PENGKAJIAN FISIK DAN PERKEMBANGAN ANAK

PENDEKATAN UMUM DALAM MEMERIKSA ANAK
Urutan pemeriksaan
Biasanya mengikuti arah dari kepala sampai kaki (sistematik). Ini berfungsi untuk memberiakn pedoman umum dalam mengkaji setiap daerah tubuh untuk meminimalakn adanya bagian yang terewatkan dalam pemeriksaan.
Persiapan anak
Berikut pedoman umum melakukan pemeriksaan fisik pediatrik:
• Lakukan pemeriksaan di tempat yang tepat dan aman
• Siapkan pencahayaan dan dekorasi yang baik, suhu ruangan yang hangat dan nyaman
• Sediakan permainan anak, jauhkan benda-benda yang ditakuti anak
• Beri privasi, berikan kesempatan pada anak untuk mengenal lingkunganya
• Observasi prilaku anak (bicara dengan perawat, kontak mata, menerima peralatan, sentuhan fisik, kesediaan dipariksa)
• Gunakan teknik tertentu jika ada tanda ketidaksiapan pada anak atau menolak bekerjasama
• Kaji alasan prilaku penolakan tersebut
• Libatkan anak dan orangtua
• Gunakan pendekatan yang tepat, nyaman, efektif, lembut dan menenangkan bagi anak, mulai dengan cara yang nyaman
• Lakukan aktivitas yang dapat ditampilkan sperti permainan pada pemeriksaan ( teknik boneka kertas, simon says, gambaran tubuh)
• Jika ada beberapa anak, mulailah pemeriksan dari anak yang paling kooperatif
• Libatkan anak ( beri pilihan, izinkan mencoba peralatan, dukungan, dan jelaskan prosedur)
• Periksa anak dalam posisi yang nyaman, lakuakn dengan sistematis dan meyakinkan
• Diskusikan hasilnya dengan keluarga
• Puji anak atas kerjasamanya selama pemeriksaan
Namun, pendekatan yang digunakan bervariasi terhadap anak, sesuai kategori usiaagar didapatkan hasil pengkajian yang tepat sesuai umur anak.

PEMERIKSAAN FISIK
Pengukuran pertumbuhan(panjang,tinggi,berat badan,ketebalan lipatan kulit,lingkar lengan lingkar kepala)
Pegukuran pertumbuhan fisik pada anak elemen kunci dalam evaluasi status kesehatan anak.parameter pertumbuhan fisik meliputi: berat badan ,tinggi badan,ketebalan lipatan kulit,lingkar lengan dan lingkar kepala.nilai untuk perameter pertumbuhan ini telah digambarkan dalm grafik persentil,dan pegukuran anak dlam persentil dibandingkan dengan populasi secara umum.Evaluasi pertumbuhan secara keseluruhan memerl;ukan penilaian dalam interpretasi persentil pertumbuhan.secara umum anak yang tinggi dan berat badannya dibawah 3 atau diatas persentil 95 harus dipantau denagn tepat.
Anak yang mungkin mengalami masalh dalm pertumbuhan mencangkup:
1. Anak yang persentil berat badan dan tyinggi badan dangant berbeda(mis anak yang persentil 10 dan berat badan diatas 90,khususnya dengan ketebalan lipatan kulit yang berada di atas rata -rata)
2. Anak yang gagal menunjunkakan laju pertumbuhan,khususnya selama periode pertumbuhan cepat pada masa bayi dan pada masa remaja.
3. Anak yang menunjukkan peningkatan,kecuali selama pubertas atau penurunan tiba-tiba pada pola pertumbuhan yang stabil sebelumnya.
Panjang
Istilah panjang dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan ketika anak telentang ()juga dinyatakan sabagai panjang pada saat berbaring ).sampai anak berusia 24 bulan).dilakukan pengukuran panjang pada saat berbaring.ekstensikan tubuh bayi secara penuh dengan cara:
1. Pegang kepala bayi pada garis tengahnya
2. Pegang kedua lutut sengan lembut
3. Tekan lutut kebawah sampai kaki betul-betul ekstensi dan rata denagn meja
Agar pengukuran benar-benar akurat pegang alat tulis dengan sudut tegak lurus terhadap meja ketika menan dai titik safalik:posisikan kaki dengan jari-jari kaki mengarah kelangit-langit ketika menendai titik tumit.
Tinggi
Istilah tinggi dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan ketika anak berdiri tegak.tiggi diukur dengan cara meminta anak,melepas sepatu,berdiri setegak dan detinggi mungkin,dengan kepala pada garis tengah dan garis pandang sejajar dengan langit-langit atau lantai.pastikan pubggung nanak menempel pada dinding atau permukaan datar lain,deanan tumit,pantat dan bagian belakang bahu menyentuh dinding.agarmendapatkan pengukuran yang paling akurat gunakan stadiometer.
Berat Badan
Berat badan diukur dengan timbangn yang sesuai,yang mengukur barat badan yang sesuai,yang mengukur berat badan sampai nilai yang mendekat dengan 10 gr atau 15 gr atau bayi 100 gr atau
125 gr untuk anak –anak.timbangn berfariasi dalam hal keakuratannya:timbang bati cenderung lebih akurat dari timbangn orang dewasa dan timbangan baru cenderung lebih akurat dari pada timbangan lama,khususnya pada timbangn yang lebih berat.ketika diperlukan penimbangna yang benar-benar tepat,dua perawat harus melakukan penimbangan secara terpisah dan jika terdapat perbedaan,penimbangn ketiga harus dilakukan.lakukan penimbangn pada ruangan tang hangat dan sejuk.
Ketebalan Lipatan Kulit Dan Lingkar Lengan
Lingkar lengan adalah pegukuran tidak langsung terhadap masa otot.peangukuran berat badan dan tinggi badan cenderung tidak dapat membedakan antara jaringan adiposa atau otot.suatu pengukuran lemak maka pegukuran yang tepat dapat dilakukan dengan pegukuran etebalan lipatan kulit yang sudah semakin diharapkan sebagi pemeriksaan rutin.pegukuran lingkar lengan mengikuti proseder yang sama denga pengukuran ketebalan lipatan kulit kecuali pengukuran titik tengah sengan menggunakan sehelai kertas atau meteran logam.letakkan meteran secara vertikal,sepanjang bagian posterior lengan atas ke proseseus okromial dan ke prosesus olekranon:setengah dari panjang hasil pengukuran adalah titik tenghnya.
Lingkar Kepala
Ukur linkar kepala pada anak sampai berusia 36 bulan dan pada anak –anak yang mengalamai masalah pada ukuran kepalanya.karena bentuk kepala dapat mempengaruhi lokasi lingkaran yang maksimum,maka perlu melakukan pengukuran lebih dari satu kali pad titik di atas alis mata untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih akurat.gunakan selembar kertas untuk meteran logam karena meteran yang terbuat dari kain dapat meregang dan memberikan pengukuran yang salah.supaya hasil pengukuran benar-benar kaurat gunakan alat pengukur dengan skala yang lebih kecil 0,1 cm kerena grafik persentil hanya berskala 0,5 cm.
Pengukuran Fisiologis
Pegukuran fisiologis,elemen kunci dalam mengevaluasi status fisik fungsi vital,mencangkup suhu,nadi,pernafasan dan tekana darah.seperti sebagian besar prosedur yang digunakan pada anak,anak yang lebih besar dan remaja diperlukan hampir sama denan orang dewasa.untuk mendapatkan hasil terbaik dalam megukur tanda fital pada bayi,pertama hitung dulu pernafasanya,selanjutnya hitung denyut nadi dan terakhir ukur suhu.
Suhu
Suhu dapat di ukur pada beberapa tempat di tubuh melalui rute oral,rektal,aksila,kulit atau membran timpani.suhu normal tubuh adalah 37 C(96 F)melalui rute oral.secara tradisional telah diasumsikan bahwa suhu rektal lebih tinggi 1 F dan suhu aksila lebih rendah 1 F dibandingkan suhu oral.
Nadi
Nadi yang teraba lebih kuat dapat diukur secara radial pada bayi dan anak yang lebih kecil denyut apikal.agar keakuratan lebih tinggi ukur frekuensi denyut apikal ketika anak sedang tidur catat perilaku anak bersamaan dengan frekuensi jantung.
Pernafasan
Hitung frekuensi pernafasan dengan cara seperti pada pasien dewasa.walaupun demikian pada bayi obserfasi pergerakan abdomen karena pernafasan bayi terutama adalah pernafasan diagfragma.
Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah dengan metode yang nonivasif adalah bagian dari penentuan tanda vital.rutin alat ukur metode pengukuran TD yang paling umum menggunakan auskultasi dan sfingmomanometer air raksa atau aneroid.

