelisah/ rewel ?
• Apakah matanya cekung ?
• Cubit kulit perut,
Apakah kembalinya ?
- Sangat lambat ( > 2 detik ) ?
- Lambat ?

A. Diare Dehidrasi Berat
Tanda Dan Gejala
Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :
• Letargis atau tidak sadar.
• Mata cekung.
• Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat

B. Diare Dehidrasi Ringan/ Sedang
Tanda Dan Gejala
Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :
• Gelisah / rewel.
• Mata cekung.
• Cubitan kulit perut kembalinya lambat.

C. Diare Tanpa Dehidrasi
Tanda Dan Gejala
• Tidak cukup tanda untuk dehidrasi berat atau ringan / sedang
NB :
• Bayi muda dikatakan diare apabila terjadi perubahan bentuk feses, lebih banyak dan lebih cair (lebih banyak air daripada ampasnya).
• Pada bayi dengan ASI eksklusif berak biasanya sering dan bentuk feses lembek.

3. Memeriksa Ikterus
Tanyakan :
• Apakah bayi kuning ?
Jika ya, pada umur berapa timbul kuning ?
• Apakah warna tinja bayi pucat ?
Lihat :
• Lihat, adakah kuning pada bayi ?
• Tentukan sampai di daerah manakah warna kuning pada bagian badan bayi ?

A. Ikterus Berat
Tanda Dan Gejala
• Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir.
• Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari
• Kuning sampai telapak tangan atau kaki
• Tinja berwarna pucat

B. Ikterus
Tanda Dan Gejala
Timbul kuning pada umur ≥ 24 jam sampai ≤ 14 hari dan tidak sampai telapak tangan atau kaki

C. Tidak Ada Ikterus
Tanda Dan Gejala
• Tidak kuning.

4. Memeriksa Kemungkinan Berat Badan Rendah Dan/ Atau Masalah Pemberian ASI
Jika Tidak Ada Indikasi Untuk Dirujuk
Tanyakan ;
• Apakah inisiasi menyusu dini dilakukan ?
• Apakah bayi bisa menyusu?
• Apakah ibu kesulitan dalam pemberian ASI ?
• Apakah bayi diberi ASI ? Jika YA berapa kali dalam 24 jam ?
• Apakah bayi diberi makanan / minuman selain ASI ? Jika YA, berapa kali dalam 24 jam ? Alat apa yang digunakan ?
Lihat ;
• Tentukan berat badan menurut umur.
• Adakah luka atau bercak putih (thrush) di mulut ?
• Adakah celah bibir/ langit-langit ?
Lakukan Penilaian Tentang Cara Menyusui :
Apakah bayi diberi ASI dalam 1 jam terakhir ?
• Jika TIDAK, minta ibu untuk menyusui.
• Jika YA, minta ibu menunggu dan memberitahu saudara jika bayi sudah mau menyusu lagi.
• Amati pemberian ASI dengan seksama.
• Bersihkan hidung yang tersumbat, jika menghalangi bayi menyusui.
Lihat, apakah bayi menyusu dengan baik ?
• Lihat, apakah posisi bayi benar ?
Seluruh badan bayi tersangga dengan baik, kepala dan badan bayi lurus, badan bayi menghadap ke dada ibu, badan bayi dekat ke ibu.
• Lihat, apakah bayi melekat dengan baik ?
Dagu bayi menempel payudara, mulut terbuka lebar, bibir bawah membuka keluar, areola tampak lebih banyak di bagian atas daripada di bawah mulut.
• Lihat dan dengar, apakah bayi mengisap dengan efektif ?
Bayi mengisap dalam, teratur, diselingi istirahat, hanya terdengar suara menelan.

A. Berat Badan Rendah Menurut Umur Dan/ Atau Masalah Pemberian ASI
Tanda Dan Gejala
• Berat badan menurut umur rendah
• Bayi tidak bisa menyusu
• Ada kesulitan pemberian ASI
• ASI kurang dari 8 kali/ hari
• Mendapat makanan atau minuman lain selain ASI
• Posisi bayi tidak benar
• Tidak melekat dengan baik
• Tidak mengisap dengan efektif.
• Terdapat luka atau bercak putih di mulut (thrush)
• Ada celah bibir / langit-langit

B. Berat Badan Tidak Rendah Dan Tidak Ada Masalah Pemberian ASI
• Tidak terdapat tanda / gejala diatas.

PERENCANAAN TINDAKAN PADA BAYI MUDA SAKIT SESUAI DENGAN MASALAH PADA PENYAKIT MASING-MASING
1. Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri
a. Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri berat
Rencana tindakan:
•jika ada kejang, tangani kejang
•cegah agar gula darah tidak turun
•jika ada gangguan napas, tangani gangguan napas.
•jika ada hipotermia, tangani hipotermia
•beri dosis pertama antibiotik intramuskular
•nasihati cara menjaga bayi tetap hangat di perjalanan
•rujuk segera

b. Infeksi bakteri lokal
Rencana tindakan:
•jika ada pustul kulit atau pusar bernanah, beri antibiotic oral.
•jika ada nanah di mata, beri salep/ tetes mata antibiotik
•ajari cara mengobati infeksi bakteri lokal di rumah
•lakukan asuhan dasar bayi muda
•nasihati kapan kembali segera
•kunjungan ulang 2 hari


c. Mungkin bukan infeksi
Rencana tindakan:
•ajari cara merawat bayi di rumah.
•lakukan asuhan dasar bayi muda.

2. Diare
a. Diare dehidrasi berat
Rencana tindakan:
•tangani sesuai rencana terapi c.
•jika bayi juga mempunyai klasifikasi lain yang membutuhkan rujukan segera :
- rujuk segera setelah memenuhi syarat rujukan dan selama perjalanan berikan larutan oralit sedikit demi sedikit.
- nasihati agar asi tetap diberikan jika memungkinkan.
- cegah agar gula darah tidak turun.
- nasihati cara menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan.

b. Diare dehidrasi ringan/sedang
Rencana tindakan:
•jika bayi tidak mempunyai klasifikasi berat lain, tangani sesuai rencana terapi b
•jika bayi juga mempunyai klasifikasi berat yang lain :
- rujuk segera dan selama perjalanan beri larutan oralit.
- nasihati agar asi tetap diberikan jika memungkinkan.
- cegah agar gula darah tidak turun.
- nasihati cara menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan.
•lakukan asuhan dasar bayi muda
•nasihati kapan kembali segera.
•kunjungan ulang 2 hari.

c. Diaretanpa dehidrasi
Rencana tindakan:
•tangani sesuai rencana terapi a.
•nasihati kapan kembali segera.
•lakukan asuhan dasar bayi muda.
•kunjungan ulang 2 hari.

3. Ikterus
a. Ikterus berat
Rencana tindakan:
•cegah agar gula darah tidak turun.
•nasihati cara menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan.
•rujuk segera

b. Ikterus
Rencana tindakan:
•lakukan asuhan dasar bayi muda.
•menyusu lebih sering.
•nasihati kapan kembali segera.
•kunjungan ulang 2 hari

c. Tidak ada ikterus
Rencana tindakan:
•lakukan asuhan dasar bayi muda.

4. Kemungkinan berat badan rendah dan/ atau masalah pemberian asi
a. Berat badan rendah menurut umur dan/ atau masalah pemberian asi
Rencana tindakan:
•lakukan asuhan dasar bayi muda
•nasehati ibu untuk menjaga bayinya tetap hangat
•ajarkan ibu untuk memberikan asi dengan benar.
•jika mendapat makanan/ minuman lain selain asi, berikan asi lebih sering. Makanan / minuman lain dikurangi kemudian dihentikan.
•jika bayi tidak mendapat asi : rujuk untuk konseling laktasi dan kemungkinan bayi menyusu lagi
•jika ada celah bibir/ langit-langit, nasihati tentang alternatif pemberian minum.
•konseling bagi ibu / keluarga.
•nasihati kapan kembali segera
•kunjungan ulang 2 hari untuk gangguan pemberian asi dan thrush.
•kunjungan ulang 14 hari untuk masalah berat badan rendah menurut umur.

b. Berat badan tidak rendah dan tidak ada masalah pemberian asi
Rencana tindakan:
•pujilah ibu karena telah memberikan asi kepada bayinya dengan benar.


Tindakan / pengobatan untuk bayi muda yang memerlukan rujukan segera (tindakan pra rujukan)
Bayi dapat dirujuk apabila :
•suhu ≥ 35,5 °c
•denyut jantung ≥ 100 kali per menit (lihat pedomanresusitasi neonatus)
•tidak ada tanda dehidrasi berat.

Menangani gangguan napas
Pada penyakit sangat berat atau
Infeksi bakteri berat
•posisikan kepala bayi setengah tengadah, jika perlu bahu diganjal dengan gulungan kain.
•bersihkan jalan napas dengan menggunakan alat pengisap lendir.
•jika mungkin, berikan oksigen dengan kateter nasal atau nasal prong dengan kecepatan 2 liter per menit.
Jika terjadi henti napas (apneu), lakukan resusitasi,
Sesuai dengan pedoman resusitasi neonatus.

Menangani kejang dengan obat anti kejang
Untuk semua klasifikasi yang membutuhkan obat anti
Kejang :
Obat anti kejang pilihan pertama : fenobarbital
Obat anti kejang pilihan kedua : diazepam.

Fenobarbital
100 mg/ 2 ml (dalam ampul 2 ml)diberikan secara intramuskular Diazepam
5 mg/ml (dalam ampul 1 ml) atau 10 mg/ 2 ml (dalam ampul 2 ml) diberikan per rektal.
Dosis : 30 mg = 0.6 ml •berat < 2500 gramdiberikan 0.25 ml*
•berat ≥ 2500 gramdiberikan 0.50 ml*
* diberikan dengan menggunakan semprit 1 ml.

Jika kejang timbul lagi (kejang berulang), ulangi pemberian
Fenobarbital 1 kali lagi dengan dosis yang sama, minimal
Selang waktu 15 menit.

Tindakan / pengobatan untuk bayi muda
Yang tidak memerlukan rujukan

Memberi antibiotik oral yang sesuai
Antibiotik per oral yang sesuai untuk infeksi bakteri lokal : amoksisilin.

Umur
Atau
Berat badan Amoksisilin
Dosis 50 mg / kg bb / hari
Beri tiap 8 jam selama 5 hari
Sirup 125 mg
Setiap 5 ml ( 1 sendok takar) Kaplet 250 mg
1 kaplet dijadikan 5 bungkus Kaplet 500 mg
1 kaplet dijadikan 10 bungkus
1 hari - < 4 minggu
( bb < 3 kg ) ½ sendok takar 1 bungkus 1 bungkus
4 minggu - < 2 bulan
( bb 3 - 4 kg ) ½ sendok takar 2 bungkus 2 bungkus



Konseling bagi ibu / keluarga
Mengajari cara pemberian obat lokal di rumah

Cara mengobati infeksi bakteri lokal
Ada 2 jenis infeksi bakteri lokal pada bayi muda yang dapat diobati
Ibu di rumah :
•infeksi kulit atau pusar.
•infeksi mata
Langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika mengajari ibu :
•jelaskan cara memberi pengobatan tersebut.
•amati cara ibu mempraktekkan di depan saudara.
•cek pemahaman ibu sebelum pulang.

Cara mengobati infeksi kulit atau pusar
•cuci tangan sebelum mengobati bayi.
•bersihkan nanah dan krusta dengan air matang dan sabun secara hati-hati.
•keringkan daerah sekitar luka dengan kain bersih dan kering.
•olesi dengan gentian violet 0,5% atau povidon yodium.
•cuci tangan kembali.

Cara menyiapkan gentian violet 0,5% :
1 bagian gentian violet 1% ditambah 1 bagian aquades (misal : 10 ml gentian violet 1% ditambah 10 ml aquades)
Cara mengobati luka atau “thrush” di mulut
•cuci tangan sebelum mengobati bayi.
•bersihkan mulut bayi dengan ujung jari yang terbungkus kain bersih dan telah dicelupkan ke larutan air matang hangat bergaram. (1 gelas air hangat ditambah seujung sendok the garam) •olesi mulut dengan gentian violet 0,25% atau teteskan 1 ml suspensi nistatin.
•cuci tangan kembali.
•obati luka atau bercak di mulut 3 kali sehari selama 7 hari.
Cara menyiapkan gentian violet 0,25% :
1 bagian gentian violet 1% ditambah 3 bagian aquades (misal : 10 ml gentian violet 1% ditambah 30 ml aquades)

Cara mengobati infeksi mata.
•cuci tangan ibu sebelum mengobati bayi.
•bersihkan kedua mata bayi 3 kali sehari menggunakan kapas / kain bersih dengan air hangat
•beri salep / tetes mata tetrasiklin 1% atau kloramfenikol 0,25% pada kedua mata.
•oleskan salep atau teteskan obat mata pada bagian dalam kelopak mata bawah.
•cuci tangan kembali.
•obati sampai kemerahan hilang.