PENGKAJIAN PENAMPILAN UMUM
Merupakan kesan subjektif dan kumulatif penampilan fisik anak, status nutrisi, prilaku, kepribadian, interaksi dengan orangtua dan perawat, postur tubuh dan perkembangan, serta kemampuan bicara.
• Perhatikan mimic tau ekspresi wajah dan penampilan
• Observasi postur, posisi, dan tipe pergerakan tubuh menandkan adanya kelainan fungsi mtubuh dan keadaan mental
• Perhatikan hygiene anak ( bau tubuh, rambut, leher, kuku, gigi, kaki dan pakaian)
• Perhatikan gambaran tubuh untuk menandakan nutrisi
• Amati prilaku anak ( aktivitas, stress, sikap, permintaan, interaksi dengan orang lain, respon terhadap stimulus dan tingkat kesadaran :
1. compos mentis : kesadaran penuh dengan memberikan respon cukup terhadap stimulus yang diberikan
2. apatis : acuh tak acuh terhadap keadaan skitar
3. somnolen : kesadaran yang lebih rendah, tidak responsive terhadap rangsangan ringan
4. sopor : anak tidak memberikan respon ringan maupun sedang
• perkembangan dikaji dengan observasi dan verifikasi kesan dengan tes skrining
• catat perkiraan kemampuan bicara anak, motorik, derajat koordinasidan area pencapaian terbaru dalam penampilan umum.

KULIT
• Warna normal pada anak berkulit putih bervariasi dari putih susu dan kemerahan sampai warna merah. Anak berkulit gelap, atau kulit hitam mewarisi berbagai warna cokelat, merah, kuning, hijau muda, dan kebiru-biruan.
• Tekstur kulit anak yang masih kecil sangat halus, agak halus, dan tidak berminyak atau lembap.
• Suhu, rasakan setiap bagian tubuh secara simetris dan bandingkan bagian tubuh atas dengan bawah. Catat adanya perbedaan suhu.
• Turgor jaringan/tingkat elastisitas kulit dengan cara menarik kulit abdomen antara telunjuk dan ibu jari, menariknya menjadi satu dan lepaskan dengan cepat. Jaringan yang elastic akan kembali normal dengan cepat. Pada anak dengan turgor kulit yang buruk, kulit akan tetap bertahan ketika ditarik selama beberapa detik sebelum kembali ke abdomen. Turgor kulit salah satu cara untuk memperkirakan hidrasi dan nutrisi yang adekuat.
Struktur Asesorius
Inspeksi dapat dilakukan ketika kulit sedang diperiksa atau ketika mengkaji kulit kepala dan ekstremitas.
• Inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, dan elastisitas rambut. rambut pada anak biasanya berkilau, halus, kuat, dan elastis. Faktor genetik mempengaruhi penampilan rambut, rambut kulit hitam lebih kasar dan keriting dari rambut kulit putih. Catat adanya titik-titik kebotakan atau penipisan rambut. hilangnya rambut pada bayi dapat mengindikasikan bahwa bayi tersebut selalu berbaring pada posisi yang sama.
Inspeksi rambut dan kulit kepala untuk mengetahui kebersihan secara umum. Periksa apakah ada lesi, kulit bersisik, adanya kutu atau tungau, tanda-tanda trauma seperti ekimosis, massa, atau jaringan parut.
Pada anak yang mendekati masa puneritas,perhatikan pertumbuhan rambut sekunder. Munculnya rambut yang terlalu cepat atau lambat menunjukkan adanya disfungsi hormonal ataupun masalah besar bagi remaja yang matang terlalu dini atau terlambat.
• Inspeksi warna, bentuk, tekstur, dan kualitas kuku. Normalnya kuku berwarna merah muda, konveks, halu, dan keras tetapi fleksibel (tidak mudah patah), ujungnya biasanya berwarna putih, harus meluas di atas jari.
• Setipa orang memiliki garis tangan dan kaki yang berbeda polanya atau dermatoglipik. Telapak tangan normalnya menunjukkan tiga buah lengkungan garis tangan. Pada sindrom Down, dua garis horizontal distal membentuk satu garis horizontal (garis telapak tangan tunggal /garis transpalmar).

KELENJAR LIMFE
Palpasi kelenjar dengan menggunakan bagian distal jari dan secara lembut namun tegas, tekan dengan gerakan melingkar sepanjang letak normal kelenjar tersebut. Selama pengkajian kepala dan leher, angkat kepala anak sediikit ke atas tetapi tanpa meregangkann otot sternokleidomastoideus atau trapezius. Posisi ini memfasilitasi palpasi nodi submental, submaksila, tonsil, dan servikal.
Palpasi nodi aksila dengan cara lengan relaks pada sisi tubuh tetapi agak abduksi . Kaji nodi inguinal pada anak dengan posisi telentang. Catat ukuran, mobilitas, suhu, dan nyeri tekan, juga laporan orang tua tentang adanya perubahan pembesaran kelenjar. Kelenjar yang normal kecil, tidak nyeri, dan hangat. Kelenjar yang terasa nyeri, membesar, dan dapat digerakkan menandakan adanya infeksi atau inflamasi ynag dekat dengan lokasi kelenjar.
KEPALA DAN LEHER
• Observasi bentuk dan simetris kepala secara umum. Tanda asimetris biasanya abnormal dan dapat mengindikasikan penutupan prematur sutura (kraniosinostosis).
• Catat kontrol kepala pada bayi dan postur kepala pada anak yang lebih besar.
• Evaluasi rentang gerak dengan meminta anak yang lebih besar untuk melihat ke setiap arah atau secara manual lakukan pada anak yang lebih kecil. Keterbatasan rentang gerak mengindikasikan adanya wryneck atau tortikolis akibat cedera otot sternokleidomastoideus.
• Palpasi tulang tengkorak untuk mengetahui kepatenan tulang sutura, ubun-ubun, fraktur, dan pembengkakan. Normalnya ubun-ubun belakang menutup pada bulan kedua dan ubun-ubun kecil menyatu antara usia 12-18 bulan. Catat jika penutupan terlalu cepat atau terlalu lambat.
• Observasi kesimetrisan, pergerakan dan penampilan umum wajah. Minta anak untuk mengeksresikan wajahnya untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan atau mengetahui derajat paralisis.
• Inspeksi ukuran leher dan palpasi leher untuk mengetahui struktur yang berhubungan. Normalnya, leher pendek de3ngan lipatan kulit antara kepala dan bahu selam masa bayi.

MATA
Inspeksi struktur ekterna
• Inspeksi penempatan kelopak yang tepat pada mata. Ketika mata terbuka, kelopak mata harus ada dekat iris. Ketika mata tertutup, kelopak mata harus menutupi kornea dan sklera. Tentukan lengkungan secara umum dari kelopak mata dengan cara menggambar garis imajiner melalui titik di kantus medial dan orbit luar mata dan segariskan setiap mata pada garis ini.
• Inspeksi konjungtiva, normalnya konjungtiva terlihat merah muda dan mengkilap. Striasi vertikal yang berwarna kuning di sepanjang tepinya disebut meibomian/kelenjar sebasea, dekat dengan folikel rambut.
• Catat adanya air mata yang berlebihan, keluaran, inflamasi pada organ lakrimal.
• konjungtiva bulbar, yang menutupi mata sampai bagian limbus atau taut kornea dan sklera harus transparan. Sklera harus jernih. Kornea harus jernih dan transparan. Catat kekeruhan karena dapat menjadi tanda perlukaan atau ulserasi yang dapat mengganggu penglihatan. Periksa kekeruhan dengan cara mengarahkan sinar dari sudut.
• Bandingkan ukuran, bentuk, dan pergerakan pupil. Kedua pupil harus berbentuk bundar, jernih, dazn sama. Uji reaksi pupil terhadap cahaya dengan menyinari mata secara cepat dan segera memindahkancahaya tersebut. Periksa resapon akomodasi dengan meminta anak melihat pada objek yang terang dan bersinar pada jarak tertentu dan dengan cepat gerakkan objek ke arah wajah. Normal pemeriksaan pupil, PERRLA, Pupil, Equal (sama), Round (bundar), React to light (reaksi terhadap cahaya), Accomadation (akomodasi).
• Inspeksi warna, ukuran, bentuk, dan kejernihan iris dan pupil. Amati lensa mata, normalnya lensa mata tidak dapat terlihat melalui pupil.
Inspeksi strutur interna
• Mempersiapkan anak. Tunjukkan instrumen pada anak, mendemonstrasikan sumber cahaya, dan bagaimana benda tersebut menyinari mata, dan jelaskan alasan ruangan harus gelap. Untuk bayi dan anak-anak yang masih kecil yang tidak berespons terhadap penjelasan tersebut, cara terbaik melakukan distrakksi untuk mendorong anak agar tetap membuka matanya. Inspeksi pembuluh darah, makula, atau diskus optik.
• Pemeriksaan funduskopi. Fundus segera tampak sebagai refleks merah. Intensitas warna meningkat pada individu yang memiliki pigmen kulit gelap.
- diskus optikus, normalnya, merah muda kekunig-kuningan, bundar, dan oval vertikal.
- Pembuluh darah, vena berwarna lebih gelap dan empat kali lebih besar dari arteri. Cabang arteri dan vena saling menyilang satu sama lain.
- Makula, memiliki reseptor penglihatan dengan konsentrasi paling besar, di pusat makula ada fovea sentralis, suatu titik yang memantulkan cahaya, merupakan area penglihatan yang paling sempurna.
Uji penglihatan
• Kesegarisan okular.
- Uji refleks cahaya, sorotkan cahaya dari oftalmoskop langsung ke arah mata pasien dai jarak sekitar 40,5 cm(16 inci). jika mata oftorik.normal, cahaya akan jatuh secara simetris pada setiap pupil. Jika cahaya tidak jatuh di pusat salah satu mata, berarti mata tidak segaris.
Lipatan epikantius, lipatan kulit berlebihan yang meluas dari bagian atas hidung ke ujung bagian dalam alis dan sebagian atau seluruhnya tumpang tindih dengan kantus mata bagian dalam, dapat menimbulkan kesan ketidaksegarisan palsu (pesudostrabismus).
- Uji tutup mata, salah satu mata ditutup, dan pergerakan mata yyang terbuka diobservasi ketika anak melihat suatu benda pada jarak dekat (33 cm/13 inci) atau jauh (6 m/20 kaki). Jika mata yang terbuka tidak bergerak, berarti mata segaris. Jika mata yang terbuka bergerak, terdapat ketidaksegarisan karena ketika mata yang lebih kuat ditutup sementara, mata yang tidak segaris akan memfokuskan objek tersebut.
- Uji buka tutup, penutup digerakkan ke depan dan ke belakang dari satu mata ke mata yang lain, dan pergerakan mata yang tertututp diobservasi segera setelah penututp dipindahkan ketika anak memfokuskan pada satu titik di depannya. Jika kesegarisan normal, perpindahan penutup dari satu mata ke mata lain tidak menyebabkan mata bergerak.
- Pada anak yang lebih tua, uji stereoskopi acak titik-E dapat digunakan untuk menguji stereoakuitas (persepsi kedalaman).
• Uji ketajaman penglihatan pada anak setelah masa bayi
- Snellen Chart, terdiri atas deretan huruf dengan ukuran yang semakin mengecil, anak berdiri 3 meter dari Snellen Chart dengan tumit pada garis 3 m. Mata kanan diperiksa terlebih dahulu.
- Uji E terbalik/HOTV, untuk anak yang tidak mampu membaca huruf atau angka
- Sistem skrining penglihatan untuk anak prasekolah, menggunakan E yang sudah dimodifikasi menyerupai burung dan cerita tentang Blackbird.
• Uji ketajaman penglihatan pada bayi dan anak yang sulit untuk diuji
Pada bayi barru lahir, penglihatan diuji terutama pada pemeriksaan persepsi cahaya dengan menyorotkan sinar ke arah mata dan mencatat respons seperti kontraksi pupil, berkedip, atau penolakan.
• Penglihatan perifer
Perkirakan pandangan perifer atau lappang pandang setiap mata dengan meminta anak untuk memusatkan pandangan pada satu titik tertentu secara langsung di depan mereka sebagai suatu objek, seperti tangan atau pensil, digerakkan dari luar lapang pandang ke dalalm rentang penglihatan perifer
• Penglihatan warna
Uji Ishihara dan uji Hardy-Rand-Rittler. Setiap uji terdiri dari seri kartu
(pseudoisokromatik) tempat terdapat lapang warna yang berisi titik-titik waerna tertentu yang membingungkan.
TELINGA
INSPEKSI STRUKTUR EKSTERNA
Keseluruhan daun telinga eksterna disebut pina atau aurikula dan terletak pada kedua kepala. Ukur kesegarisan tinggi pina dengan cara menggambar garis imajiner dari orbital luar mata ke oksiput, atau bagian yang paling menonjoil dari tulang tengkorak. Inspeksi permukaan kulit di sekitar telinga untuk mengetahui adanya lubang kecil, tonjolan tambahan kulit, atau sinus. Kaji juga hygiene telinga. Otoskop tidak diperlukan untuk melihat saluran telinga eksterna untuk mengetahui adanya serumen. Cegah perpindahan material yang potensial dapat menginfeksi telinga lain atau anak lain dengan cara mencuci tangan dan menggunakan speculum sekali pakai.
INSPEKSI STRUKTUR INTERNA
Posisi anak : sebelum memulai pemeriksaan otoskop, posisikan anak dengan tepat dan lakukan restrein jika diperlukan. Ketika anda memasukkan speculum ke dalam meatus, gerakan speculum di sekitar telinga bagian luar untuk membiasakan anak merasakan sesuatu yang memasuki telinganya. Untuk perlindungan dan keamanan, bayi dan toodler harus direstrein untuk pemerikssaan otoskop. Jika anak kooperatif, periksa telinga dengan anak dalam posisi tidur miring, duduk atau berdiri
Pemerisaan otoskop : ketika anak memasuki speculum ke dalam saluran eksterna, inspeksi didinding saluran, warna membrane timpani, reflek cahaya dan bentuk tonjolan tulang yang biasa pada telinga tengah.
UJI PENDENGARAN
Beberapa jenis uji pendengaran telah tersedia. Beberapa uji tersebut, seperti pemeriksaan audiometric, melibatkan alat khusus yang mengukur derajat hilangnhya pendengaran. Uji lainnya seperti reflek kejut pada neonates adalah estimasi kasar dari persepsi suara. Perawat harus melakukan pemeriksaan berdasarkan tingkat kecurigaan yang tinggi untuk anak yang dapat mengalami kehilangan pendengaran.