Mengajari ibu menyusui dengan baik
•tunjukkan kepada ibu cara memegang bayinya atau posisi bayi yang benar.
- sanggalah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja.
- kepala dan tubuh bayi lurus.
- hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu.
- dekatkan badan bayi ke badan ibu.
•tunjukkan kepada ibu cara melekatkan bayi. Ibu hendaknya :
- menyentuhkan puting susu ke bibir bayi.
- menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
- segera mendekatkan bayi ke arah payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu.
•cara melekatkan yang benar ditandai dengan :
- dagu menempel pada payudara ibu.
- mulut bayi terbuka lebar.
- bibir bawah bayi membuka keluar.
- areola tampak lebih banyak di bagian atas daripada bagian bawah.
•bayi mengisap dengan efektif jika bayi mengisap secara dalam, teratur yang diselingi istirahat. Pada saat bayi mengisap asi, hanya terdengar suara bayi menelan.
•amati apakah perlekatan dan posisi bayi sudah benar dan bayi sudah mengisap dengan efektif. Jika belum, cobalah sekali lagi.

Menasihati ibu kapan kembali segera
Nasihati ibu agar kembali segera, jika bayi menunjukkan
Salah satu gejala berikut ini :
•gerakan bayi berkurang atau tidak normal.
•napas cepat.
•sesak napas.
•perubahan warna kulit (kebiruan, kuning).
•malas / tidak bisa menyusu atau minum.
•badan teraba dingin atau panas.
•kulit bertambah kuning.
•bertambah parah.

Menasihati ibu kapan kunjungan ulang
Bayi dengan : Kunjungan ulang
•infeksi bakteri lokal
•diare dehidrasi ringan/ sedang.
•diare tanpa dehidrasi
•ikterus.
•masalah pemberian asi
•luka atau bercak putih di mulut
(thrush).


2 hari
•berat badan rendah menurut umur 14 hari

Mengajari ibu cara meningkatkan produksi asi
•cara untuk meningkatkan asi adalah dengan menyusui sesering mungkin.
•menyusui lebih sering lebih baik karena merupakan kebutuhan bayi.
•menyusu pada payudara kiri dan kanan secara bergantian.
•berikan asi dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke payudara lainnya.
•jika bayi telah tidur selama 2 jam, bangunkan dan langsung disusui.

Masalah pemberian asi pada bayi

Masalah Pemecahan
Bayi banyak menangis atau rewel •jelaskan bahwa ini tidak selalu terkait dengan gangguan pemberian asi.
•periksa popok bayi, mungkin basah.
•gendong bayi, mungkin perlu perhatian.
•susui bayi. Beberapa bayi membutuhkan lebih banyak minum daripada yang lainnya.
Bayi tidak tidur sepanjang malam •merupakan proses alamiah, karena pada bayi muda perlu menyusu lebih sering.
•tidurkan bayi disamping ibu dan lebih sering disusui pada malam hari.
•jangan berikan makanan lain.
Bayi menolak untuk menyusu •mungkin bayi bingung puting, karena sudah diberikan susu botol.
•tetap berikan hanya asi (tunggu sampai bayi betul-betul lapar).
•berikan perhatian dan kasih sayang
•pastikan bayi menyusu sampai air susu habis
•lihat tatalaksana dalam algoritma , kalau perlu di rujuk.
Bayi bingung putting •jangan mudah mengganti asi dengan susu formula tanpa indikasi medis yang tepat.
•ajarkan ibu posisi dan cara melekat yang benar.
•kalau terpaksa memberikan susu formula, berikan dengan sendok, pipet, cangkir, jangan menggunakan botol dan dot.
•jangan berikan kempeng.
Bayi prematur dan bayi kecil
(bblr). •berikan asi sesering mungkin walaupun waktu menyusuinya pendek-pendek.
•jika belum bisa menyusu, asi dikeluarkan dengan tangan atau pompa. Berikan asi dengan sendok atau cangkir.
•untuk merangsang mengisap, sentuh langit-langit bayi dengan jari ibu yang bersih.
Bayi kuning (ikterus) •mulai menyusui segera setelah bayi lahir.
•susui bayi sesering mungkin tanpa dibatasi.
Bayi sakit •teruskan menyusui. Lihat tatalaksana dalam algoritma, kalau perlu rujuk.
Bayi sumbing •posisi bayi duduk.
•puting dan areola dipegang selagi menyusui, hal ini sangat membantu bayi mendapatkan asi cukup.
•ibu jari ibu dapat dipakai sebagai penyumbat celah pada bibir bayi
•jika sumbing pada bibir dan langit-langit. Asi dikeluarkan dengan cara manual ataupun pompa, kemudian diberikan dengan
Sendok/ pipet atau botol dengan dot panjang sehingga asi dapat masuk dengan sempurna. Dengan cara ini bayi akan belajar
Mengisap dan menelan asi, menyesuaikan dengan irama pernapasannya.
Bayi kembar •posisi yang mudah adalah posisi memegang bola (football position)
•paling baik kedua bayi disusui secara bersamaan.
•susui lebih sering selama waktu yang diinginkan masing-masing bayi, umumnya > 20 menit.


Masalah pemberian asi pada ibu

Masalah Pemecahan
Ibu kawatir bahwa asi nya tidak
Cukup untuk bayi
(sindrom asi kurang) •katakan kepada ibu, bahwa semakin sering menyusui, semakin banyak air susu yang diproduksi.
•susui bayi setiap minta. Jangan biarkan lebih dari 2 jam tanpa menyusui. Biarkan bayi menyusu sampai payudara terasa kosong.
Berikan asi dari kedua payudara.
•hindari pemberian makanan atau minuman selain asi.
Ibu mengatakan bahwa air susunya
Tidak keluar. •jelaskan cara memproduksi dan mengeluarkan asi
•susui sesuai keinginan bayi dan lebih sering. Jangan biarkan lebih dari 2 jam tanpa menyusui.
Ibu mengeluhkan puting susunya
Terasa sakit (puting susu lecet) •ibu dapat terus memberikan asi, pada keadaan luka tidak begitu sakit.
•perbaiki posisi dan perlekatan. Olesi puting susu dengan asi. Mulai menyusui dari puting yang paling tidak lecet
•puting susu dapat diistirahatkan sementara waktu kurang lebih 1 x 24 jam jika puting lecet sangat berat. Selama putting diistirahatkan, sebaiknya asi tetap dikeluarkan dengan tangan, tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.
•berikan parasetamol 1 tablet tiap 4-6 jam untuk menghilangkan nyeri. Gunakan bh yang menyokong payudara.
•jika ada luka/ bercak putih pada puting susu, segera hubungi bidan.
Ibu mengeluh payudaranya terlalu
Penuh dan terasa sakit (payudara
Bengkak). •usahakan menyusui sampai payudara kosong
•kompres payudara dengan air hangat selama 5 menit. Urut payudara dari arah pangkal menuju puting.
•bantu ibu untuk memerah asi sebelum menyusui kembali.
•susui bayi sesegera mungkin (setiap 2-3 jam) setelah payudara ibu terasa lebih lembut. Apabila bayi tidak dapat menyusu, keluarkan asi dan minumkan kepada bayi. Kompres payudara dengan kain dingin setelah menyusui. Keringkan payudara.
•jika masih sakit perlu dicek apakah terjadi mastitis.
Mastitis dan abses payudara •berikan antibiotik
•berikan obat penghilang rasa nyeri
•kompres hangat.
•tetap berikan asi dengan posisi yang benar sehingga bayi dapat mengisap dengan baik.
•jika telah terjadi abses, sebaiknya payudara yang sakit tidak disusukan.
Ibu sakit dan tidak mau menyusui
Bayinya •jelaskan bahwa ibu yang minum obat dapat tetap menyusui bayinya. Susui bayi terlebih dahulu, baru minum obat.
•tidurkan bayi di samping ibu dan motivasi ibu supaya tetap menyusui bayi.
•ibu jangan minum obat tanpa sepengetahuan dokter/ bidan, karena mungkin dapat membahayakan bayi.
Ibu bekerja •susui bayi pagi hari sebelum berangkat kerja, segera setelah pulang kerumah dan lebih sering pada malam hari.
•jika ada tempat penitipan bayi di tempat bekerja, susui bayi sesuai jadwal. Jika tidak ada, perah asi di tempat bekerja.
•asi perah disimpan untuk dibawa pulang, atau dikirim ke rumah.
•pastikan pengasuh memberikan asi perah / susu formula memakai cangkir atau sendok

Pelayanan tindak lanjut
Infeksi bakteri lokal
Sesudah 2 hari :
Periksa : lakukan penilaian lengkap.
•periksa mata, apakah bernanah, apakah nanah bertambah banyak?
•periksa pusar, apakah merah/ keluar nanah? Apakah merah meluas?
•periksa pustul pada kulit.
Tindakan :
•jika menetap atau bertambah parah, rujuk segera.
•jika membaik,
- untuk pustul kulit dan pusar bernanah teruskan pemberian antibiotic oral sampai 5 hari.
- untuk mata bernanah, lanjutkan obat tetes/salep mata sampai nanah hilang.
- untuk pusar merah/bernanah, lanjutkan gentian violet 0,5% sampai infeksi membaik.

Diare dehidrasi ringan/ sedang
Diare tanpa dehidrasi.
Sesudah 2 hari :
Periksa : lakukan penilaian lengkap.
•apakah berat badan turun ≥ 10% dari kunjungan sebelumnya?
Tindakan :
•jika didapatkan klasifikasi diare dehidrasi berat atau berat badan turun
≥ 10%, lakukan tindakan/ pengobatan sesuai bagan.
•jika tetap klasifikasi diare dehidrasi ringan/ sedang, lakukan rencana terapi b.
•jika didapatkan klasifikasi diare tanpa dehidrasi, lakukan rencana terapi a.
•jika tidak ada diare, pujilah ibu.

Ikterus
Sesudah 2 hari :
Tanyakan :
•apakah kencing ≥ 6 kali sehari semalam?
•apakah sering buang air besar?
Periksa : lakukan penilaian lengkap.
Tindakan :
•jika didapat klasifikasi ikterus berat, lakukan tindakan/ pengobatan sesuai bagan.
•jika tetap klasifikasi ikterus, disertai :
- kencing ≥ 6 kali sehari semalam, ajari ibu cara merawat bayi yang tidak perlu rujukan dan kunjungan ulang 2 hari.
- kencing < 6 kali sehari semalam, lakukan penilaian ulang pemberian asi, tindakan/ pengobatan sesuai bagan.
•jika kuning berkurang/ menghilang, puji ibu,
Kunjungan ulang saat umur bayi 14 hari
Berat badan rendah menurut umur
Sesudah 14 hari :
Periksa : lakukan penilaian lengkap.
•tetapkan apakah berat badan menurut umur masih rendah?
•lakukan penilaian cara menyusui.
Tindakan :
•lakukan tindakan / pengobatan sesuai klasifikasi yang ditemukan.

Masalah pemberian asi
Sesudah 2 hari :
Tanya : masalah pemberian asi yang ditemukan saat kunjungan pertama
Periksa : lakukan penilaian lengkap.
Tindakan :
•jika bayi sudah dapat menyusu dengan baik, puji ibu dan beri motivasi untuk meneruskan pemberian asi dengan baik.
•jika masih terdapat masalah pemberian asi, rujuk segera.
Perhatian :
Jika saudara tidak yakin akan ada perubahan dalam cara pemberian asi atau berat badan bayi menurun, rujuk segera.

Luka atau bercak putih (thrush) di mulut
Sesudah 2 hari ;
Periksa : lakukan penilaian lengkap.
•penilaian tentang cara menyusui.
•bagaimana keadaan thrush saat ini ?.
Tindakan :
•jika thrush bertambah parah atau bayi mempunyai masalah dalam menyusu, rujuk segera.
•jika thrush membaik dan bayi menyusu dengan baik, puji ibu dan lanjutkan pemberian gentian violet 0,25% atau nistatin suspense sampai seluruhnya 7 hari.
•jika thrush menetap dan/atau bayi tidak mau menyusu dengan baik, kunjungan ulang 2 hari.
•apabila dalam kunjungan ulang kedua keluhan menetap, rujuk
Segera.










BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) bagi bayi muda yang berusia kurang dari 2 bulan merupakan pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana bayi muda sakit yang datang berobat ke fasilitas rawat jalan pelayanan kesehatan dasar yang meliputi upaya kuratif terhadap penyakit sangat berat atau infeksi bakteri, diare, ikterus, berat badan rendah dan/ atau masalah pemberian ASI dan upaya promotif dan preventif yang meliputi imunisasi, pemberian vitamin A dan konseling pemberian makan yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita serta menekan morbiditas karena penyakit tersebut.
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah suatu pendekatan pelayanan terhadap bayi muda sakit yang dikembangkan oleh WHO. Dengan MTBS dapat ditangani secara lengkap kondisi kesehatan bayi muda pada tingkat pelayanan kesehatan dasar, yang memfokuskan secara integrative aspek kuratif, preventif dan promotif termasuk pemberian nasihat kepada ibu sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan anak. Program MTBS ini di kembangkan untuk mencegah tingkat kematian bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan.