HIDUNG
INSPEKSI STRUKTUR EKSTERNA
Bandingkan penempatan dan kesegarisannya dengan cara menggambarkan garis vertical imajiner dari titik pusat di antara mata kebawah samapai pada bagian lengkung di bibir atas. Hidung harus terletak tepat secara vertika pada garis ini, dengan setiap sisi sama simetris. Catat lokasi hidung , adanya deviasi pada salh satu sisi dan asimetris pada ukurannya secara keseluruhan dan diameter dari nares. Observasi alae nasi apakah ada tanda-tanda pernafasan cuping hidung, yang menandakan kesulitan dalam bernafas.

MULUT DAN TENGGOROKAN
Pada anak yang kooperatif, hamper semua pemeriksaan mulut dan tenggorokan dapat dilakukan tanpa menggunakan spatel lidah. Minta anak membuka mulutnya lebar-lebar, menggerakan lidah kea rah yang berbeda untuk visualisasi penuh, dan mengatakan ahh yang dapat menekan lidah untuk melihat secara penuh bagian belakang mulut. Untuk melihat mukosa mulut minta anak menggunakan jarinya untuk menggerakan bibir dan pipi bagian luar ke salah satu sisi.
Lakukan pemeriksaan ini pada bagian akhir pemeriksaan fisik atau lakukan pemeriksaan ini selama anak menangis. Tempatkan spatel lidah disepanjang sisi lidah, bukan pada daerah tengah belakang yang dapat merangasang reflek muntah. Bibir harus simetris ketika relaks atau tegang. Kaji kesemetrisan pada saat anak bicara atau menangis.

DADA
Inspeks dada untuk mengetahui ukuran, bentuk, kesismetrisan, pergerakan, perkembangan payudara, dan adanya gamabaran tulang pada dada yang dibentuk oleh sternum dan tulang iga.
Rangka iga terdiri dari atas 12 tulang iga dan sternum, atau tulang payudara, yang terletak dibagian tengah dada. Sternum terdiri atas 3 bagian utama. Manubrium bagian teratas dari sternum dapat dirasakan pada bagian dasar leher pada takik suprasternal. Segmen yang paling besar pada sternum adalah korpusternum, yang membentuk sudut sterna (sudut Louis) ketika korpus sternum berartikulasi dengan manubrium. Pada bagian ujung korpus sternum, terdapat prosesus yang kecil dan dapat digerakan yang disebut xifoid. Sudut tepi kostae yang menempel pada sternum disebut sudut kostae dan normalnya sekitar 45 sampai 50 derajat. Struktur tulang ini merupakan kontur penting dalam lokasi kosta dan ruang interkostal.
Ruang interkostal adalah ruang diantara tulang iga. Ruang-ruang tersebut diberi nomor bedasarkan tulang iga yang tepat berada diatasnya. Sebagai contoh, ruang yang berada dibawah iga ke dua adalah ruang interkostal kedua.
Rongga toraks juga diberi kedalam beberapa segmen dengan cara menggambar garis imajiner pada dada dan punggung.
Ukur ukuran dada dengan cara menempatkan pita pengukur disekeliling rangka dada pada garis putting. Agar keakuratnya tinggi, lakukan dengan dua pengukuran, yang pertama selama inspirasi dan kedua selama ekspirasi, dan catat rentang kedua pengukuran tersebut. Ukuran dada sangat penting, terutama dalam membandingkanya denga lingkar kepala. Selalu laporkan disproporsi nyata karena hal ini sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan kepala yang abnormal, walaupun bias saja akibat dari perubahan bentuk dada, seprti barrel chest (bentuk dada bundar) atau pigeon chest ( sternum menonjol keluar).
Selama masa bayi, bentuk dada hamper sirkuler , dengan diameter anteroposterior (depan kebelakang) sama dengan diameter transversal, atau lateral (dari sisi ke sisi). Ketika anak tumbuh, dada secara normal meluas kea rah transversal, yang menyebabkan diameter anteroposterior lebih kecil daripada diameter lateral.. catat sudut yang dibuat oleh batas iga bagian bawah dan sternum, dan palpasi taut antara tulang iga dan kartilago kostae (costochondral junction) dan sternum, yang harus benar-benar terasa halus. Pergerakan dinding dada harus simetris bilateral dan terkoordinasi dengan pernafasan. Selama inspirasi dada terangkat dan mengembang, diafragma menurun, dan sudut kostae meningkat. Selam ekspirasi dada turun ukuranya mengecil, disfragma naik dan sudut kostae menyempit.
Ketika menginspeksi permukaan kulit dada, obsevasi posisi putting serta tanda-tand perkembangan payudara. Secara normal, putting susu terletak sedikit lateral dari garis midclavikula antara kosta keempat dan kelima. Perhatikan kesismetrisan posisi putting dan bentuk aerola yang berpigmentasi lebih gelap disekeliling putting yang datar pada anak prapubertas.
Perkembangan payudara pada prapubertas biasanyya dimulai antar usia 10 dan 14 tahun pada anak perempuan. Catat perkembangan payudara yang terlalu cepat(prekoks) atau terlalu lambat , juga tanda-tanda perkembangan karakeristik sekual sekunder yang lainya. Pada laki-laki, pembesaran payudara (ginekomastia) dapat disebabkan oleh jaringan adipose akibat obesitas atau perubahan tubuh sementara selama masa pubertas awal. Dalam kedua situasi ini, selidiki perasaan anak tentang pembesaran payudaranya.
Pada remaja perempuan yang telah mencapai kematangan seksual, palpasi payudara apakah ada masa atau nodula yang keras. Gunakan kesempatan ini untuk mendiskusikan pentingnya pemerikasaan payudara sendiri secara rutin. Tekankan bahwa sebagiaan besar massa yang dapat dipalpasi adalah jinak untuk menurunkan ras ketakutan atau kekhawatiran yang terjadi saat teraba massa.

PARU
Paru terletak dalam rongga toraks dengan satu paru pada setiap sisi sternum. Setiap paru terbagi menjadi satu apeks, yang agak meruncing dan agak tinggi dari iga pertama, basal paru, yang lebar dan cembung serta menempel pada diafragma yang berbentuk lengkungan setengah lingkaran, dan lobus paru yang dibagi kedalam lobus-lobus. Paru kanan terdiri atas tiga lobus atas, tengah, bawah. Paru kiri hanya memiliki dua lobus atas dan bawah, karena ruangnya disii oleh jantung.
Inspeksi paru terutama meliputi observasi pergerakan pernafasan, seperti yang dibahas sebelumnya. Evaluasi kecepatan (jumlah permenit), irama (teratur, tidak teratur atau periodic), kedalaman (dalam atau dangkal), dan kualitas pernapasan (tanpa usaha, otomatis, sulit atau dengan usaha). Perhatikan karakter bunyi nafas, seperti suara berisik, suara yang rendah dan kasar, mendengkur atau berat.
Evaluasi pergerakan pernapasan dengan meletakan kedua telapak tangan mendatar pada bagian punggung atau dada ke dua ibu jari berada pada garis tengah sepanjang pinggir iga bagian bawah paru. Anak harus duduk selama prosedur ini dan jika kooperatif, anak harus menarik nafas dalam beberapa kali. Selama pernapasan, tangan anda akan bergerak seiring dinding dada. Kaji jumlah dan kecepatan selama pernapasan dan perhatikan apakah ada ketidak simetrisan pergerakan.
Pemeriksa yang berpengalaman dapat melakukan perkusi pada paru. Paru anterior diperkusi dari bagian apeks ke basal paru, biasanya dengan anak pada posisi telentang atau posisi duduk. Setiap sisi dada diperkusi dengan urutan yang sesuai untuk membandingkan bunyinya. Ketika paru posterior diperkusi, prosedur dan urutanya sama, walaupun anak harus duduk. Resonansi terdengar pada semua lobus paru yang tidak berada dekat organ lain. Adanya deviasi suara dicatat dan dilaporkan.
Auskultasi
Auskultasi melibatkan penggunaan stetoskop untuk mengevaluasi suara nafas. Suara napas paling baik di dengar jika anak menarik napasa dalam. Pada paru, suara napas diklasifikasikan sebagai vesikuler, bronkovesikuler, atau bronchial.
Tidak ada atau menghilangnya suara napas selalu merupakan temuan abnormal yang memerlukan penyelidikan. Cairan, udara, atau massa padat pada rongga pleural dapat mengganggu konduksi suara napas. Hilangnya suara napas pada beberapa segmen paru dapat mewaspadakan perawat tentang area-area paru yang dapat dilakukan fisioterapi dada. Penigkatan suara napas setelah terapi pulmonal menandakan peningkatan aliran udara melalui traktus respiratorius.
Berbagai abnormalitas pulmonal menghasilkan suara napas tambahan yang normalnya terdengar pada dada. Suara ini dapat terjadi selain suara napas normal atau abnormal. Suara napas tambahan diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar yaitu : ronki basah, yang diakibatkan oleh aliran udara melalui cairan atau bagian yang lembab, dan mengi, yang dihasilkan dari aliran udara melalui jalan napas yang menyempit, tanpa memerhatikan penyebabnya, seperti eksudat, inflamasi, spasme, atau tumor. Praktik yang banyak yang didampingi oleh tutor yang berpengalaman diperlukan untuk membedakan berbagai tipe suara napas. Selalu laporkan jika ada suara abnormal untuk evaluasi medis lebih lanjut.