SARAN
Setelah mengetahui berbagai penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada bayi muda dan mengetahui cara penilaian kesehatan berdasarkan form MTBS ini disarankan kepada petugas kesehatan untuk dapat mengaplikasikannya dalam melakukan penilaian kesehatan terhadap bayi muda. Selainitu disarankan kepada mahasiswa keperawatan agar dapat membuat makalah yang lebih sempurna dari makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 2008, Modul MTBS Revisi tahun 2008 . http://www.scribd.com/doc/16592261/Buku-Bagan-MTBSRevisi-2008 (diakses pada tanggal 19 maret 2010)
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta : Salemba Medika
Mansjoer, Arif M, dkk . 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC
Supartini, Yeni. 2004. Buku Ajar Konsep Keperawatan Anak Cetakan 1. Jakarta : EGC
Wong, Donna. L, dkk. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
http://sonorapalembang.wordpress.com/2008/07/19/297/ (diakses pada tanggal 19 maret 2010)
http://www.kesimpulan.com/2009/05/anak-dengan-diare-akut.html (diakses pada tanggal 19 maret 2010)
http://bidanku.com/index.php?/Bayi-Kuning-Kenali-dan-Waspadai (diakses pada tanggal 19 maret 2010)
http://eprints.undip.ac.id/4339/1/2849.pdf (diakses pada tanggal 19 maret 2010)

TB pada Anak

Asuhan Keperawatan Pada Bayi Dan Balita Dengan Penyakit Menular
A. TETANUS
Pengertian
• Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka.
• Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.
Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Clostridium tetani. Berbentuk spora selama diluar tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Toksin dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit. Clostridium tetani berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron yang berspora termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob.. Toksin ini merupakan tetanuspasmin toksin neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot. Mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 650C akan hancur dalam lima menit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang bersifat hemolisis, yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.
Epidemiologi
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui :
• Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
• Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
• OMP, caries gigi
• Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
• Penjahitan luka robek yang tidak steril.
Patofisiologi
Penyakit ini terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Luka laserasi yang kotor, luka bakar dan patah tulang terbuka akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan Clostridium tetani.
Web of Caution (Hubungan Sebab Akibat)








1.


Tonus otot  Menempel pada Cerebral Mengenai Saraf Simpatis
Gangliosides

Menjadi kaku Kekakuan dan kejang khas -Keringat berlebihan
pada tetanus -Hipertermi
-Hipotermi
-Aritmia
-Takikardi

Hipoksia berat

 O2 di otak

Kesadaran 

-Ggn. Eliminasi -Ketidakefektifan jalan -PK. Hipoksemia
-Ggn. Nutrisi (< dr. kebut) jalan nafas -Ggn. Perfusi Jaringan
-Gangguan Komunikasi -Ggn. Pertukaran Gas
Verbal -Kurangnya pengetahuan
Ortu
-Dx,Prognosa, Perawatan

Tanda dan gejala
Masa tunas biasanya 5- 14 hari, tetapi kadang- kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan. Tanda dan gejalanya yaitu:
• Trismus ( kesukaran membuka mulut) karena spasme otot- otot mastikatoris
• Kuduk kaku sampai opistotonus ( karena ketegangan otot- otot erektottrunki).
• Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dari abdomen akut).
• Kejang tonik terutama bila dirangsang karena vaksin yang terdapat di kornu anterior.
• Risus sardonikus karena spasme otot muka ( alis tertarik ke atas), sudut mulut tertaik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
• Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri anggota badan sering merupakan gejala dini.
• Spasme yang khas yaitu badan kaku dengan opistotonus, ekstremitas inferior dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal kuat. Anak tetap sadar.
• Spasme mula- mula intermiten diselingi periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang- kadang terjadi perdarahan intramuskulus karena kontraksi yang kuat.
• Asfiksia dan cyanosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Retensi urin dapat terjadi karena spasme otot uretral. Fraktura columna vertebralis dapat pula terjadi karena kontarksi otot yang sangat kuat.
• Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
• Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang- kadang peninggian tekanan cairan otak.
Menurut beratnya gejala, dapat dibagi 3 stadium:
• Trismus (3cm) tanpa kejang tonik umum meskipun dirangsang.
• Trismus (3cm atau lebih kecil) dengan kejang tonik umum bila dirangsang
• Trismus (1cm) dengan kejang tonik umum spontan.

Masalah Yang Sering Dialami Penderita Penyakit Tetanus
a. Gangguan nutrisi kurang
b. Ketidakefektifan jalan nafas
c. Risiko cedera fisik karena kejang
d. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas

Perencanaan tindakan keperawatan pada pasien tetanus
a. Gangguan nutrisi kurang.
Tujuan : nutrisi dan cairan dapat dipertahankan sesuai dengan berat badan dan pertumbuhan normal.
Kriteria hasil :
 Tidak terjadi dehidrasi
 Tidak terjadi penurunan BB
 Hasil lab. tidak menunjukkan penurunan albumin dan Hb
 Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi
Intervensi :
1. Catat intake dan output secara akurat.
2. Berikan makan minum personde tepat waktu.
3. Berikan perawatan kebersihan mulut.
4. Gunakan aliran oksigen untuk menurunkan distress nafas.
5. Berikan formula yang mengandung kalori tinggi dan protein tinggi dan
sesuaikan dengan kebutuhan.
6. Ajarkan dan awasi penggunaan makanan sehari-hari.
7. Tegakkan diet yang ditentukan dalam bekerja sama dengan ahli gizi.

b. Ketidakefektifan jalan nafas
Tujuan : kelancaran lalu lintas udara (pernafasan) terpenuhi secara maksimal.
Kriteria hasil :
 Tidak terjadi aspirasi
 Bunyi napas terdengar bersih
 Rongga mulut bebas dari sumbatan
Intervensi :
1. Berikan O2 nebulizer
2. Ajarkan pasien tehnik batuk yang benar.
3. Ajarkan pasien atau orang terdekat untuk mengatur frekuensi batuk.
4. Ajarkan pada orang terdekat untuk menjaga kebersihan mulut.
5. Berikan perawatan kebersihan mulut.
6. Lakukan penghisapan bila pasien tidak dapat batuk secara efektif dengan melihat waktu.

c. Risiko cedera fisik karena kejang
Tujuan : Klien tidak mengalami cedera selama perawatan
Kriteria hasil:
1. Klien tidak ada cedera akibat serangankejang
2. klien tidur dengan tempat tidurpengaman
3. Tidak terjadi serangan kejang ulang
4. Suhu 36 – 37,5 º C , Nadi 60-80x/menit (bayi), Respirasi 16-20 x/menit
5. Kesadaran composmentis
Intervensi:
1. Identifikasi dan hindari faktor pencetus
2. Tempatkan klien pada tempat tidur yang memakai pengaman di ruang yang tenang dan nyaman
3. Anjurkan klien istirahat
4. Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel dan gudel untuk mencegah lidah jatuh ke belakng apabila klien kejang.
5 Lindungi klien pada saat kejang dengan :
- longgarakn pakaian
- posisi miring ke satu sisi
- jauhkan klien dari alat yang dapat melukainya
- kencangkan pengaman tempat tidur
- lakukan suction bila banyak secret
6. Catat penyebab mulainya kejang, proses berapa lama, adanya sianosis dan inkontinesia, deviasi dari mata dan gejala-hgejala lainnya yang timbul.
7. Sesudah kejang observasi TTV setiap 15-30 menit dan obseervasi keadaan klien sampai benar-benar pulih dari kejang
8. Observasi efek samping dan keefektifan obat
9. Observasi adanya depresi pernafasan dan gangguan irama jantung
10. Lakukan pemeriksaan neurologis setelah kejang
11. Kerja sama dengan tim :
- pemberian obat antikonvulsan dosis tinggi
- pemeberian antikonvulsan (valium, dilantin, phenobarbital)
- pemberian oksigen tambahan
- pemberian cairan parenteral
- pembuatan CT scan

d. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas
Tujuan : Anak memperlihatkan kepatenan jalan nafas dengan kriteria jalan nafas bersih, tidak ada sekresi.
Intervensi:
• Kaji status pernafasan, frekwensi, irama, setiap 2 – 4 jam
• Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan pasti bila ada penumpukan secret
• Gunakan sudip lidah saat kejang
• Miringkan ke samping untuk drainage
• Observasi oksigen sesuai program
• Pemberian sedativa Diazepam drip 10 Amp (hari pertama dan setiap hari dikurangi 1 amp)
• Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut.
• Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya secret
• Menurunkan resiko aspirasi atau aspeksia dan obstruksi
• Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan
• Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas
• Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahahipoksia
• Mengurangi rangsangan kejang
• Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia


B. DIFTERI
a. Konsep Dasar Difteri
Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria. Mudah menular dan yang diserang terutama traktus respiratorius bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannya eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan local. Sifat dari Corynebacterium diphtheria adalah sebagai berikut :
• Basil gram positif yang tidak membentuk spora
• Mempunyai kemampuan positif untuk memproduksi exotoxin, baik secara invitro/invivo, dan dalam media telurit membentuk tipe koloni mitis, intermedius, dan gravis.
• Mempunyai kemampuan untuk membentuk toksin yang dipengaruhi oleh “bacteriophage” yang mengandung “gene tox”.
Mekanisme masuknya kuman ke tubuh manusia umumnya adalah melalui mukosa hidung/mulut, kemudian kuman tersebut akan melekat dan berbiak pada permukaan mukosa saluran nafas bagian atas, dan mulai memproduksi toksin yang meresap ke sekelilingnya untuk selanjutnya disebarkan ke seluruh tubuh melalu pembuluh limfe dan darah.
Efek toksin pada jaringan tubuh manusia adalah menghambat pembentukan protein dalam sel. Toksin diphteri mula – mula menempel pada membrane sel dengan bantuan fragmen B ( fragmen carboxy terminal ). Selanjutnya fragmen A ( fragmen amnio terminal ) akan masuk dan menyebabkan inaktifikasi enzim translokasi , sehingga akan terbntuk rangkaian polipeptida yang diperkirakan sebagai penyebab matinya sel.
Respons tubuh terhadap infeksi C. Diphteria adalah terjadinya inflamasi local yang bersama – sama dengan jaringan nefrotik membentuk bercak exudat. Apabila produksi toksin makin banyak, exodat fibrin makin luas dan makin dalam sehingga terbentuk membrane yang melekat erat. Membran jaringan yang udematos ini makin lama makin meluas mulai dari daerah oro-naso-faring sampai ke dareah trachea, laring, dan bronkus sehingga menimbulkan sumbatan jalan napas. Bilamana sumbatan jalan napas terjadi dibagian atas, maka tindakan trakheostomi dapat membantu.
Toksin yang beredar dalam darah dapat menimbulkan kerusakan sel pada semua organ, terutama jantung, saraf, dan ginjal. Antitoksin diphtheria hanya berpengaruh pada toksin yang masih belum masuk dan bekerja di dalam sel. Toksi yang telah masuk ke dalam sel membutuhkan waktu untuk menimbulkan gejala klinis. Untuk timbulnya miokorditis diperlukan waktu rata – rata 7 – 10 hari, sementara manifestasi saraf terjadi pada minggu ke 3-6 dan seterusnya.
Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu :
 Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
 Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
 Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).
b. Pengkajian data
 Identitas : dapat terjadi pada semua golongan umur, namun sering dijumpai pada anak (usia 1-10 tahun)
 Keluhan utama : biasanya klien dating dengan keluhan kesulitan bernapas pada waktu tidur, nyeri pada waktu makan, dan bengkak pada tenggorokan/leher.
 Riwayat kontak dengan keluarga perlu dikaji
 Pemeriksaan fisik :
1. Pada difteri tonsil – faring terdapat malaise , suhu tubuh > 38,9oC, tedapat pseudomembran pada tonsil dan dinding faring, serta bullnek.
2. Pada difteri laring terdapat stridor, suara parau, dan batuk kering, sementara pada obstruksi laring yang besar terdapat retraksi supra sterna, subcostal, dan supra clavicular.
3. Pada difteri hidung terdapat pilek ringan, secret hidung, yang serosanguinus sampai mukopurulen, dan membran putih pada septum nasi.
 Pemeriksaan Laboratorium
Untuk menetukan diagnosis pasti diperlukan pemeriksaan sediaan langsung dengan kultur dan pemeriksaan toksigenitas.