JANTUNG
Jantung terletak dalam rongga toraks diantara paru dada mediastinum dan diatas diafragma. Sekitar dua pertiga bagian jantung terletak di dalam sisi kiri rongga dada, dengan satu pertiga bagian pada bagian kanan melewati sternum. Jantung diposisikan dalam toraks seperti trapezium.
a. Secara vertical sepanjang batas sternum kanan dari iga kedua sampai kelima
b. Secara horizontal (sisi panjang) dari sternum kanan bagian bawah dari iga ke lima pada garis midklavikula kiri
c. Secara diagonal dari batas sterna kiri pada iga kedua sampai LMCL pada iga kelima
d. Secara horizontal (sisi pendek) dari RSB dan LSB pada ruang intercostals ke dua bagian basal jantung

Inspeksi paling baik dilakukan pada anak yang duduk dalam posisi semi fowler. Perhatikan dinding dada anterior dari suatu sudut, bandingkan kedua sisi rangka dada satu sama lain.. secara normal, keduanya harus tampak simetris. Lakukan palpasi untuk menetukan lokasi impuls apical, impuls jantung paling lateral yang dapat berhubungan dengan apeks. Al ditemukan :
a. Tepat pada bagian lateral pada MCL kiri dan ICS ke empat pada anak berusia ,<7tahun
b. Pada MCL kiri dan ICS ke lima pada anak >7 tahun
Auskultasi
Asal bunyi jantung dihasilkan dari pembukaan dan penutupan katup dan vibrasi darah pada dinding jantung dan pembuluh darah. Normalnya, dua bunyi S1 dan S2 dapat terdengar, yang secara berurutan berhubungan denga suara “lub dub” yang sering digunakan untuk menggambarkan bunyi tersebut. S1 disebabkan penutupan katub trikuspidalis dan katup mitral (kadang-kadang disebut katub antrioventikuler). S2 adalah hasil pentupan katup pulmonal dan katup aorta (kadang-kadang disebut katup semilunaris). Normalnya pembagian dua suara dalam s2 dapat dibedakan dan diperlebar selam inspirasi.
Pembagian fisiologis adalah hasil temuan normal yang signifikan.
Membedakan bunyi jantung normal
Secar normal s1 lebih kuat terdengar dibagian apeks jantung pada area mitral dan trikuspidalis, dan s2 lebih kuat terdengar dekat dengan bagian basis jantung pada area pulmonal dan aorta. Dengarkan setiap bunyi pada setiao inci kea rah bawah pada dada. Area-area berikut ini juga harus diauskultasi apakah ada bunyi seperti murmur, yang dapat menyebar pada daerah ini : area sternoklavikula di atas klavikula dan manubrium, area sepanjang batas sternum, area sepanjang garis midaksilaris dan area dibawah scapula.
Auskultasi jantung anak minimal pada dua posisi, duduk dan setengah duduk. Evaluasi bunyi jantung terkait dengan kualitas, intensitas, frekuensi dan irama.

PENGKAJIAN PADA ABDOMEN
Pemeriksaan abdomen meliputi inpspeksi, diikuti dengan auskultasi, kemudian palpasi. Lakukan palpasi terakhir, karena hal tersebut dapt mengganggu bunyi normal abdomen.
Rongga abdomen terbagi atas 4 kuadran dengan cara menggambar garis vertical pada bagian tengah dari sternum sampai simfisis pubis dan garis horinzotal melalui abdomen ke umbilicus. Setiap daerah dinamai sebagai berikut:
• Kuadran kiri atas ( Left upper quadrant/LUP)
• Kuadran kiri bawah (Left lower quadran /LLQ)
• Kuadran kanan atas (Right upper quadran (RUP)
• Kuadran kiri bawah ( Right Lower quadran /RLQ)
1. Inpeksi
Inspeksi konter abdomen dengan anak pada posisi tegak dengan telentang. Normalnya, abdomen bayi dan anak yang masih kecil cukup silindris dan dalam posisi tegak, agak menonjol karena lordosis fisiologis spinal. Tonjolan pada garis tengah dari xifoid ke umbilicus atau simfisimpubis biasanya adalahDiastasis Rekti, atau kegagalan muskulus rektus obdominalis untuk bersatu dalam uterus.
2. Auskultasi
Temuan yang paling penting untuk didengarkan adalah peristaltis atau bising usus yang bunyinya seperti logam pendek beradu dan seperti orang berkumur. Frekuensi bising usus 5 kali/menit. Bising usung dapat distimulasi dengan cara menggetarkan permukaan abdomen dengan kuku jari tangan.
3. Palpasi
Dua tipe palpasi dilakukan: Supersisial dan dalam. Pada palpasi superficial , dengan lembut tempatkan tangan pada kulit dan rasakan setiap kuadran, perhatikan adanya area yang terasa nyeri, tonus otot, dan lesi superficial, seperti kista.
Palpasi dalam digunakan untuk melakukan palpasi organ dan pembeluh darah besar dan mendeteksi massa serta nyeri tekan yang tidak dapat ditemukan selama palpasi superficial.Palpasi biasanya dimulai pada kuadran bawah dan terus keatas untuk menghindari tidak terpalpasinya bagian tepi hati, atau lipa yang membesar.