Gejala umum difteri :
1. Demam tinggi + 38°C
2. Nyeri telan
3. Pusing
4. Tampak selaput berwarna putih keabu-abuan (Pseudomembran)
5. Bengkak pada leher
Gejala Klinis
 Difteri tejadi setelah periode masa inkubasi yang pendek yaitu 2-4 hari, dengan jarakantara1-5hari. Gambaran klinik tergantung pada lokasi anatomi yang dikenai.Beberapa tipe difteri berdasarkan lokasi anatomi adalah:
1. Nasaldiphtheria
 Gejala permulaan dari nasal diphtheria sukar dibedakan dari common cold.Tanda karakteristik adalah dijumpai pengeluaran sekresi hidung tanpa diikuti gejala lain. Demam bila ada biasanya rendah. Pengeluaran sekresi hidung ini mula-mula serous, kemudian serosanguinous, pada beberapa kasus terjadi epistaksis. Pengeluaran sekresi ini bisa hanya berasal dari salah satu lobang hidung ataupun dari keduanya. Lama kelamaan sekresi hidung ini bisa menjadi mucopurulent dan dijumpai exkoriasi pada lobang hidung sebelah luar dan bibir bagian atas, terlihat seperti impetigo.
 Pengeluaran sekresi kadang mengaburkan tentang adanya membrane yang putih pada sekat hidung. Karena absorpsi toxin yang jelek pada tempat lokasi, menyebabkan gejala hanya ringan tanpa adanya gejala yang menonjol. Pada penderita yang tidak diobati, pengeluaran sekresi akan berlangsung untuk beberapa hari sampai beberapa minggu, dan ini merupakan sumber penularan. Infeksi dapat diatasi secara cepat dengan pemberian antibiotika
2. Tonsillar [faucial] diphtheria dan Pharyngealhea
 Penyakit timbul secaraperlahan dengan tanda-tanda, malas, anorexia, sakit tenggorokan, dan panas yang rendah. Dalam waktu 24 jam bercak eksudat atau membrane dijumpai pada daerah tonsil. Berikutnya terjadi perluasan membran, yang bervariasi dari hanya melibatkan sebagian dari tonsil sampai menjalar ke kedua tonsil, uvula, palatum molle dan dinding dari faring. Membran ini rapuh, lengket dan berwarna putih atau abu-abu, dan bila dijumpai perdarahan bisa berwarna hitam. Pengangkatan dari membrane akan mudah menimbulkan perdarahan.
 Terlibatnya tonsil dan faring ditandai dengan pembesaran kelenjar, cervical adenitis dan peri adenitis. Pada kasus yang berat, pembengkakan jelas terlihat dan disebut dengan "bullneck".
 Berat ringannya penyakit tergantung pada berat tidaknya toxemia. Pada keadaan ini temperature bisa normal atau sedikit meninggi, tetapi pols cepat dan tak teratur.
 Pada kasus yang ringan, membrane akan lepas pada hari ke-7 sampai hari ke-10, dan penderita sembuh tanpa adanya gejala yang berarti, sedang pada kasus yang sangat berat, ditandai dengan gejala yang diakibatkan peningkatan toxemia, yaitu; kelemahan yang amat sangat, pucat sangat menonjol, pols halus dan cepat, stupor, kama dan meninggal dalam 6-10 hari. Pada keadaan penyakit yang sedang, penyembuhan terjadi secara perlahan dan biasanya sering diikuti dengan komplikasi miokarditis dan neuritis.
3. Laryngeal atau laryngo tracheal diphtheria
 Laryngeal diphtheria lebih sering merupakan lanjutan dari pharyngeal diphtheria, jarang sekali dijumpai berdiri sendiri. Penyakit ditandai dengan adanya demam, suara serak dan batuk. Peningkatan penyumbatan jalan nafas oleh membrane menimbulkan gejala ; inspiratory stridor, retraksi suprasternal, supra clavicular dan subcostal.
 Pada keadaan yang berat laryngeal diphtheria belanjut sampai kepercabangan trachea bronchial. Pada keadaan yang ringan, yang biasanya diakibatkan oleh pemberian antitoxin, saluran nafas tetap baik, dan membrane dikeluarkan dengan batuk pacta hari ke-6-10.
 Pada kasus yang sangat berat, dijumpai penyumbatan yang semakin berat, diikuti dengan adanya anoxia dan penderita terlihat sakit parah, sianose, kelemahan yang sangat, koma dan berakhir dengan kematian. Kematian yang mendadak bisa dijumpai pada kasus yang ringan yang disebabkan oleh karena penyumbatan yang tiba-tiba oleh bagian membrane yang lepas.
 Gambaran klinik dari laryngeal diphtheria, serupa dengan gambaran mekanikal obstruksi dari saluran nafas, yang biasanya disebabkan oleh membran, dan dijumpai kongesti, oedem, sedang tanda toxemia adalah minimal pada saat pemulaan terinfeksinya laring, hal ini disebabkan karena absorpsi dari toxin sangat kecil sekali di daerah laring. Terlibatnya laring biasanya bersamaan dengan tonsil dan pharyngeal diphtheria, dengan kosekwensi gejala klinik adalah gambaran obstruksi dan toxemia yang berat, yang dijumpai secara serentak
4. Non respiratory diphtheria.
Lebih dari satu lokasi anatomi mungkin terlibat pada waktu yang bersamaan

c. Masalah
 Diagnosis medis : dugaan( suspect ) difteri
 Masalah yang sering terjadi :
- Sesak nafas
- Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
- Resiko terjadi komplikasi (obstruksi jalan napas atau miokarditis).
d. Perencanaan tindakan
Apabila menjumpai anak dengan tanda – tanda yang mengarah pada penyakit difteri, maka anak perlu segera dirujuk ke dokter atau rumah sakit agar mendapatkan diagnosis yang pasti dan penanganan yang benar. Untuk anak yang dirawat dirumah sakit, perencanaan yang bisa dilaksanakan sesuai dengan masalahnnya adalah :
1. Sesak napas, tindakan yang diperlukan adalah :
 Monitor pola napas yang meliputi irama pernapasan, penggunaan otot-otot bantu napas, suara napas, dan frekuensi
 Monitor tanda – tanda vital lainnya ( suhu, nadi, tekanan darah, kesadaran ).
 Berikan oksigen sesuai advis ( 2 – 4 Lt/menit ). Apabila anak masih bayi, atur kepala dengan posisi ekstensi
 Atur posisi tidur pasien (kepala lebih tinggi)
 Jaga kelembaban udara dengan menggunakan rebulizer apabila perlu
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi:
 Berilah diet TKTP sesuai dengan kondisi pasien
 Berilah penjelasan mengenai pentingnya nutrisi yang mencukupi
 Libatkan orang tua dalam pemberian makanan
 Aturlah pemberian makanan dalam porsi yang sedikit tapi sering
 Timbanglah berat badan setiap hari.
3. Resiko terjadi komplikasi :
 Observasi tanda – tanda infeksi dan tanda – tanda obstruksi jalan napas tiap 2 jam atau sesuai dengan kebutuhan
 Anjurkan istirahat mutlak selama 10 – 14 hari.
 Lakukan pemeriksaan ECG ( sesuai kebutuhan ).
 Kolaborasi pemberian ADS sedini mungkin
 Kolaborasi pemberian terapi antibiotic
C. HIV / AIDS
Konsep Dasar Penyakit HIV/AIDS
Virus AIDS menyerang sel darah putih (limfosit T4) yang merupakan sumber kekebalan tubuh untuk menangkal berbagai penyakit infeksi. Dengan memasuki limfosit T4, virusmemaksa limfosit T4 untuk memperbanyak dirinya sehingga akhirnya menyebabkan kematian limfosit T4. Kematian limfosit T4 itu membuat daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi dari luar ( baik virus lain,bakteri, jamur,atau parasit). Hal itu menyebabkan kematian pada orang yang terjangkit HIV/AIDS. Selain menyerang limfosit T4,virus AIDS juga memasuki sel tubuh yang lain. Organ yang paling sering terkena adalah otakdan susunan saraf lainnya. Virus AIDS diliputi oleh suatu protein pembungkus yang sifatnya tosik (racun) terhadap sel, khususnya sel otak dan susunan saraf pusat dan tepi lainnya yang dapat mengakibatkan kematian sel otak. Masa inkubasi berkisar antara 6 bulan sampai 5 tahun, ada yang sampai 11 tahun,yang terbanyak kurang dari 11 tahun.

Tanda dan Gejala Penyakit HIV/AIDS pada Bayi dan Anak
a. Demam yang tidak kunjung sembuh lebih dari 3 bulan
b. Diare kronis lebih dari 1bulan berulang maupun terus-menerus.
c. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 bulan (2 dari 3 gejala utama).
d. Batuk kronis selama 1 tahun.
e. Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur candida albicans.
f. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di selruh tubuh.
g. Munculnya herpes zoster berulang.
h. Bercak-bercak dan gatal-gatal di seluruh tubuh.

Masalah Keperawatan yang sering Dialami Anak dengan Penyakit HIV/AIDS
a. Risiko infeksi
b. Kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan)
c. Kurangnya volume cairan
d. Gangguan integritas kulit
e. Perubahan atau gangguan membrane mukosa

Rencana Tindakan Keperawatan
• Risiko Infeksi
Tindakan:
a. Kaji perubahan tanda-tanda infeksi(demam,peningkatan nadi, peningkatankecepatan nafas, kelemahan tubuh, atau letargi).
b. Kaji factor yang memperburuk terjadinya infeksi seperti usia,status nutrisi,penyakit kronis lain.
c. Monitor tanda-tanda vital tiap 4jam, tanda vital merupakan indicator terjadinya infeksi.
d. Monitor sel darh putih dan hitung jenis tiap hari, untuk memonitor terjadinya neotropenia.
e. Ajarkan dan jelaskan pada keluarga dan pengunjung tentang pencegahan secara umum, untuk menyiapkan keluarga/pegunjung turut serta memutus rantai penularan HIV/AIDS.
f. Instruksikan padaseluruh pengunjung untuk cuci tangan sebelum dan sesudah memasuki ruangan pasien.
g. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic, antiviral, antijamur sesuai saran dokter, untuk membunuh kuman penyebab.
h. Lindungi individu dari resiko infeksi dengan universal precaution.

• Kurang Nutrisi (Kurang Dari Kebutuhan )
Tindakan:
a. Kaji perubahan status nutrisi dengan menimbang berat badan setiap hari.
b. Monitor asupan dan keluaran tiap 8 jam dan turgor kulit.
c. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
d. Rencanakan makanan enteral atau parenteral.

• Kurang Volume Cairan Tubuh
Tindakan:
a. Berikan cairan sesuai dengan indikasiatau toleransi.
b. Ukurlah asupan dan keluaran termasuk urine, tinja.
c. Monitor kadar elektrolit dalam tubuh.
d. Kaji tanda vital, watu penekanan daerah perifer, nadi perifer, turgor kulit, mukosa membrane, ubun-ubun tiap 4 jam.
e. Monitor urine tiap 6-8 jam sesuai dengan kebutuhan.
f. Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai dengan kebutuhan.

• Gangguan Integritas Kulit
Tindakan:
a. Gantilah popok atau celana anak apabila basah.
b. Bersihkan pantat dan keringkan setiap kali buang air besar (defekasi)
c. Gunakan salep atau losion.

• Perubahan atau Gangguan Mukosa Membran Mulut
Tindakan:
a. Kaji membrane ukosa.
b. Berikan pengobatan sesuai sarn dokter.
c. Lakukan perawatan mulut tiap2 jam.
d. Gunakan sikatgigi yang lembut untuk membersihkan gigi, gusi, dan lidah.
e. Oleskan garam fisiologis tiap 4 jam dan sesudah membersihkan mulut.
f. Kolaborasi pemberian obat profilaksis (ketoconazole, flucanozole) selama pengobatan.
g. Gunakan antiseptic oral.
h. Check up gigi secara teratur.


D. TBC
1. Konsep dasar
Tuberkulosis paru (TBC) merupakan penyakit infeksi menular pada sistem pernafasan yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang dapat mengenai bagian paru. Proses penularan melalui udara atau langsung seperti saat batuk. Anak rentan terhadap organisme yang menyerang manusia (M. tuberculosis ) dan sapi (bovine) (Mycobacterium bovis). Dibeberapa negara tempat tuberkulosis pada sapi tidak terkendali atau pasteurisasi susu tidak dilakukan, jenis bovine merupakan sumber infeksi yang sering terjadi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain:
a. Hereditas
b. Gender
c. Usia
d. Stres
e. Status nutrisi
Sumber infeksi pada anak-anak biasanya adalah anggota rumah tangga yang terinfeksi. Sumber lain dapat juga dari pengasuh bayi, pembantu rumah tangga, atau orang yang sering berkunjung ke rumah.
Penyakit ini dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu:
• Tuberkulosis paru primer yang sering terjadi pada anak. Proses ini dapat dimulai dari proses yang disebut droplet nuklei yaitu suatu prose terinfeksinya partikel yang mengandung dua atau lebih kuman tuberkulosis yang hidup dan terhirup serta diendapkan pada permukaan alveoli. Kemudian terjadi eksudasi dan dilatasi pada kapiler, pembengkakan sel endotel dan alveolar, keluar fibrin, makrofag ke dalam ruang alveolar
• Tuberkulosis pascaprimer, terjadi pada klien yang sebelumnya terinfeksi oleh kuman mikobakterium tuberkulosa
Etiologi
Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara, hingga sebagian besar fokus primer tuberkulosis terdapat dalam paru. Selain melalui udara penularan dapat peroral misalnya susu yang mengandung basil tuberberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit.
Perjalanan Penyakit (Patogenesis)
1. Tuberkulosis Primer
Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar UV ventilasi yang baik dan kelembabab udara. Dalam suasana gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman dapat juga masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini jarang terjadi.
Bila kuman menetap di jaringan paru maka akan membentuk sarang TB pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis local) dan juga diikuti pembesaran getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer + limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer.
Komplek primer ini selajutnya dapat menjadi :
* Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat
* Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus atau kompleks (sarang) Ghon.
* Berkomplikasi dan menyebar secara :
a. Per kontinuitatum, yakni menyebar kesekitarnya.
b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar keusus.
c. Secara limfogen, keorgan tubuh lainnya
d. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya.
2. Tuberkulosis Post Primer
Kuman yang dormant pada TB primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi TB dewasa (TB post primer). TB post primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru-paru (bagian apical posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru.