GENITALIA
1. Genitalia Pria
Catat penampilan eksterna glans dan dan bagian penis, perpisium, meatus uretra, dan skrotum. Penis umumnya kecil pada bayi dan anak laki-laki sampai masa puberitas, .
Periksa glans penis dan batang penis ( Bagian antara perineum dan prepusium) apakah ada tanda-tanda pembengkakan, lesi kulit, inflamasi, atau ketidakteraturan lainnya.
Lokasi Meatus uretra diinpeksi secara hati-hati dan apakah ada tanda-tanda keluaran. Normalnya meatus uretra terletak pada bagian tengah glans penis.
Distribusi rambut juga harus diperhatikan. Normalnya, sebelum puberitas tidak ada rambutr pubis yang tumbuh.
Lokasi dan ukuran skrotum juga diperhatikan. Skrota menggantung secara bebas dari perineum dibelakang penis, dan skrotum kiri normalnya tergantung lebih rendah daripada yang kanan.
2. Genitalia Perempuan
Pemeriksaan genitalia perempuan terbatas pada inspeksi dan palpasi struktur eksterna. Jika pemeriksaan vagina diperlukan, rujukan yan tepat harus dibuat kecuali jika perawat memiliki kualitas untuk melakukan prosedur tersebut.
• Genitalia eksterna: inspeksi struktur, tempatkan anak pada posisi setengah bersandar pada orang tua dengan lutut fleksi dan telapak kaki saling bersebelahan
 Mons pubis: bantalan lemak diatas simpisis pubis, pada remaja tertutup rambut, distribusi rambut biasanya adalah triangular
 Klitoris: terletak pada ujung anterior labia minora tertutup oleh lipatan kecil kulit (prepusium).
• Labia: palpasi adanya massa
 Labia mayora: dua lipatan tebal kulit membentuk mons pada komisura posterior, permukaan dalam merah muda dan lembab
 Labia minora: dua lipatan kulit interior pada labia mayora, biasanya dapat dilihat sampai pubertas, menonjol apda bayi baru lahir.S
• Metus uretra: inspeksi terhadap lokasi, seperti bentuk V dengan meregangkan kearah bawah dari litoris ke perineum
• Orifisium vaginalis: pemeriksaan interna biasanya tidak dilakukan, inspeksi terhadap lubang sebelumnya. Terletak apada posterior meatus uretra, dapat tertutup oleh memran berbentuk sabit atau sirkuler (himen), rabas biasanya jernih atau sirkuler.
ANUS
• Inspeksi penampilan umum, kondisi kulit
• Bokong: lipatan padat, lipatan gluteal simetris
• Reflek anal: munculkan dengan mengerutkan atau meregangkan area perianal dengan perlahan. Kontraksi cepat sfingter anal eksterna, tidak ada protusi rekstum.
Pengkajian Punggung dan Ekstremitas
Spina
Kelengkungan umum spina diperhatikan. Normalnya bagian punggung bayi baru lahir adalah bulat atau berbentuk huruf C dari lengkung toraks dan pelvik. Perkembangan kurvatura servikal dan lumbal memperkirakan perkembangan dari motorik, seperti kurvatura servikal dengan kontrol kepala, dan menciptakan bentuk lengkungan S ganda yang khas pada anak yang lebih tua. Skoliosis, kurvatura lateral spinal, merupakan masalah penting pada masa kanak-kanak, terutama pada anak perempuan. Walaupun skoliosis dapat diidentifikasi dengan mengobeservasi dan mempalpasi spinal serta memperhatikan pergeseran kearah samping, uji yang lebih objektif meliputi :
1. dengan anak pada posisi berdiri tegak dan hanya mengenakan pakaian dalam. Observasi dari belakang, perhatikan ketidaksimtrisan bahu dna pinggul.
2. dengan anak membungkuk kedepan sehingga punggung paralel dengan lantai, observasi dari samping, perhatikan adanya ketidaksimetrisan atau tonjolan rangka iga.
Berjalan sedikit pincang, bagian bawah lipatan rok/celana panjang miring, atau keluhan sakit punggung merupakan tanda dan gejala lain dari skoliosis.
Inspeksi bagian punggung, terutama sepanjang spina apakah ada kumpulan rambut, tahi lalat, atau pemucatan. Mobilitas kolumna vertebralis dapat dengan mudah dikaji pada sebagian besar anak karena mereka cenderung melakukan gerakan yang konstan selama pemriksaan.
Ekstremitas
Inspeksi kesimetrisan panjang dan ukuran masing-masing ekstremitas; rujuk setiap deviasi untuk evaluasi ortopedik. Hitung jumlah jari tangan dan kaki untuk memastikan jumlahnya normal. Adanya jari tambahan (polidaktili) atau fusi jari (sindaktili).
Inspeksi suhu dan warna lengan dan kaki, yang harus sama pada setiap ekstremitas, walaupun kaki normalnya lebih dingin dari pada tangan. Kaji bentuk tulang. Beberapa variasi bentuk tulang dapat diobservasi pada anak.
Bowleg/Genu Varum, adalah melengkungnya tibia kearah lateral. Hal ini dapat dilihat ketika anak berdiri dengan posisi maleoli medial (tonjolan bundar pada kedua sisi pergelangan kaki) berlawanan satu sama lain dan jarak diantara lutut lebih besar kira-kira 5cm.
Knock–knee atau Genu Valgum, tampak berlawanan dengan bowleg. Pada genu valgum lutut saling mendekat satu sama lain tapi tidak terpisah jauh. Hal ini ditentukan secara klinis dengan menggunakan metode yang sama dengan genu varum tetapi dengan mengukur jarak diantara maleolus, yang normalnya kurang dari 7,5cm. Knock-knee normalnya terjadi pada anak sekitar usia 2 sampai 7 tahun.
Selanjutnya inspeksi kaki. Kaki bayi dan toodler tampak datar karena kaki normalnya lebar dan lengkungannya ditutupi oleh lapisan lemak.
Observasi refleks plantar atau menggenggam dengan memberikan tekanan kuat tapi perlahan-lahan dengan ujung ibu ibu jari pada bagian lateral telapak kaki bayi dari tumit sampai kelingking kemudian ke ibu jari kaki. Respon normal pada anak yang berjalan adalah fleksi jari-jari kaki. Tanda Babinski, dorsofleksi ibu jari dan pengembangan jari-jari yang lain seperti kipas, merupakan hal yang normal terjadi selam masa bayi tetapi abnormal setelah usia 1 tahun atau ketika lokomotorik dimulai.
Sendi
Evaluasi sendi untuk mengetahui rentang geraknya. Normalnya hal ini tidak menuntut pemerikasaan fisik jika perawat telah mengobservasi pergerakan anak selama pemeriksaan. Palpasi sendi apah ada rasa panas, nyeri tekan, dan pembengkakan. Tanda-tandanya selalu kemerahan.
Otot
Perhatikan kesimetrisan dan kualitas perkembangan otot, tonus, dan kekuatan otot. Observasi perkembangan dengan cara melihat bentuk dan kontur tubuh baik dalam kondisi relaksasi maupun kondisi tegang. Perkirakan tonus dengan menggenggam otot dan merasakan kekuatanya ketika otot relaksasi dan konstraksi. Lokasi yang umum untuk memeriksa tonus otot adalah otot bisep lengan. Anak biasanya bersedia untuk menunjukan ototnya dengan cara mengepalkan tangannya.
Perkirakan kekuatan dengan cara meminta anak menggunakan ekstremitas untuk mendorong atau menarik suatu tahanan.
Pengkajian Neurologis
Fungsi Serebral
Sereblum mengontrol keseimbangan dan koordinasi. Banyak pengkajian fungsi serebral digunakan dalam mengobservasi postur anak, pergerakan tubuh, gaya berjalan dan perkembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
Uji fungsi serebral :
1. uji jari kehidung
Dengan lengan anak terbuka lebar, minta anak untuk menyentuh hidungnya dengan menggunakan jari telunjuk dengan mata terbuka kemudian tertutup.
2. uji tumit ke tulang kering
sambil berdiri minta anak untuk menggerakkan tumit salah satu kaki kearah bawah tulang kering atau bagian anterior tibia tungkai lainnya baik dengan mata terbuka kemudian tertutup, minta anak berdiri.
3. uji romberg
dengan mata tertutup minta anak berdiri dengan tumit menempel satu sama lain, jatuh atau miring ke salah satu sisi adalh abnormal dan disebut tanda romberg.
Uji koordinasi dengan meminta anak untuk meraih suatu mainan, kencing baju, tali sepatu atau menggambar garis lurus pada selembar kertas.
Refleks
Pengujian refleks adalah bagian penting dari pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan refleks dilakukan dengan menggunakan palu refleks berkepala karet, bagian datar jari, atau samping tangan. Jika anak mudah takut dengan peralatan, gunakan tangan atau jari anda.
Refleks tendon dalam merupakan refleks peregangan dari suatu otot. Refleks tendon yang paling umum adalah hentakan lutut atau refleks patela (refleks quadrisep).
Saraf kranial
Pengkajian saraf kranial merupakan area pengkajian neurologis penting.