Pemeriksaan Diagnostik.
1. Reaksi hipersensitivitas : Tes Kulit Tuberkulin
a. Tes tuberkulin intradermal (Mantoux)
b. Tes tuberkulin dengan suntikan jet
c. Tes tuberkulin tusukan majemuk
2. Pemeriksaan radiografik
Gambaran TBC milier berupa bercak-bercak halus tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Gambaran radiology lain yang sering menyertai TBC paru adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).
3. Pemeriksaan Bakteriologik
Pemeriksaan ini penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positip adalah sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.

2. Tanda dan gejala
Dapat bersifat simfat simptomatik atau menimbulkan bermacam-macam gejala:
Demam
Malaise
Anoreksia
Penurunan berat badan
Batuk ada atau tidak (berkembang secara perlahan selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan)
Nyeri menusuk dan rasa sesak di dada
Sejalan dengan perkembangan:
 Peningkatan frekuensi napas
 Ekspansi paru buruk pada tempat yang sakit
 Bunyi hilang dan ronki kasar
 Pekak pada saat perkusi
 Demam persisten
 Manifestasi gejala yang umum
 Pucat, anemia, kelemahan, dan penurunan berat badan
3. Masalah yang sering dialami pada anak
a. Pola nafas tidak efektif
b. Takut/cemas
c. Bersihan jalan nafas tidak efektif
d. Risiko infeksi
e. Intoleransi aktivitas
f. Nyeri
g. Perubahan keluarga

4. Perencanaan tindakan pada anak
a. Pola nafas tidak efektif
Terjadinya pola nafas tidak efektif dapat disebabkan karena adanya proses inflamasi pada paru atau parenkim paru. Tujuan rencana keperawatannya adalah mengembalikan fungsi pernapasan secara normal.
Tindakan :
1. Aturlah posisi dengan memungkinkan ekspansi paru maksimum dengan semifowler atau kepala agak tinggi kurang lebih 30 derajat.
2. Hindari pakaian anak yang terlalu ketat.
3. Berikan atau sokongan agar jalan napas memungkinkan tetap terbuka.
4. Berikan oksigenasisesuai dengan kebutuhan anak.
5. Berikan atau tingkatkan istirahat dan tidur sesuai dengan kebutuhan anak atau dengan jadwal yang tepat.
6. Berikan pelembap untuk melancarkan jalan pernapasan.
7. Ajarkan teknik relaksasi pada anak yang sudah memahami, sudah bias, atau mengerti.
8. Monitor pernapasan, irama, kedalaman atau gunakan oksimetri nadi untuk memantau saturasi oksigenasi.
b. Bersihan jalan napas tidak efektif
Masalah bersihan jalan napas pada anak dengan peradangan pada paru dapat disebabkan oleh adanya obstruksi, inflamasi dan peningkatan sekresi atau nyeri yang membuat anak tidak mampu batuk secara efektif. Upaya yang dilakukan adalahdengan cara mempertahankan napas atau kepatenan jalan napas, sehingga diharapkan napasnya bersih dan mampu mengeluarkan sekresi secara adekuat.
Tindakan:
1. Atur posisi dengan tubuh sejajar yang dapat membuat ekspansi paru.
2. Lakukan penghisapan sekresi jalan napas.
3. Bantu anak untuk mengeluarkan sputum atau latih batuk secara efektif bila sudah mengerti.
4. Lakukan fisioterapi dada.
5. Berikan ekspektoran yang sesuai untuk memudahkan pengeluaran sputum.
6. Berikan cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekresi.
7. Berikan nebulasi dengan larutan dan alat yang tepat sesuai dengan ketentuan.
c. Nyeri
Nyeri yang terjadi pada anak dengan penyakit keradangan paru ini akibat proses inflamasi. Hal ini dapat diatasi dengan menurunkan ambang nyeri sampai batas toleransi yang diterima anak.
Tindakan:
1. Berikan kompres panas atau dingin pada daerah yang sakit.
2. Berikan analgesic sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada anak.
3. Berikan aktivitas pengalihan sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak.













BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Beberapa penyakit menular yang ditemukan pada anak-anak adalah tetanus, difteri, HIV / AIDS dan TBC.
• Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka.
• Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria.
• Virus AIDS menyerang sel darah putih (limfosit T4) yang merupakan sumber kekebalan tubuh untuk menangkal berbagai penyakit infeksi.
• Tuberkulosis paru (TBC) merupakan penyakit infeksi menular pada sistem pernafasan yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang dapat mengenai bagian paru. Proses penularan melalui udara atau langsung seperti saat batuk.
Berbagai asuhan keperawatan yang tepat dilakukan oleh perawat untuk menangani masalah penyakit menular pada bayi dan balita tersebut.

SARAN
Setelah membaca makalah ini disarankan kepada pembaca terutama perawat agar lebih memperhatikan tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada klien terutama bayi dan balita karena tindakan yang diberikan kepada orang dewasa berbeda dengan bayi dan balita. Selain itu disarankan kepada kepada mahasiswa keperawatan untuk dapat membuat makalh yang lebih sempurna dari makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Azis Alimul.2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika
http://askep-askeb.cz.cc/2009/09/askep-anak-dengan-tetanus.html (diakses tanggal 18 Maret 2010 )

http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/05/asuhan-keperawatan-dengan-tetanus.html (diakses tanggal 18 Maret 2010 )

http://perawatpskiatri.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan_15.html (diakses tanggal 18 Maret 2010 )

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=3&ved=0CAwQFjAC&url=http%3A%2F%2Fwww.pediatrik.com%2Fperawat_pediatrik%2F061031-joiq163.doc&rct=j&q=asuhan+keperawatan+pada+pasien+tetanus&ei=59ShS7iZFoGyrAfm-eTgCA&usg=AFQjCNGlVPiau_JECXhsK_XOceYbqbmZ1A (diakses tanggal 18 Maret 2010)

Lubis, Chairuddin P. Diphtheria ( http://www.usu.ac.id/id/files/artikel/Dipteri.pdf diakses tanggal 18 Maret 2010)
Novia, Mira. 2009. Difteri, Bagaimana Penularan dan Pencegahannya. Diakses tanggal 18 Maret 2010 ( http://www.surabaya-ehealth.org/dkksurabaya/berita/difteri-bagaimana-penularan-dan-pencegahannya )
Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba Medika
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
TBC Pada Anak. http://karyatulisilmiahkesehatan.blogspot.com/2008/11/tbc-pada-anak.html ( diakses tanggal 18 Maret 2010 )

ANEMIA

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.

2. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia

viskositas darah menurun

resistensi aliran darah perifer

penurunan transport O2 ke jaringan

hipoksia, pucat, lemah

beban jantung meningkat

kerja jantung meningkat

payah jantung
3. Etiologi:
a. Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
b. Perdarahan
c. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
d. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper

4. Klasifikasi anemia:
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis :
a. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:

 Anemia aplastik
Penyebab:
• agen neoplastik/sitoplastik
• terapi radiasi
• antibiotic tertentu
• obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
• benzene
• infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik
Gejala-gejala:
• Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
• Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
Morfologis: anemia normositik normokromik

 Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
• Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
• Hematokrit turun 20-30%
• Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopoitin

 Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan berbagai keganasan

 Anemia defisiensi besi
Penyebab:
a. Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
b. Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
c. Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid, dll.)

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
a. Atropi papilla lidah
b. Lidah pucat, merah, meradang
c. Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
d. Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
 Anemia megaloblastik
Penyebab:
• Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
• Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.



Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

 Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
• Pengaruh obat-obatan tertentu
• Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik
• Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
• Proses autoimun
• Reaksi transfusi
• Malaria


Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis

Tanda dan Gejala
• Lemah, letih, lesu dan lelah
• Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
• Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat.

Kemungkinan Komplikasi yang muncul
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
• Gagal jantung,
• Parestisia dan
• Kejang.

5. Pemeriksaan Khusus dan Penunjang
• Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin parsial.
• Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity serum
• Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta sumber kehilangan darah kronis.

6. Terapi yang Dilakukan
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang:
a. Anemia aplastik:
• Transplantasi sumsum tulang
• Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
b. Anemia pada penyakit ginjal
• Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
• Ketersediaan eritropoetin rekombinan
c. Anemia pada penyakit kronis
• Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
d. Anemia pada defisiensi besi
• Dicari penyebab defisiensi besi
• Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat ferosus.
e. Anemia megaloblastik
• Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.
• Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
• Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Usia anak: Fe ↓ biasanya pada usia 6-24 bulan
b. Pucat
• pasca perdarahan
• pada difisiensi zat besi
• anemia hemolistik
• anemia aplastik
c. Mudah lelah
Kurangnya kadar oksigen dalam tubuh
d. Pusing kepala
Pasokan atau aliran darah keotak berkurang
e. Napas pendek
Rendahnya kadar Hb
f. Nadi cepat
Kompensasi dari refleks cardiovascular
g. Eliminasi urnie dan kadang-kadang terjadi penurunan produksi urine
h. Penurunan aliran darah keginjal sehingga hormaon renin angiotensin aktif untuk menahan garam dan air sebagai kompensasi untuk memperbaiki perpusi dengan manefestasi penurunan produksi urine
i. Gangguan pada sisten saraf
Anemia difisiensi B 12
j. Gangguan cerna
Pada anemia berat sering nyeri timbul nyeri perut, mual, muntah dan penurunan nafsu makan
k. Pika
Suatu keadaan yang berkurang karena anak makan zat yang tidakbergizi, Anak yang memakan sesuatu apa saja yang merupakan bukan makanan seharusnya (PIKA)
l. Iritabel (cengeng, rewel atau mudah tersinggung)
m. Suhu tubuh meningkat
Karena dikeluarkanya leokosit dari jaringan iskemik
n. Pola makan
o. Pemeriksaan penunjang
1. Hb
2. Eritrosit
3. Hematokrit
p. Program terafi, perinsipnya :
1. Tergantung berat ringannya anemia
2. Tidak selalu berupa transfusi darah
3. Menghilangkan penyebab dan mengurangi gejala

Nilai normal sel darah
Jenis sel darah :
1. Eritrosit (juta/mikro lt) umur bbl 5,9 (4,1 – 7,5), 1 Tahun 4,6 (4,1 – 5,1), 5 Tahun 4,7 (4,2 -5,2), 8 – 12 Tahun 5 (4,5 -5,4).
2. Hb (gr/dl)Bayi baru lahir 19 (14 – 24), 1 Tahun 12 (11 – 15), 5 Tahun 13,5 (12,5 – 15), 8 – 12 Tahun 14 (13 – 15,5).
3. Leokosit (per mikro lt) Bayi baru lahir 17.000 (8-38), 1 Tahun 10.000 (5 – 15), 5 Tahun 8000 (5 – 13), 8 – 12 Tahun 8000 (5-12).
Trombosit (per mikro lt)Bayi baru lahir 200.000, 1 Tahun 260.000, 5 Tahun 260.000, 8 – 12 Tahun 260.000
4. Hemotokrit (%0)Bayi baru lahir 54, 1 Tahun 36, 5 Tahun 38, 8 – 12 Tahun 40.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Intoleransi aktivitas b/d gangguan sistem transpor oksigen sekunder akibat anemia
b. Kurang nutrisi dari kebutuhan b/d ketidak adekuatan masukan sekunder akibat: kurang stimulasi emosional/sensoris atau kurang pengetahuan tentang pemberian asuhan
c. Ansietas/cemas b/d lingkungan atau orang

3. RENCANA
a. Intoleransi aktivitas b/d gangguan sistem transpor oksigen sekunder akibat anemia
Rencana Tindakan:
• Monitor Tanda-tanda vital seperti adanya takikardi, palpitasi, takipnue, dispneu, pusing, perubahan warna kulit, dan lainya
• Bantu aktivitas dalam batas tolerasi
• Berikan aktivitas bermain, pengalihan untuk mencegah kebosanan dan meningkatkan istirahat
• Pertahankan posisi fowler dan berikan oksigen suplemen
• Monitor tanda-tanda vital dalam keadaan istirahat

b. Kurang nutrisi dari kebutuhan b/d ketidak adekuatan masukan sekunder akibat : kurang stimulasi emosional/sensoris atau kurang pengetahuan tentang pemberian asuhan
Rencana Tindakan:
• Berikan nutrisi yang kaya zat besi (fe) seperti makanan daging, kacang, gandum,
sereal kering yang diperkaya zat besi
• Berikan susu suplemen setelah makan padat
• Berikan preparat besi peroral seperti fero sulfat, fero fumarat, fero suksinat,
fero glukonat, dan berikan antara waktu makan untuk meningkatkan absorpsi berikan bersama jeruk
• Ajarkan cara mencegah perubahan warna gigi akibat minum atau makan zat besi dengan cara berkumur setelah minum obat, minum preparat dengan air atau jus jeruk
• Berikan multivitamin
• Jangan berikan preparat Fe bersama susu
• Kaji fases karena pemberian yang cukup akan mengubah fases menjadi hijau gelap
• Monitor kadar Hb atau tanda klinks
• Anjurkan makan beserta air untuk mengurangi konstipasi
• Tingkatkan asupan daging dan tambahan padi-padian serta sayuran hijau dalam diet
c. Ansietas/cemas b/d lingkungan atau orang
Rencana Tindakan:
• Libatkan orang tua bersama anak dalam persiapan prosedur diagnosis
• Jelaskan tujuan pemberian komponen darah
• Antisipasi peka rangsang anak, kerewelan dengan membantu aktivitas anak
• Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan
• Berikan darah, sel darah atau trombosit sesuai dengan ketentuan, dengan
harapan anak mau menerima


LEUKIMIA

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Leukimia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur dalam jaringan pembentuk darah. (Suriadi, & Rita yuliani, 2001 : 175).
Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 : 248 )
Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain. (Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495)
Berdasarkan dari beberapa pengetian diatas maka penulis berpendapat bahwa leukimia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh prolioferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah.

2. Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
a. Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (Tcell Leukemia – Lhymphoma Virus/ HLTV).
b. Radiasi
c. Obat-obat imunosupresif, obat-obat kardiogenik seperti diethylstilbestrol
d. .Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot.
e. Kelainan kromosom, misalnya pada down sindrom. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177)

Leukemia biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian besar jenis leukemia tidak diketahui. Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia.

3. Gambaran klinik
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut :
a. Pilek tidak sembuh-sembuh
b. .Pucat, lesu, mudah terstimulasi
c. Demam dan anorexia
d. Berat badan menurun
e. Ptechiae, memar tanpa sebab
f. Nyeri pada tulang dan persendi
g. Nyeri abdomen
h. Lumphedenopathy
i. Hepatosplenomegaly
j. Abnormal WBC
(Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177)

4. Insiden
ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate) rata-rata yang juga lebih rendah.
ANLL (Acute Nonlymphoid Leukemia) mencakup 15% sampai 25% kasus leukemia pada anak. Resiko terkena penyakit ini meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti Sindrom Down. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi 70%). Remisinya lebih singkat pada anak-anak dengan ALL. Lima puluh persen anak yang mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi berkepanjangan. (Betz, Cecily L. 2002. hal : 300).
5. Patofisiologi
a. Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia.
b. Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi.
c. Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yangt akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan.
d. Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri persendian.
(Suriadi, & Yuliani R, 2001: hal. 175)

6. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostic
a. Hitung darah lengkap complete blood cell (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki memiliki prognosis paling baik; jumlah lekosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
b. Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan susunan saraf pusat
c. Foto toraks untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum.
d. Aspirasi sumsum tulang. Ditemukannya 25% sel blas memperkuat diagnosis.
e. Pemindaian tulang atau survei kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang.
f. Pemindaian ginjal, hati, limpa untuk mengkaji infiltrat leukemik
g. Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan.
(Betz, Cecily L. 2002. hal : 301-302).

7. Penatalaksanaan Medis
Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak. Proses induksi remisi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima berbagai agens kemoterapeutik untuk menimbulkan remisi. Periode intensif diperpanjang 2 sampai 3 minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem saraf pusat dan organ vital lain. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison (antiinflamasi), vinkristin (antineoplastik), asparaginase (menurunkan kadar asparagin (asam amino untuk pertumbuhan tumor), metotreksat (antimetabolit), merkaptopurin, sitarabin (menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik akut), alopurinol, siklofosfamid (antitumor kuat), dan daunorubisin (menghambat pembelahan sel selama pengobatan leukemia akut). (Betz, Cecily L. 2002. : 302).

B. ASUHAN KEPERAWATAN
Menurut American Nursing Association (ANA) proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis yang diberikan kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan berfokus pada respon unik dari individu, keluarga, dan masyarakat terhadap masalah kesehatan yang potensial maupun aktual. ( Marilynn E. Doengoes, dkk .2000 : 6 ).
Di dalam memberikan asuhan keperawatan terdiri dari beberapa tahap atau langkah-langkah proses keperawatan yaitu ; pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa keperawatan. (Budi Anna Keliat, 1994)
Pengkajian pada leukemia meliputi :
a. Riwayat penyakit
b. Kaji adanya tanda-tanda anemia :
• Pucat
• Kelemahan
• Sesak
• Nafas cepat

c. Kaji adanya tanda-tanda leucopenia
• Demam
• Infeksi
d. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia :
• Ptechiae
• Purpura
• Perdarahan membran mukosa
e. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola :
• Limfadenopati
• Hepatomegali
• Splenomegali
f. Kaji adanya pembesaran testis
g. Kaji adanya :
• Hematuria
• Hipertensi
• Gagal ginjal
• Inflamasi disekitar rectal
• Nyeri (Suriadi,R dan Rita Yuliani,2001 : 178)

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) adalah “ suatu penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan diamana perawat bertanggung gugat “ (Wong,D.L, 2004 :331)
Menurut Wong, D.L (2004 :596 – 610) , diagnosa pada anak dengan leukemia adalah :
a. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
c. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
e. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi
f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
g. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
h. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas.
i. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan.
j. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia.
k. Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan anak.

3. Rencana keperawatan
Rencana keperawatan merupakan serangkaian tindakan atau intervensi untuk mencapai tujuan pelaksanaan asuhan keperawatan. Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Berdasarkan diagnosa yang ada maka dapat disusun rencana keperawatan sebagai berikut (Wong,D.L,2004 )
a. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
Tujuan : Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi :
• Pantau suhu dengan teliti
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
• Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
• Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
• Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif
Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
• Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi
• Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organism
• Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
• Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh
• Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi :
• Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dala aktifitas sehari-hari
Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
• Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringa
• Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi
• Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri

c. Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
Tujuan : klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdaraha
Intervensi :
• Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada daerah ekimosis
Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya anemia
• Cegah ulserasi oral dan rektal
Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah
• Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional : untuk mencegah perdarahan
• Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional : untuk mencegah perdarahan
• Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)
Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan
• Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional : karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosi
• Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol perdarahan hidung
Rasional : untuk mencegah perdarahan

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan :
- Tidak terjadi kekurangan volume cairan
- Pasien tidak mengalami mual dan muntah
Intervensi :
• Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional : untuk mencegah mual dan muntah
• Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi
Rasional : untuk mencegah episode berulang
• Kaji respon anak terhadap anti emetik
Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil
• Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah
• Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik
• Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
Rasional : untuk mempertahankan hidras

e. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi
Tujuan : pasien tidak mengalami mukositis oral
Intervensi :
• Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral
Rasional : untuk mendapatkan tindakan yang segera
• Hindari mengukur suhu oral
Rasional : untuk mencegah trauma
• Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas, atau jari yang dibalut kasa
Rasional : untuk menghindari trauma
• Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau tanpa larutan bikarbonat
Rasional : untuk menuingkatkan penyembuhan
• Gunakan pelembab bibir
Rasional : untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan mencegah pecah-pecah (fisura)
• Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil
Rasional : karena bila digunakan pada faring, dapat menekan refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat menyebabkan kejang
• Berikan diet cair, lembut dan lunak
Rasional : agar makanan yang masuk dapat ditoleransi anak
• Inspeksi mulut setiap hari
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
• Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan
Rasional : untuk membantu melewati area nyeri
• Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu magnesia
Rasional : dapat mengiritasi jaringan yang luka dan dapat membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan memecah protein dan dapat mengeringkan mukosa
• Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan
Rasional : untuk mencegah atau mengatasi mukositis
• Berikan analgetik
Rasional : untuk mengendalikan nyeri

f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
Tujuan : pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Intervensi :
• Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan
Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi
• Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan unmtuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat
Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
• Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas
Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
• Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan
• Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik
• Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat
• Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep
Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari normal

g. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
Tujuan : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak
Intervensi :
• Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi
• Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan suhu non invasif, alat akses vena
Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman
• Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran dan sedasi
Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu pemberian atau oba
• Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat
Rasional : sebagai analgetik tambahan
• Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur
Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri

h. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas
Tujuan : pasien mempertahankan integritas kulit
Intervensi :
• Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal
Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi
• Ubah posisi dengan sering
Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit
• Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit
• Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker
Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi
• Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering
Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit
• Dorong masukan kalori protein yang adekuat
Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negative
• Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi
Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan

i. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan
Tujuan : pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif
Intervensi :
• Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa gaya dan warna rambut anak sebelum rambut mulai rontok
Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian rambut terhadap kerontokan rambut
• Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari, angin atau dingin
Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut
• Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih, pendek dan halus
Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial
• Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda
Rasional : untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap perubahan penampilan rambut baru
• Dorong hygiene, berdan, dan alat alat yang sesuai dengan jenis kelamin , misalnya wig, skarf, topi, tata rias, dan pakaian yang menarik
Rasional : untuk meningkatkan penampilan

j. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia
Tujuan : pasien atau keluarga menunjukkan pengetahuan tentang prosedur diagnostik atau terapi
Intervensi :
• Jelaskan alasan setiap prosedur yang akan dilakukan pda anak
Rasional : untuk meminimalkan kekhawatiran yang tidak perlu
• Jadwalkan waktu agar keluarga dapat berkumpul tanpa gangguan dari staff
Rasional : untuk mendorong komunikasi dan ekspresi perasaan
• Bantu keluarga merencanakan masa depan, khususnya dalam membantu anak menjalani kehidupan yang normal
Rasional : untuk meningkatkan perkembangan anak yang optimal
• Dorong keluarga untuk mengespresikan perasaannya mengenai kehidupan anak sebelum diagnosa dan prospek anak untuk bertahan hidup
Rasional : memberikan kesempatan pada keluarga untuk menghadapi rasa takut secara realistis
• Diskusikan bersama keluarga bagaimana mereka memberitahu anak tentang hasil tindakan dan kebutuhan terhadap pengobatan dan kemungkinan terapi tambahan
Rasional : untuk mempertahankan komunikasi yang terbuka dan jujur
• Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada
Rasional : untuk mencegah bertambahnya rasa khawatiran keluarga

k. Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan anak
Tujuan : pasien atau keluarga menerima dan mengatasi kemungkinan kematian anak
Intervensi :
• Kaji tahapan berduka terhadap anak dan keluarga
Rasional : pengetahuan tentang proses berduka memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami dan dapat membantu pasien dan keluarga lebih efektif menghadapi kondisinya
• Berikan kontak yang konsisten pada keluarga
Rasional : untuk menetapkan hubungan saling percaya yang mendorong komunikasi
• Bantu keluarga merencanakan perawatan anak, terutama pada tahap terminal
Rasional : untuk meyakinkan bahwa harapan mereka diimplementasikan
• Fasilitasi anak untuk mengespresikan perasaannya melalui bermain
Rasional : memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat untuk mencapai hasil yang efektif. Dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan demikian tujuan dari rencana yang telah ditentukan dapat tercapai (Wong. D.L.2004:hal.331).

5. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien. Menurut Wong. D.L, (2004 hal 596-610) hasil yang diharapkan pada klien dengan leukemia adalah :
a. Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
b. Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
c. Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
d. Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan muntah
e. Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak adanya rasa tidak nyaman
f. Masukan nutrisi adekuat
g. Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
h. Kulit tetap bersih dan utuh
i. Anak mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan kerontokan rambut, anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek kerontokan rambut dan menerapkan metode ini dan anak tampak bersih, rapi, dan berpakaian menarik.
j. Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang prosedur, keluarga menunjukkan pengetahuan tentang penyakit anak dan tindakannya. Keluarga mengekspresikan perasaan serta kekhawatirannya dan meluangkan waktu bersama anak.
k. Keluarga tetap terbuka untuk konseling dan kontak keperawatan, keluarga dan anak mendiskusikan rasa takut, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan mereka pada tahap terminal, pasien dan keluarga mendapat dukungan yang adekuat.

SINDROMA NEFROTIK

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian
Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004 : 550).Sindrom Nefrotik merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh injuri glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik; proteinuria, hipoproteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema (Suriadi dan Rita Yuliani, 2001: 217).
Sindrom nefrotik (SN) merupakan sekumpulan gejala yang terdiri dari proteinuria massif (lebih dari 50 mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia (kurang dari 2,5 gram/100 ml) yang disertai atau tidak disertai dengan edema dan hiperkolesterolemia. (Rauf, 2002 : 21).Berdasarkan pengertian diatas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa Sindrom Nefrotik pada anak merupakan kumpulan gejala yang terjadi pada anak dengan karakteristik proteinuria massif hipoalbuminemia, hiperlipidemia yang disertai atau tidak disertai edema dan hiperkolestrolemia.