Pengkajian Perkembangan Denver II
Kuesioner Perkembangan Praskrining Denver II (Denver II Prescreening Developmental Questionare {PDQ-II})
PDQ-II adalah revisi lebih lanjut dari PDQ dan R-PDQ. Versi ini menggunakan standar-standar (persentil ke-90 dan ke-75) dari DENVER II. PDQ-II adalah jawaban praskrining orang tua yang terdiri atas 91 pertanyaan dari DENVER-II, walaupun hanya satu bagian pertanyaan yang ditanyakan untuk setiap kelompok usia. Formulir tersebut mungkin perlu dibaca orang tua atau pemberi perawatan yang kurang berpendidikan.
Empat usia berbeda tersedia dan diseleksi berdasarkan usia : jingga (0 sampai 9 bulan), ungu (9 sampai 24 bulan), krem(2 sampai 4 tahun), putih (4 sampai 6 tahun). Jawaban pertanyaan pemberi perawatan sampai (1) tiga kali ‘tidak’ dilingkari (tidak perlu berurutan) atau (2) semua pertanyaan pada semua sisi formulir telah di jawab. Pemberian skor berdasarkan jumlah keterlambatan atau peringatan.
Skoring DDST II
Interpretasi skor DDST II
Lanjut—Butir secara keseluruhan dilewati pada sebelah kanan dari garis usia ( dilewati oleh kurang dari 25% anak pada usia yang lebih tua daripada usia anak ).
OK—Butir yang dilewati, gagal, atau menolak bersilangan dengan garis usia pada atau diantara persentil ke-75
Peringatan—Butir yang gagal atau ditolak bersilangan dengan garis usia pada atau diantara persentil ke-75 dan ke 90.
Terlambat—Butir secara keseluruhan gagal, dilewati pada sebelah kiri garis usia juga dapat dianggap, terlambat, karena alasan menolak mungkin akibat ketidakmampuan melakukan tugas.
Interpretasi Uji
Normal—tidak ada keterlambatan dan maksimal hanya ada satu peringatan
Dicurigai—Satu atau lebih keterlambatan dan/atau dua atau lebih peringatan
Tidak dapat diuji—Menolak satu atau lebih butir seluruhnya pada sebelah kiri garis usia atau lebih dari satu butir yang bersilangan dengan garis usia pada area 75% sampai 90%.
Rekomendasi Perujukan pada Uji yang Mencurigakan atau yang Tidak Dapat Diuji
Lakukan uji ulang 1 sampai 2 minggu untuk menyingkirkan factor-faktor sementara.
Jika hasil skrining ulang tetap mencurigakan atau tidak dapat diuji, gunakan penilaian klinis berdasarkan hal-hal berikut ini jumlah peringatan dan keterlambatan; butir mana yang menjadi peringatan dan keterlambatan; tingkat perkembangan masa lalu, pemerikasaan klinis dan riwayat, ketersedian sumber-sumber rujukan.
Skrining Perkembangan dan Interpretasi
Walaupun uji skrining merupakan metode yang efektif dalam menerapkan pengetahuan tentang laju perkembangan yang diharapkan dari anak untuk segmen populasi yang luas, uji tersebut hanya akan berhasil jika diberikan oleh individu yang berpengalaman dalam memberikannya. Karena banyak uji skrining merupakan alat yang dibuat untuk digunakan oleh tenaga terlatih bantuan, terdapat resiko yang terkadang dalam skrining jika individu-individu tersebut tidak terlatih atau tidak diawasi secara tepat.
Perawat yang memberikan skrining perkembangan atau mengawasi pemeriksaan oleh tenaga terlatih bantuan, perlu mengkaji gambaran keseluruhan anak dan tidak hanya mengandalkan prosedur skrining. Perkembangan seperti halnya pertumbuhan dan kesehatan, adalah suatu proses dinamis. Tes Denver II sebaiknya digunakan sebagai bagian dari Surveilans Perkembangan, suatu pendekatan perawatan kesehatan primer yang komperhensif dan terus menerus yang melibatkan orang tua sebagai mitra para profesional (Frankenburg, 1994b). Evaluasi kesejahteraan total anak adalah hasil evaluasi data riwayat kesehatan dan keluarga yang komperhensif, pemeriksaan fisik, dan skrining perkembangan.

0 Response to "PENGKAJIAN FISIK DAN PERKEMBANGAN ANAK"

Poskan Komentar