2. Etiologi
Sebab pasti belum diketahui. Umunya dibagi menjadi :
a. .Sindrom nefrotik bawaan. Diturunkan sebagai resesif autosom atau karena reaksi fetomaternalb.
b. Sindrom nefrotik sekunder. Disebabkan oleh parasit malaria, penyakit kolagen, glomerulonefritis akut, glomerulonefrits kronik, trombosis vena renalis, bahan kimia (trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, raksa), amiloidosis, dan lain-lain.
c. Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) (Arif Mansjoer,2000 :48)
3. Insiden
a. Insidens lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan.
b. Mortalitas dan prognosis anak dengan sindrom nefrotik bervariasi berdasarkan etiologi, berat, luas kerusakan ginjal, usia anak, kondisi yang mendasari, dan responnya trerhadap pengobatan
c. .Sindrom nefrotik jarang menyerang anak dibawah usia 1 tahund.Sindrom nefrotik perubahan minimal (SNPM) menacakup 60 – 90 % dari semua kasus sindrom nefrotik pada anake.Angka mortalitas dari SNPM telah menurun dari 50 % menjadi 5 % dengan majunya terapi dan pemberian steroid.f.Bayi dengan sindrom nefrotik tipe finlandia adalah calon untuk nefrektomi bilateral dan transplantasi ginjal. (Cecily L Betz, 2002 : 334)

4. Patofisiologi
a. Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat pada hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria. Lanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan menurunnya albumin, tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan intravaskuler berpindah ke dalam interstitial. Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang, sehingga menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena hypovolemi.
b. Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan merangsang produksi renin – angiotensin dan peningkatan sekresi anti diuretik hormon (ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian terjadi retensi kalium dan air. Dengan retensi natrium dan air akan menyebabkan edema.
c. Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin dan penurunan onkotik plasma
d. Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipopprtein dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak dalam urin (lipiduria)
e. Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng. (Suriadi dan Rita yuliani, 2001 :217)


5. Manifestasi klinik
a. Manifestasi utama sindrom nefrotik adalah edema. Edema biasanya bervariasi dari bentuk ringan sampai berat (anasarka). Edema biasanya lunak dan cekung bila ditekan (pitting), dan umumnya ditemukan disekitar mata (periorbital) dan berlanjut ke abdomen daerah genitalia dan ekstermitas bawah.
b. Penurunan jumlah urin : urine gelap, berbusac.Pucatd.Hematurie.Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa usus.f.Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan meningkat dan keletihan umumnya terjadi.g.Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang), (Betz, Cecily L.2002 : 335 ).

6. Pemeriksaan diagnostic
a. Uji urine:
• Protein urin – meningkat
• Urinalisis – cast hialin dan granular, hematuria
• Dipstick urin – positif untuk protein dan darah
• Berat jenis urin – meningkat
b. Uji darah
• Albumin serum – menurun
• Kolesterol serum – meningkat
• Hemoglobin dan hematokrit – meningkat (hemokonsetrasi)
• Laju endap darah (LED) – meningkat
• Elektrolit serum – bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan.
c. Uji diagnostic.
Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin (Betz, Cecily L, 2002 : 335).

7. Penatalaksanaan Medik
a. Istirahat sampai edema tinggal sedikit. Batasi asupan natrium sampai kurang lebih 1 gram/hari secara praktis dengan menggunakan garam secukupnya dan menghindar makanan yang diasinkan. Diet protein 2 – 3 gram/kgBB/hari
b. Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam, dapat digunakan diuretik, biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari. Bergantung pada beratnya edema dan respon pengobatan. Bila edema refrakter, dapat digunakan hididroklortiazid (25 – 50 mg/hari), selama pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemi, alkalosis metabolik dan kehilangan cairan intravaskuler berat.
c. Pengobatan kortikosteroid yang diajukan Internasional Coopertive Study of Kidney Disease in Children (ISKDC), sebagai berikut :
• Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60 mg/hari luas permukaan badan (1bp) dengan maksimum 80 mg/hari.
• Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari dengan dosis 40 mg/hari/1bp, setiap 3 hari dalam satu minggu dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Bila terdapat respon selama pengobatan, maka pengobatan ini dilanjutkan secara intermitten selama 4 minggud.Cegah infeksi. Antibiotik hanya dapat diberikan bila ada infeksie.Pungsi asites maupun hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital(Arif Mansjoer,2000 : 488 )

8. Komplikasi
a. Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah akibat hipoalbuminemia.
b. Shock : terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock.
c. Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma.
d. Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal.(Rauf, .2002 : .27-28).

B. ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah dan memulihkan kesehatan.Proses Keperawatan merupakan susunan metode pemecahan masalah yang meliputi pengkajian keperawatan, identifikasi/analisa maslah (diagnosa Keperawatan), perencanaan, implementasi dan evaluasi yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan profesional tenaga keperawatan (Hidayat,2004.hal.95)
a. Pengkajian.
Pengkajian merupakan langkah awal dari tahapan proses keperawatan. Dalam mengkaji, harus memperhatikan data dasar pasien. Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian.Pengkajian yang perlu dilakukan pada klien anak dengan sindrom nefrotik (Donna L. Wong,200 : 550) sebagai berikut :
• Lakukan pengkajian fisik termasuk pengkajian luasnya edema
• Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat, terutama yang berhubungan dengan penambahan berat badan saat ini, disfungsi ginjal.
• Observasi adanya manifestasi sindrom nefrotik :
1) Penambahan berat badan
2) Edema
3) Wajah sembab :
 Khususnya di sekitar mata
 Timbul pada saat bangun pagi
 Berkurang di siang hari
4) Pembengkakan abdomen (asites)
5) Kesulitan pernafasan (efusi pleura)
6) Pembengkakan labial (scrotal)
7) Edema mukosa usus yang menyebabkan :
 Diare
 Anoreksia
 Absorbsi usus buruk Pucat kulit ekstrim (sering)
8) Peka rangsang
9) Mudah lelah
10) Letargi
11) Tekanan darah normal atau sedikit menurun
12) Kerentanan terhadap infeksi
13) Perubahan urin :
 Penurunan volume
 Gelap
 Berbau buah
• Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian, misalnya analisa urine akan adanya protein, silinder dan sel darah merah; analisa darah untuk protein serum (total, perbandingan albumin/globulin, kolesterol), jumlah darah merah, natrium serum.

b. Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas.
1. Kelebihan volume cairan (total tubuh) berhubungan dengan akumulasi cairan dalam jaringan dan ruang ketiga.
Tujuan : Pasien tidak menunjukkan bukti-bukti akumulasi cairan (pasien mendapatkan volume cairan yang tepat)
Intervensi :
• Kaji masukan yang relatif terhadap keluaran secara akurat.
Rasional : perlu untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan dan penurunan resiko kelebihan cairan.
• Timbang berat badan setiap hari (ataui lebih sering jika diindikasikan).
Rasional : mengkaji retensi cairan
• Kaji perubahan edema : ukur lingkar abdomen pada umbilicus serta pantau edema sekitar mata.
Rasional : untuk mengkaji ascites dan karena merupakan sisi umum edema
• Atur masukan cairan dengan cermat.
Rasional : agar tidak mendapatkan lebih dari jumlah yang dibutuhkan
• Pantau infus intra vena
Rasional : untuk mempertahankan masukan yang diresepkang
• Berikan kortikosteroid sesuai ketentuan.
• Rasional : untuk menurunkan ekskresi proteinuriah)
• Berikan diuretik bila diinstruksikan.
Rasional : untuk memberikan penghilangan sementara dari edema.
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan (intravaskuler) berhubungan dengan kehilangan protein dan cairan, edema
Tujuan : Klien tidak menunjukkan kehilangan cairan intravaskuler atau shock hipovolemik yang diyunjukkan pasien minimum atau tidak ada
Intervensi :
• Pantau tanda vital
Rasional : untuk mendeteksi bukti fisik penipisan cairan
• Kaji kualitas dan frekwensi nadi
Rasional : untuk tanda shock hipovolemik
• Ukur tekanan darah
Rasional : untuk mendeteksi shock hipovolemik
• Laporkan adanya penyimpangan dari normal
Rasional : agar pengobatan segera dapat dilakukan

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh yang menurun, kelebihan beban cairan cairan, kelebihan cairan.
Tujuan : Tidak menunjukkan adanya bukti infeksi
Intervensi:
• Lindungi anak dari kontak individu terinfeksi
Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
• Gunakan teknik mencuci tangan yang baik
Rasional : untuk memutus mata rantai penyebar5an infeksi
• Jaga agar anak tetap hangat dan kering
Rasional : karena kerentanan terhadap infeksi pernafasan
• Pantau suhu.
Rasional : indikasi awal adanya tanda infeksi
• Ajari orang tua tentang tanda dan gejala infeksi
Rasional : memberi pengetahuan dasar tentang tanda dan gejala infeksi
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema, penurunan pertahanan tubuh.
Tujuan : Kulit anak tidak menunjukkan adanya kerusakan integritas : kemerahan atau iritasi
Intervensi:
• Berikan perawatan kulit
Rasional : memberikan kenyamanan pada anak dan mencegah kerusakan kulit
• Hindari pakaian ketat
Rasional : dapat mengakibatkan area yang menonjol tertekan
• Bersihkan dan bedaki permukaan kulit beberapa kali sehari
Rasional : untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit karena gesekan dengan alat tenun
• Topang organ edema, seperti skrotum
Rasional : unjtuk menghilangkan aea tekanan
• Ubah posisi dengan sering ; pertahankan kesejajaran tubuh dengan baik
Rasional : karena anak dengan edema massif selalu letargis, mudah lelah dan diam saja
• Gunakan penghilang tekanan atau matras atau tempat tidur penurun tekanan sesuai kebutuhan
Rasional : untuk mencegah terjadinya ulkuse.

5. Perubahan nutrisi ; kurang dari kebtuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu makan
Tujuan : Pasien mendapatkan nutrisi yang optimal
Intervensi
• Beri diet yang bergizi
Rasional : membantu pemenuhan nutrisi anak dan meningkatkan daya tahan tubuh anak
• Batasi natrium selama edema dan trerapi kortikosteroid
Rasional : asupan natrium dapat memperberat edema usus yang menyebabkan hilangnya nafsu makan anak
• Beri lingkungan yang menyenangkan, bersih, dan rileks pada saat makan
Rasional : agar anak lebih mungkin untuk makan
• Beri makanan dalam porsi sedikit pada awalnya
Rasional : untuk merangsang nafsu makan anak
• Beri makanan spesial dan disukai anak
Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan
• Beri makanan dengan cara yang menarikRaional : untuk menrangsang nafsu makan anak

6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
Tujuan : Agar dapat mengespresikan perasaan dan masalah dengan mengikutin aktivitas yang sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
Intervensia :
• Gali masalah dan perasaan mengenai penampilan
Rasional : untuk memudahkan koping
• Tunjukkan aspek positif dari penampilan dan bukti penurunan edema
Rasional : meningkatkan harga diri klien dan mendorong penerimaan terhadap kondisinya
• Dorong sosialisasi dengan individu tanpa infeksi aktif
Rasional : agar anak tidak merasa sendirian dan terisolasi
• Beri umpan balik posisitf
Rasional : agar anak merasa diterima.

7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelelahan
Tujuan : Anak dapat melakukan aktifitas sesuai dengan kemampuan dan mendapatkan istirahat dan tidur yang adekuat
Intervensi :
• Pertahankan tirah baring awal bila terjadi edema hebat
Rasional : tirah baring yang sesuai gaya gravitasi dapat menurunkan edema
• Seimbangkan istirahat dan aktifitas bila ambulasi
Rasional : ambulasi menyebabkan kelelahan
• Rencanakan dan berikan aktivitas tenang
Rasional : aktivitas yang tenang mengurangi penggunaan energi yang dapat menyebabkan kelelahan
• Instruksikan istirahat bila anak mulai merasa lelah
Rasional : mengadekuatkan fase istirahat anak
• Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : anak dapat menikmati masa istirahatnya

8. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius
Tujuan : Pasien (keluarga) mendapat dukungan yang adekuat
Intervensi:
• Kenali masalah keluarga dan kebutuhan akan informasi, dukungan
Rasional : mengidentifikasi kebuutuhan yang dibutuhkan keluarga
• Kaji pemahaman keluarga tentang diagnosa dan rencana perawatan
Rasional : keluarga akan beradaptasi terhadap segala tindakan keperawatan yang dilakukan
• Tekankan dan jelaskan profesional kesehatan tentang kondisi anak, prosedur dan terapi yang dianjurkan, serta prognosanya
Rasional : agar keluarga juga mengetahui masalah kesehatan anaknya
• Gunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan pemahaman keluarga Keluarga tentang penyakit dan terapinya
Rasional : mengoptimalisasi pendidikan kesehatan terhadap
• Ulangi informasi sesering mungkin
Rasional : untuk memfasilitasi pemahaman
• Bantu keluarga mengintrepetasikan perilaku anak serta responnya
Rasional : keluarga dapat mengidentifikasi perilaku anak sebagai orang yang terdekat dengan anakg)Jangan tampak terburu-buru, bila waktunya tidak tepatRasional : mempermantap rencana yang telah disusun sebelumnya. (Donna L Wong,2004 : 550-552).

PROTEIN DAN ENERGI MALNUTRISI

A. KONSEP DASAR
1. Pendahuluan
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit), dibantu dengan pemeriksaan laboratorium (Ngastiyah, 1997).

2. Klasifikasi
Untuk kepentingan praktis di klinik maupun di lapangan klasifikasi MEP ditetapkan dengan patokan perbandingan berat badan terhadap umur anak sebagai berikut:
a. Berat badan 60-80% standar tanpa edema : gizi kurang (MEP ringan)
b. Berat badan 60-80% standar dengan edema : kwashiorkor (MEP berat)
c. Berat badan <60% style=""> : marasmus (MEP berat)
d. Berat badan <60% style=""> : marasmik kwashiorkor (MEP berat)
(Ngastiyah, 1997)
Kwashiorkor adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi protein. Penyakit kwashiorkor pada umumnya terjadi pada anak dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah karena tidak mampu menyediakan makanan yang cukup mengandung protein hewani seperti daging, telur, hati, susu dan sebagainya. Makanan sumber protein sebenarnya dapat dipenuhi dari protein nabati dalam kacang-kacangan tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua, anak dapat menderita defisiensi protein.
Marasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor.
3. Gambaran Klinik dan Diagnosis
Gambaran klinik antara Marasmus dan Kwashiorkor sebenarnya berbeda walaupun dapat terjadi bersama-sama (Ngastiyah, 1997)
a. Gambaran Klinik Kwashiorkor:
 Pertumbuhan terganggu (berat badan dan tinggi badan kurang dari standar)
Tabel 1: Perkiraan Berat Badan (Kg)
1. Lahir 3,25 :
• 3-12 bulan (bln + 9) / 2
• 1-6 tahun (thn x 2) + 8
• 6-12 tahun {(thn x 7) – 5} / 2
(Soetjiningsih, 1998, hal. 20)
Tabel 2: Perkiraan Tinggi Badan (Cm)
• 1 tahun 1,5 x TB lahir
• 4 tahun 2 x TB lahir
• 6 tahun 1,5 x TB 1 thn
• 13 tahun 3 x TB lahir
• Dewasa 3,5 x TB lahir = 2 x TB 2 thn
(Soetjiningsih, 1998, hal. 21)
 Perubahan mental (cengeng atau apatis)
 Pada sebagian besar anak ditemukan edema ringan sampai berat)
 Gejala gastrointestinal (anoreksia, diare)
 Gangguan pertumbuhan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)
 Kulit kering, bersisik, hiperpigmentasi dan sering ditemukan gambaran crazy pavement dermatosis.
 Pembesaran hati (kadang sampai batas setinggi pusat, teraba kenyal, licin dengan batas yang tegas)
 Anemia akibat gangguan eritropoesis.
 Pada pemeriksaan kimia darah ditemukan hipoalbuminemia dengan kadar globulin normal, kadar kolesterol serum rendah.
 Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, sering disertai tanda fibrosis, nekrosis dan infiltrasi sel mononukleus.
 Hasil autopsi pasien kwashiorkor yang berat menunjukkan terjadinya perubahan degeneratif pada semua organ (degenerasi otot jantung, atrofi fili usus, osteoporosis dan sebagainya).
b. Gambaran Klinik Marasmus:
 Pertumbuhan berkurang atau terhenti, otot-otot atrofi
 Perubahan mental (cengeng, sering terbangun tengah malam)
 Sering diare, warna hijau tua, terdiri dari lendir dengan sedikit tinja.
 Turgor kulit menurn, tampak keriput karena kehilangan jaringan lemak bawah kulit
 Pada keadaan marasmik yang berat, lemak pipi juga hilang sehingga wajah tampak lebih tua, tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol
 Vena superfisial tampak lebih jelas
 Perut membuncit dengan gambaran usus yang jelas.

B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA MARASMUS-KWASHIORKOR
1. Riwayat Keperawatan
a. Riwayat Keluhan Utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.


b. Riwayat Keperawatan Sekarang
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam waktu relatif lama).

c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
d. Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.

Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
• Penurunan ukuran antropometri
• Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)
• Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra
• Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot intercostal)
• Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi diare.
• Edema tungkai
• Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)
e. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karenaadanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun. Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah:
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.
b. Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat.
d. Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi trakheobronkhial.
e. Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
3. Rencana Keperawatan
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.
Tujuan : Klien akan menunjukkan pening-katan status gizi.
Kriteria:
Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang.
Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program dietetik.

Intervensi Rasional
1. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang, tunjukkan contoh jenis sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien
2. Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri.

3. Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.

4. Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi. 1. Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan selama hospitalisasi.

2. Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien.
3. Roborans meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yang menyertai keadaan malnutrisi.
4. Menilai perkembangan masalah klien.

b. Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
Tujuan : Klien akan menunjukkan keadaan hidrasi yang adekuat.
Kriteria:
Asupan cairan adekuat sesuai kebutuhan ditambah defisit yang terjadi.
Tidak ada tanda/gejala dehidrasi (tanda-tanda vital dalam batas normal, frekuensi defekasi ≤ 1 x/24 jam dengan konsistensi padat/semi padat).






Intervensi Rasional
1. Lakukan/observasi pemberian cairan per infus/sonde/oral sesuai program rehidrasi.
2. Jelaskan kepada keluarga tentang upaya rehidrasi dan partisipasi yang diharapkan dari keluarga dalam pemeliharan patensi pemberian infus/selang sonde.
3. Kaji perkembangan keadaan dehidarasi klien.
4. Hitung balans cairan. 1. Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan volume cairan.

2. Meningkatkan pemahaman keluarga tentang upaya rehidrasi dan peran keluarga dalam pelaksanaan terpi rehidrasi.


3. Menilai perkembangan masalah klien.

4. Penting untuk menetapkan program rehidrasi selanjutnya.
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat.
Tujuan : Klien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.
Kriteria:
Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai standar usia.
Perkembangan motorik, bahasa/ kognitif dan personal/sosial sesuai standar usia















Intervensi Rasional
1. Ajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas perkembangan sesuai usia anak.
2. Lakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet pemulihan.

3. Lakukan pengukuran antropo-metrik secara berkala.
4. Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien.
5. Lakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (Puskesmas/Posyandu) 1. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Diet khusus untuk pemulihan malnutrisi diprogramkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan toleransi sistem pencernaan.
3. Menilai perkembangan masalah klien.

4. Stimulasi diperlukan untuk mengejar keterlambatan perkembangan anak dalam aspek motorik, bahasa dan personal/sosial.
5. Mempertahankan kesinambungan program stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dengan memberdayakan sistem pendukung yang ada.
d. Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi trakheobronkhial.
Tujuan : Klien tidak mengalami aspirasi.
Kriteria:
Pemberian makan/minuman per sonde dapat dilakukan tanpa mengalami aspirasi.
Bunyi napas normal, ronchi tidak ada









Intervensi Rasional
1. Periksa dan pastikan letak selang sonde pada tempat yang semestinya secara berkala.
2. Periksa residu lambung setiap kali sebelum pemberian makan-an/minuman.
3. Tinggikan posisi kepala klien selama dan sampai 1 jam setelah pemberian makanan/minuman.
4. Ajarkan/demonstrasikan tatacara pelaksanaan pemberian makanan/ minuman per sonde, beri kesempatan keluarga melakukan-nya setelah memastikan keamanan klien/kemampuan keluarga.
5. Observasi tanda-tanda aspirasi. 1. Merupakan tindakan preventif, meminimalkan risiko aspirasi.

2. Penting untuk menilai tingkat kemampuan absorbsi saluran cerna dan waktu pemberian makanan/minuman yang tepat.
3. Mencegah refluks yang dapat menimbulkan aspirasi.

4. Melibatkan keluarga penting bagi tindak lanjut perawatan klien.




5. Menilai perkembangan masalah klien.

e. Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
Tujuan : Klien akan menunjukkan jalan napas yang efektif.
Kriteria:
Jalan napas bersih dari sekret, sesak napas tidak ada, pernapasan cuping hidung tidak ada, bunyi napas bersih, ronchi tidak ada

Intervensi Rasional
Lakukan fisioterapi dada dan suction secara berkala.
Lakukan pemberian obat mukolitik /ekspektorans sesuai program terapi.
Observasi irama, kedalaman dan bunyi napas. Fisioterapi dada meningkatkan pelepasan sekret. Suction diperlukan selama fase hipersekresi trakheobronkhial.
Mukolitik memecahkan ikatan mukus; ekspektorans mengencerkan m,ukus.
Menilai perkembangan maslah klien.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. Etiologi anemia: (1) Hemolisis (eritrosit mudah pecah); (2) Perdarahan; (3) Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker); (4) Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper. Tanda-tanda umum anemia: pucat, tacicardi, bising sistolik anorganik, bising karotis, pembesaran jantung. Penatalaksanaan untuk masing-masing jenis anemia: (1) Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja: (2) Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl. (3) Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat. Masalah keperawatan yang sering muncul: (1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen/zat nutrisi ke sel. (2) Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen. (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebuuhan tubuh berhubungan dengan kuranya selera makan. Tindakan keperawatan: (1) Perfusi jaringan adekuat; (2) Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas; (3) Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat.
Leukemia adalah suatu penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel-sel hematopoietik. Klasifikasi leukemia dibagi menjadi menjadi 2 kelompok besar, yang ditandai dengan ditemukannya sel darah putih matang yang menyolok – agranulosit (leukemia granuosit/mielositi) atau limfosit (limpfositik). Klasifikasi ini didasarkan pada morfologis diferensiasi sel dan pematangan sel-sel leukemia predominan di dalam sum-sum tulang dan sitokimiawi (Gralnick, 1977; Dabich, 1980, Price,1995). Kalsifikasi ini juga dapat dijadikan suatu gambaran varian dalam manifestasi klinik, prognosis dan pengobatannya. Pada anak yang sering ditemukan adalah leukemia limfositik akut (LLA). Jenis lain seperti leukemia mieloblasitik akut (LMA), leukemia limfositik kronik (LLK), leukemia mieloblasitik kronik (LMK), mielositik eritremik (ME), jarang ditemukan. ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate) rata-rata yang juga lebih rendah. Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak. Proses induksi remisi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan rumatan.
Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004: 550). Sebab pasti belum diketahui. Umunya dibagi menjadi; (1) Sindrom nefrotik bawaan; (2) Sindrom nefrotik sekunder (3) Sindrom nefrotik idiopatik (Arif Mansjoer, 2000:48). Komplikasi SN: (1) Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah akibat hipoalbuminemia; (2) Shock: terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock; (3) Trombosis vaskuler: mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma.d.Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal. (Rauf, 2002: 27-28).
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih merupakan masalah yang pelik. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit), dibantu dengan pemeriksaan laboratorium (Ngastiyah, 1997).Untuk kepentingan praktis di klinik maupun di lapangan klasifikasi MEP ditetapkan dengan patokan perbandingan berat badan terhadap umur anak sebagai berikut: (1) Berat badan 60-80% standar tanpa edema : gizi kurang (MEP ringan); (2) Berat badan 60-80% standar dengan edema : kwashiorkor (MEP berat); (3) Berat badan <60% style=""> : marasmus (MEP berat); (4) Berat badan <60% style=""> : marasmik kwashiorkor (MEP berat). (Ngastiyah, 1997).

B. SARAN
1. Dibutuhkan perbanyakan literature dalam penulisan makalah.
2. Bagi pustakawan yang lain, semoga makalah ini dapat dijadikan referensi dan masukan untuk memaksimalkan fungsi perpustakaan dilembaga masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Nursalam, Rekawati, Sri Utami, Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak, Jakarta, Medika, 2005
Robins, Dasar-dasar Patologi Penyakit, EBC, 2005
Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Jakarta, Medika, 2006
Abdoerrachman MH, dkk, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, Buku I, penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Anna Budi Keliat, SKp, MSc., 1994, Proses Keperawatan, EGC.
Marilynn E. Doenges, Mary Prances Moorhouse, Alice C. Beissler, 1993, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC.
.Rosa M Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, edisi 2, Jakarta
Sunar Trenggana, Dr. Leukemia ; Penuntun bagi orang tua Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FK UNHAS/SMF Anak RS DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Susan Martin Tucker, Mary M. Canabbio, Eleanor Yang Paquette, Majorie Fife Wells, 1998, Standar Perawatan Pasien, volume 4, EGC.
Soeparman, Sarwono Waspadji, 1998, Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Betz, Cecily L dan Sowden, Linda L. 2002.Keperawatan Pediatrik, Edisi 3,EGC : Jakarta
Mansjoer Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Media Aesculapius : Jakarta
Rauf , Syarifuddin, 2002, Catatan Kuliah Nefrologi Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FK UH : Makssar
Smeltzer, Suzanne C, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, Volume 2, EGC : Jakarta
Suriadi & Rita Yuliani, 2001, Asuhan Keperawatan Anak, Edisi 1, Fajar Interpratama : Jakarta
http://ns-nining.blogspot.com/2008/11/asuhan_keperawatan_anak_dengan_protein_dan
_energi_malnutrisi.html
Wong,L. Donna, 2004, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi 4, EGC : Jakarta
Diposkan oleh Ns. Abdul Haris Awie, S.Kep di 22:35